Ustadz Yasir Qadhi tentang Teori Evolusi dan Kisah Adam: Sepuluh Poin yang Perlu Dipahami

Ustadz Yasir Qadhi membuka kuliah ini sebagai bagian penutup dari seri panjang tentang Nabi Adam Alaihissalam. Beliau mengaku, sengaja menunda topik ini sejak awal seri, karena menurut pengakuan beliau, inilah salah satu topik yang paling sulit dan paling pelik di zaman sekarang. Pertanyaannya jelas: apa yang harus dilakukan umat Islam, dalam terang kisah Adam, ketika berhadapan dengan konsensus yang nyaris bulat di komunitas sains, bahwa manusia berevolusi dari bentuk kehidupan sebelumnya selama jutaan tahun.

Sebelum masuk ke sepuluh poin, beliau membuat satu pernyataan pembuka yang ditegaskan berulang. Ustadz tidak ingin pernyataannya dipotong sepuluh detik dan dijadikan drama media sosial. Beliau menegaskan: dirinya seorang yang beriman kepada Al-Qur’an, percaya pada keberadaan Adam, dan percaya pada seluruh kisah Al-Qur’an tentang Adam Alaihissalam beserta istrinya, Hawa, sebagai leluhur seluruh spesies manusia. Itu adalah catatan pembuka beliau.

Poin Pertama: Jangan Mendiskreditkan Apa yang Belum Dipelajari

Ustadz Yasir mengatakan, banyak Muslim yang menolak evolusi tanpa pernah mempelajarinya. Menurut beliau, siapa pun yang sudah mempelajari biologi evolusioner dan memahami tesis, premis, serta buktinya, dari dalam paradigma sains itu sendiri, tidak akan pernah menolaknya secara simplistis sebagaimana yang dilakukan banyak orang yang tidak pernah belajar.

Beliau mengutip Al-Qur’an:

“وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ”

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Isra’: 36)

Kalau seorang Muslim tidak punya pengetahuan tentang suatu disiplin, ujar Ustadz, lebih baik diam dan katakan saja: “Saya tidak tahu, Allah Maha Tahu.” Jangan menjadi orang yang langsung melambaikan tangan dan berkata, “Ah, ini cuma teori konspirasi.” Sikap seperti itu, kata beliau, justru memperumit masalah. Beliau mengingatkan, banyak orang yang ragu, bahkan meninggalkan iman, karena mereka tidak bisa mendamaikan apa yang mereka anggap sebagai sains dengan apa yang dikatakan Al-Qur’an. Ketika para ustaz atau Muslim saleh menolak kekhawatiran ini tanpa pernah belajar, hal itu hanya menambah masalah.

Beliau kemudian menyebut bukti-bukti yang biasa diajukan komunitas sains untuk teori evolusi: anatomi yang menunjukkan spesies-spesies berbagi ciri-ciri fisik yang sangat mirip (disebut homologous), bukti dari biologi molekuler dan DNA yang mencerminkan leluhur bersama, bukti dari biogeografi (pemetaan distribusi geografis berbagai tanaman dan hewan, terutama di pulau-pulau terpencil yang menunjukkan spesies divergen), bukti dari fosil hewan-hewan yang sudah tidak ada lagi, dan terutama mikroevolusi yang dapat diamati langsung pada organisme berumur pendek seperti amoeba, lalat, atau nyamuk. Bahkan, kata beliau, peternak kuda dan peternak anjing pun sebenarnya mengamati ini ketika ras-ras baru bermunculan setiap beberapa tahun.

Yang belum diamati adalah makroevolusi, yaitu transisi satu hewan menjadi spesies lain selama ribuan keturunan. Alasannya sederhana: proses itu terlalu lama untuk diamati dalam satu masa hidup. Akan tetapi para ilmuwan berargumen, jika mikroevolusi yang diamati sekarang diekstrapolasi ke ribuan generasi, itulah pada hakikatnya makroevolusi.

Beliau juga meluruskan miskonsepsi yang sangat umum. Banyak saudara Muslim kita yang ketika ditanya apa itu evolusi, akan menjawab dengan definisi yang bahkan tidak setara dengan tingkat SMA, yaitu bahwa manusia berasal dari simpanse atau kera. Ustadz menegaskan: tidak ada ilmuwan yang mengatakan hal itu. Kita bukan keturunan kera, bahkan menurut teori evolusi pun. Evolusi adalah penurunan suatu spesies disertai modifikasi genetik dari generasi ke generasi.

