Argumen Inti Teori Evolusi
Teori evolusi modern bermula dari karya Charles Darwin, On the Origin of Species (1859), yang ditulis bersamaan dengan ide serupa dari Alfred Russel Wallace. Inti argumennya terangkum dalam empat proposisi (Open University, n.d.):
- pertama, lebih banyak individu lahir daripada yang sanggup bertahan hidup;
- kedua, karena itu terjadi perjuangan untuk hidup;
- ketiga, ada variasi antarindividu dalam satu spesies;
- dan keempat, keturunan cenderung mewarisi sifat-sifat orang tuanya
Dari empat proposisi itu, Darwin menyimpulkan mekanisme yang ia sebut seleksi alam. Keturunan yang mewarisi sifat-sifat yang memungkinkan mereka bersaing dalam memperebutkan sumber daya yang terbatas akan bertahan hidup lebih lama dan menghasilkan lebih banyak keturunan dibanding individu yang memiliki variasi yang kurang kompetitif. Karena sifat-sifat itu diwariskan, dari generasi ke generasi ia akan terwakili lebih banyak. Inilah yang Darwin sebut sebagai descent with modification, penurunan disertai modifikasi (Biology LibreTexts, 2024).
Tiga kondisi yang menurut Darwin cukup untuk menggerakkan seleksi alam adalah perjuangan untuk hidup, variasi, dan pewarisan (Open University, n.d.). Dari sini, klaim besar teori evolusi terbentang: bahwa keragaman makhluk hidup yang kita lihat hari ini berasal dari proses bertahap dan panjang, di mana setiap spesies pada akhirnya terhubung dengan spesies sebelumnya dalam apa yang sering disebut sebagai pohon kehidupan.
Penting dicatat, ketika Darwin menulis bukunya, ilmu genetika modern belum lahir. Konsep seleksi alam pada mulanya berkembang tanpa teori pewarisan yang valid. Penyatuan genetika Mendel dengan teori Darwin baru terjadi pada abad ke-20, dan menghasilkan apa yang dikenal sebagai Modern Synthesis atau neo-Darwinisme (University of California Museum of Paleontology, n.d.).
Penggunaan Teori Evolusi di Luar Biologi: Kasus Manajemen dan Ekonomi
Menariknya, kerangka evolusioner tidak berhenti di biologi. Ia merambah ke ilmu sosial, terutama ekonomi dan studi organisasi.
Tonggak pentingnya adalah karya Nelson dan Winter (1982), An Evolutionary Theory of Economic Change. Dalam buku ini, Nelson dan Winter melancarkan kritik terhadap asumsi neoklasik tentang maksimalisasi profit dan ekuilibrium pasar yang mereka anggap tidak memadai untuk menganalisis inovasi teknologi dan dinamika kompetisi antarperusahaan. Sebagai gantinya, mereka meminjam konsep seleksi alam dari biologi untuk membangun teori evolusioner tentang perilaku bisnis.
Konsep kuncinya adalah routine atau rutin. Dalam kalimat Nelson dan Winter (1982, hlm. 14) sendiri, sebagaimana dikutip oleh De Paula dan Botelho (2022, hlm. 7): “istilah umum kami untuk semua pola perilaku perusahaan yang teratur dan dapat diprediksi adalah ‘rutin’. Kami menggunakan istilah ini untuk mencakup karakteristik perusahaan mulai dari rutin teknis yang spesifik untuk memproduksi sesuatu, prosedur perekrutan dan pemecatan, pemesanan inventaris baru, atau peningkatan produksi barang yang permintaannya tinggi, hingga kebijakan investasi, penelitian dan pengembangan (R&D), atau periklanan, dan strategi bisnis tentang diversifikasi produk dan investasi luar negeri. Dalam teori evolusi kami, rutin memainkan peran yang dimainkan gen dalam teori evolusi biologis”.
Analoginya jelas: jika gen adalah unit pewarisan dalam biologi, rutin adalah unit pewarisan dalam organisasi. Dalam model evolusioner Nelson dan Winter (1982), aktivitas utama perusahaan adalah membangun dan memanfaatkan aset pengetahuan melalui rutin organisasi (Teece, 2022).
Di ranah studi organisasi, Aldrich (1979) melakukan hal serupa pada level yang lebih makro. Dalam Organizations and Environments, ia menggunakan prinsip evolusioner berupa variasi, seleksi, dan retensi untuk menjelaskan bagaimana organisasi berubah dari waktu ke waktu. Dalam model Aldrich, organisasi berkembang atau gagal karena mereka lebih atau kurang cocok dengan lingkungan seleksi tempat mereka beroperasi. Daripada menjelaskan keberhasilan dan kegagalan organisasi dengan menunjuk pada