Maka kesimpulan poin pertama, dan beliau mengulanginya dengan penuh kehati-hatian: teori evolusi secara keseluruhan adalah sains yang baik untuk paradigmanya sendiri. Itu upaya yang adil untuk memahami realitas berdasarkan metode ilmiah. Ini bukan berarti teorinya benar, bukan berarti semua tentangnya valid, bukan berarti tidak bisa ditantang, bukan berarti menjelaskan segalanya. Yang dimaksud beliau adalah: ini adalah teori yang valid berdasarkan premis sains, dan tidak boleh ditolak dengan lambaian tangan begitu saja.

Poin Kedua: Ulama Bukan Ilmuwan

Sebagian orang menunggu beliau memberikan alternatif untuk teori evolusi. Ustadz Yasir segera menolak peran itu. Ulama bukan ilmuwan, ujarnya. Penceramah dan pengajar agama tidak seharusnya memberi tahu para insinyur, dokter, dan biolog evolusioner apa yang harus mereka teliti dan ajarkan. Beliau mengajak belajar dari kesalahan Gereja Katolik yang dulu menganggap dirinya bisa mendiktekan kepada para ilmuwan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Sebaliknya, ilmuwan juga tidak seharusnya memberi tahu beliau apa yang harus dipercayai dari Al-Qur’an dan Sunnah. Tugas Ustadz adalah menjelaskan Al-Qur’an, teologi, dan teks-teks Islam kepada para ilmuwan Muslim. Sesudah itu, terserah ilmuwan Muslim untuk melakukan penelitian mereka sendiri. Sains punya aturannya, teologi punya aturannya, tafsir punya aturannya, hadis punya aturannya.

Poin Ketiga: Tugas Ulama adalah Menggambar Garis Merah

Kalau beliau bicara tentang Al-Qur’an dan teologi, tugas beliau adalah memberi tahu biolog Muslim dan Muslim di seluruh dunia, apa yang dikatakan Al-Qur’an dan apa yang tidak dikatakannya. Lalu menarik garis-garis merah yang tidak boleh dilewati. Bukan tugas beliau mengajukan alternatif teori evolusi.

Ustadz juga jujur mengaku, beliau pribadi tidak memiliki, bahkan dalam pikiran sendiri, alternatif untuk teori evolusi, karena itu bukan bidangnya. Beliau lebih tertarik pada teologi klasik, sirah, sejarah, dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Bagi beliau pribadi, isu ini bukan sesuatu yang mengganggu imannya sama sekali. Akan tetapi, beliau memahami bahwa sebagian Muslim memang menganggap ini sebagai masalah, dan mereka sedang berjuang menemukan apa yang harus mereka katakan.

Poin Keempat: Al-Qur’an Sangat Jelas tentang Adam

Setelah dua-tiga puluh kali ceramah tentang Adam, Ustadz menegaskan, satu hal yang sangat jernih: Al-Qur’an menyajikan gambaran yang sangat khas tentang asal-usul manusia. Kisah Adam disebut setengah lusin kali, citranya sangat hidup, narasinya sangat eksplisit, jumlah kata benda dan kata sifatnya banyak, dan pengisahan langkah demi langkahnya jelas menunjukkan bahwa maksud Al-Qur’an adalah agar kita memahami bahwa ada seorang manusia bernama Adam, dan dari Adam, Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya, seluruh umat manusia berasal. Tidak ada manusia di muka bumi kecuali nasabnya kembali kepada pasangan ini, dan pasangan ini kembali kepada satu orang. Inilah hal yang sangat eksplisit dari narasi Al-Qur’an, dan siapa pun yang membaca Al-Qur’an akan paham bahwa Al-Qur’an menginginkan kita meyakini hal ini.

Poin Kelima: Kisah Adam Bukan Fabel

Sebagian pemikir modern berkata, bagaimana jika kisah Adam adalah cerita moral, bukan cerita sejarah? Bagaimana jika ia seperti fabel, seperti dongeng “pada suatu masa di negeri yang jauh”? Beliau menyebut, di antara pemikir yang berpandangan seperti ini adalah Allama Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair besar dari anak benua India.

Ustadz Yasir, dengan hormat, tidak menyetujui pandangan ini. Alasannya, kata beliau, implikasinya terlalu banyak untuk diabaikan. Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengatakan bahwa dirinya adalah kebenaran. Allah memberi tahu bahwa kisah-kisah Al-Qur’an itu benar, bukan dongeng:

“لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ”

Laqad kāna fī qaṣaṣihim ‘ibratul li-ulil-albāb

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

“مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ”

Mā kāna ḥadīṡan yuftarā

“(Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat.”

Setiap kali Allah memberikan perumpamaan, kata Ustadz, Allah menyebut secara eksplisit bahwa itu perumpamaan: walaqad ḍarabnā (sungguh, telah Kami berikan perumpamaan), ḍuriba mathalun fastami’ū lah (telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah). Tidak pernah ada ambiguitas. Akan tetapi ketika Allah menceritakan sebuah kisah, Allah memberi tahu bahwa itu kebenaran. Tidak ada satu pun bagian Al-Qur’an yang membuat pembaca bingung apakah ini perumpamaan atau sejarah. Musa, Isa, Dawud, Sulaiman, Nuh, Adam, semuanya adalah sejarah.

Mengklaim Adam sebagai kisah simbolis, menurut para ulama seperti Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyyah, secara tidak langsung sama dengan menuduh Allah berdusta. Beliau menyebut, ulama Sunni mainstream pernah membuat tuduhan serupa terhadap kelompok falasifa zaman pertengahan yang mengatakan surga dan neraka tidak nyata, hanya simbolik. Itu, ujar beliau, bukan posisi yang bisa diterima dalam Islam.

Beliau juga menggarisbawahi perbedaan dengan tradisi Kristen dan Yahudi. Mayoritas umat Kristen dan Yahudi tidak meyakini kisah Adam dan Hawa sebagai sejarah literal. Bagi mereka, kitab suci mengandung butir-butir hikmah yang bisa dipilih sesuai selera. Akan tetapi Al-Qur’an, kata Ustadz, tidak seperti itu. Al-Qur’an terjaga, terpelihara, ia adalah firman Allah. Kita tidak boleh menempuh jalan Kristen dan Yahudi.

Poin Keenam: Al-Qur’an Bukan Kitab Sains

Al-Qur’an bukan kitab sains, ia adalah kitab petunjuk. Kita tidak boleh mengharapkan Al-Qur’an mengajarkan biologi, kimia, fisika, teknik, atau arsitektur. Allah menurunkan Al-Qur’an untuk mengajarkan teologi, untuk mengajarkan mengapa kita ada di sini, untuk mengajarkan aspek-aspek moralitas yang luas. Itu fungsinya.

Di sini Ustadz Yasir membuat pengakuan yang akan mengundang diskusi di sebagian kalangan. Beliau menyatakan, selama bertahun-tahun, jika kita mengikuti ceramah-ceramah beliau, kita tidak akan pernah menemukan beliau menjadi bagian dari kelompok yang menekankan “mukjizat-mukjizat ilmiah Al-Qur’an” (scientific miracles of the Qur’an). Beliau sangat skeptis terhadap seluruh genre ini. Bukunya tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an yang ditulis 27 tahun lalu pun tidak menempuh rute ini.

Alasannya, kata beliau, justru terkait dengan persoalan evolusi ini. Kalau seseorang ngotot bahwa Al-Qur’an dibuktikan oleh sains, maka ketika ada non-Muslim datang dan berkata, “Oke, kalian bilang Al-Qur’an adalah kitab sains, padahal sains mengatakan evolusi sementara Al-Qur’an menceritakan Adam dan Hawa, lalu bagaimana?” Inilah jebakannya. Beliau berkata, “Kita seperti menembak kaki sendiri.” Kebenaran Al-Qur’an, ujar Ustadz, melampaui paradigma sains. Kita tahu Al-Qur’an benar bukan karena ia sesuai dengan pemahaman sains kita.

Poin Ketujuh: Tidak Ada Garis Waktu dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak mewajibkan kita meyakini bahwa Adam hidup pada waktu tertentu atau di tempat tertentu. Ini berbeda dengan banyak Kristen evangelis dan Yahudi Ortodoks yang meyakini Adam hidup 6.000 tahun lalu dan seluruh sejarah manusia hanya 6.000 tahun. Pandangan itu, kata Ustadz, bukan hanya bermasalah; ia bertentangan dengan fakta yang tak terbantahkan.

Manusia sudah ada di bumi jauh lebih lama dari 6.000 tahun. Kita punya struktur manusia yang berusia 15.000 tahun. Kita punya lukisan di gua-gua yang dengan penanggalan karbon dipastikan berusia lebih dari 30.000 tahun. Spesies-spesies humanoid atau hominid, yang mirip manusia tetapi bukan persis manusia, kembali ke nyaris 2 juta tahun lalu: Homo heidelbergensis, Neanderthal, Denisovan. Alat-alat batu jelas digunakan 250.000 tahun lalu. Hampir semua ilmuwan yakin bahwa spesies kita persis, Homo sapiens, telah ada di bumi setidaknya 100.000 tahun, bahkan lebih.

Beliau menyebut contoh menarik: suku Aborigin Australia. Mereka terputus dari dunia luar selama ribuan tahun sampai orang Eropa menemukan Australia pada 1700-an. Berdasarkan artefak, struktur, dan tulang-tulang yang dikuburkan di sana, kita bisa membuktikan bahwa Aborigin telah berada di Australia setidaknya 60.000 tahun. Mereka adalah manusia, sepenuhnya manusia seperti kita.

Maka bagaimana mungkin umat manusia hanya berusia 6.000 tahun? Jawaban Muslim, kata Ustadz, sederhana: siapa yang mengatakan 6.000 tahun? Bukan kami. Itu narasi Kristen dan Yahudi. Kalau Muslim ilmuwan ingin mengatakan Adam ada setengah juta tahun lalu, atau 150.000 tahun lalu, tidak masalah bagi kita. Karena, ujar beliau, antara Nuh dan Ibrahim, atau antara Adam dan Ibrahim, Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan jaraknya berapa. Lagipula, hadis menyebut ada 124.000 nabi, sementara Al-Qur’an hanya menyebut 25 di antaranya. Sisanya, ribuan generasi kecil, kantong-kantong umat yang tersebar dalam ratusan ribu tahun.

Poin Kedelapan: Al-Qur’an Tidak Menafikan Adanya Spesies Lain

Tidak seperti sebagian Kristen yang menolak keberadaan dinosaurus atau hominid lain dan menyebut semuanya konspirasi, umat Islam, Alhamdulillah, kata Ustadz, adalah umat yang berakal dan percaya pada fakta. Tulang-tulang itu nyata, dan penanggalan karbon-14 itu meyakinkan. Beliau menyebut, sebagai orang berlatar teknik kimia dengan minor kimia, penanggalan karbon-14 itu yaqini (pasti). Ia memberi rentang, tetapi rentang itu definitif. Tidak ada tipu daya.

Lalu apa yang harus kita lakukan dengan Neanderthal, Denisovan, dan hominid-hominid lainnya? Beliau menjawab dengan ayat:

“وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ”

Wa yakhluqu mā lā ta’lamūn

“Dan Dia menciptakan apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. An-Nahl: 8)

“وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا”

Wa mā ūtītum minal-‘ilmi illā qalīlā

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Kita tidak punya masalah dalam menegaskan adanya beragam spesies ciptaan, selain manusia. Yang kita yakini, ujar beliau, adalah bahwa spesies Homo sapiens, yaitu kita, diberkahi dengan hal-hal yang tidak diberikan kepada spesies lain. Kita diberkahi dengan kecerdasan dan bayān, kemampuan berbicara.

“وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا”

Wa ‘allama ādamal-asmā’a kullahā

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya.” (QS. Al-Baqarah: 31)

Selain itu, kalau ada spesies yang lebih cerdas daripada primata, bisa menggunakan alat batu, dan berkomunikasi dengan gumaman dasar atau suku kata sederhana, semacam humanoid tetapi bukan manusia, hal itu tidak bermasalah secara teologis. Allah memberi tahu kita bahwa Dia menciptakan apa yang tidak kita ketahui. Dan kita menegaskan fakta-fakta dari biologi.

Beliau juga mengingatkan, dalam ceramah-ceramah sebelumnya, sebagian ulama klasik menyebut adanya makhluk-makhluk semacam tin, bin, dan rin, yaitu makhluk-makhluk yang bukan manusia, yang hidup di bumi sebelum manusia dan menyebabkan fitna dan fasad. Itulah, menurut sebagian penafsiran, mengapa malaikat bertanya: “Mengapa Engkau menciptakan spesies baru, sementara kami di sini memuji-Mu?” Beliau berkata, ini bukan bagian dari Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi ada petunjuk dalam tradisi kita bahwa mungkin saja ada spesies selain manusia yang hidup sebelum manusia.

Poin Kesembilan: Al-Qur’an Tidak Mengabarkan Bagaimana Spesies Lain Tercipta

Al-Qur’an tidak pernah memberi tahu bahwa Allah menurunkan setiap spesies. Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa Allah menurunkan sapi, ayam, domba, serigala, atau anak domba secara terpisah dari langit. Maka, ujar Ustadz dengan kalimat yang ia ulang dengan sangat hati-hati: jika ada orang yang meyakini evolusi untuk semua spesies kecuali Adam Alaihissalam, jika ada orang yang menegaskan semua yang dikatakan biolog evolusioner modern, lalu mengangkat Adam dari persamaan itu, dan mengatakan semua bentuk kehidupan lain saling terhubung dan semua, selain Adam dan keturunannya, berasal dari satu bentuk kehidupan, jika ada orang mengatakan demikian, hal itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.

Beliau mempertegas: ia tidak sedang mengatakan dirinya sendiri meyakini ini. Beliau hanya mengatakan, jika ada orang meyakini ini, itu adalah keyakinan yang sah secara Islam. Tidak ada ayat yang dilanggar, tidak ada prinsip teologi Islam yang dilanggar.

Sebagian orang bertanya, bukankah Allah berfirman di akhir Surah Yasin bahwa Dialah yang menciptakan hewan-hewan ternak untuk manusia? Beliau menjawab, ayat itu sering disalahpahami. Kembalilah ke tafsir-tafsir klasik seperti Al-Qurtubi, Ibn Al-Jauzi, At-Tabari. Yang Allah katakan adalah bahwa Dialah dengan kekuasaan-Nya yang menciptakan hewan-hewan itu. Tidak ada petunjuk bahwa Allah menciptakan hewan asli, lalu hewan-hewan turunannya datang dari yang asli. Al-Qur’an tidak menyebutkan bagaimana, hanya bahwa Allah-lah penciptanya. Bahkan, kata beliau, ada ayat yang mengatakan Allah menciptakan segala sesuatu dari air. Kalau ada yang ingin membaca evolusi di situ, secara umum tidak bermasalah.

Beliau membedakan keyakinan ini dengan sekulerisme. Yang membuat orang beriman berbeda dari para penolak Tuhan adalah keyakinan bahwa keteraturan ini bukan hasil kebetulan. Ini sebab-akibat, dan Allah menciptakan sebab, menciptakan akibat, serta menghubungkan keduanya. Kalau seseorang meyakini intelligent design untuk makhluk-makhluk selain manusia, bahwa Allah menggunakan mekanisme evolusi untuk memunculkan berbagai spesies selama jutaan tahun, sebagai Muslim, kita tidak punya masalah dengan itu.

Poin Kesepuluh: Pengecualian Itu Adalah Adam

Inilah poin terakhir dan paling penting. Setelah semua di atas, kita sebagai Muslim tetap tidak dapat menerima teori evolusi sebagaimana ia berdiri sekarang ketika sampai kepada Homo sapiens. Sebagai Muslim, kata Ustadz, kita menghormati para ilmuwan. Kita tidak menertawakan mereka, tidak menuduh niat jahat. Akan tetapi kita memiliki satu titik data yang mereka tidak miliki. Kita membawa ke meja fakta-fakta ilmiah, satu fakta teologis. Kita tidak menuntut mereka meyakini fakta teologis itu, tetapi kita meyakininya.

Fakta itu adalah: Adam Alaihissalam ada, ia manusia pertama, ia bapak dari seluruh manusia. Tugas biolog Muslim adalah memikirkan alternatif apa yang bisa diajukan dengan menambahkan fakta ini ke dalam kerangka sains, dan itu bukan tugas Ustadz. Adam tidak terikat pada kerangka waktu tertentu. Bisa jadi 10.000 tahun, 100.000 tahun, atau 1 juta tahun lalu, semuanya tidak memengaruhi teologi.

“وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ”

Wa laqad karramnā banī ādam

“Dan sungguh, telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)

Kita bukan sekadar produk kebetulan. Kita bukan sekadar hasil mutasi acak dan kekacauan. Penciptaan ini, ujar beliau, terlalu sempurna untuk hanya dikaitkan dengan keacakan.

Ustadz kemudian merujuk pada paper yang ia tulis bersama Dr. Nazir Khan tentang evolusi dan Al-Qur’an, yang dipublikasikan di Yaqeen. Beliau membaca kutipan dari paper itu. Inti dari paper tersebut, dan inti dari analogi yang sudah beliau berikan satu dekade lalu, adalah perumpamaan rangkaian domino.

Bayangkan, kata beliau, urutan domino mewakili urutan peristiwa dalam sejarah evolusi. Sebagaimana satu domino menjatuhkan domino berikutnya, satu spesies memunculkan spesies baru. Selama tekanan seleksi terus mendiversifikasi populasi dan menguntungkan gen-gen unggul, domino bercabang membentuk cabang-cabang divergen pohon filogenetik. Akan tetapi, domino terakhir dari satu cabang, yang mewakili manusia, tidak dijatuhkan oleh domino sebelumnya. Sebaliknya, ia diletakkan dengan cara yang tampak persis seolah-olah ia dijatuhkan. Pengamat yang datang ke tempat itu dan mensurvei bukti, pasti akan menyimpulkan bahwa domino terakhir ini terpengaruh oleh proses yang sama persis dengan yang menjatuhkan domino lainnya. Akan tetapi, dalam kasus ini, itu adalah mukjizat. Itu adalah sesuatu yang tidak tipikal.


Beliau menegaskan lagi: ini bukan klaim bahwa demikianlah yang terjadi. Ini hanyalah satu kemungkinan yang ditawarkan, supaya tidak ada kebingungan di kalangan Muslim. Mungkin saja seluruh proses evolusi terjadi, dan spesies yang menyerupai kita hampir muncul tepat di saatnya, akan tetapi tepat sebelum spesies itu benar-benar muncul, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Adam dan Hawa. DNA mereka cocok dengan DNA spesies yang seharusnya muncul, karena begitulah cara Allah menciptakan. Bukan untuk menipu, tetapi karena kesempurnaan ciptaan Allah. Belakangan, ketika para ilmuwan mencoba menyusun teka-teki itu, mereka menemukan domino terakhir jatuh dan secara logis menyimpulkan domino sebelumnyalah yang menjatuhkannya. Mereka tidak akan tahu bahwa Allah secara ajaib menempatkan domino itu, atau Adam, di waktu dan tempat yang tepat.

Ustadz Yasir menutup dengan mengatakan, beliau tidak punya alternatif yang pasti, dan terserah biolog Muslim untuk membantu kita di sini. Yang dapat beliau katakan tanpa ragu adalah: beliau beriman kepada Al-Qur’an, bukan karena Al-Qur’an membuktikan sains, melainkan karena Al-Qur’an adalah mukjizat, firman Allah, dengan pesan, bahasa, dan dampaknya. Kalau beliau meyakininya benar dan beliau adalah orang yang rasional yang juga memahami sains, maka beliau juga meyakini bahwa pengetahuan Allah tak terbatas dan pengetahuan ilmuwan terbatas.

Beliau membaca ayat penutup:

“مَا أَشْهَدتُّهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَا خَلْقَ أَنفُسِهِمْ”

Mā asy-hattuhum khalqas-samāwāti wal-arḍi wa lā khalqa anfusihim

“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Kahf: 51)

Ini ayat yang sangat kuat, kata Ustadz. Allah berfirman: “Aku tidak memanggilmu untuk menyaksikan penciptaanmu sendiri. Kalian tidak tahu bagaimana kalian diciptakan. Kalian sedang menyusun teka-teki berdasarkan bukti dari sejuta, setengah juta, atau 200.000 tahun lalu. Upaya kalian boleh jadi baik dan solid, tetapi tidak definitif.” Pengetahuan Allah-lah yang definitif.

Karena keyakinan beliau pada Al-Qur’an melampaui hubungannya dengan sains, beliau tegas meyakini bahwa tidak akan pernah ada benturan eksplisit antara sains yaqini yang definitif dengan Al-Qur’an yang eksplisit. Dan kita bersyukur kepada Allah, kata beliau, bahwa teori evolusi, meski cukup solid, bukanlah 100%. Ia bukan sesuatu yang yaqini. Sementara apa yang Al-Qur’an katakan tentang Adam adalah yaqini.

Sebagai Muslim, beliau memilih yang yaqin di atas yang dhann (dugaan), dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Mungkin suatu hari, di akhirat ketika kita memiliki waktu kekal, kita akan memahami dan melihat semuanya bersatu. Akan tetapi di dunia ini, kita harus beriman kepada Al-Qur’an dan menerima apa yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا”

Wa mā ūtītum minal-‘ilmi illā qalīlā

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Demikianlah, ujar Ustadz Yasir Qadhi, beliau menutup seluruh seri tentang ayah kita, Adam Alaihissalam.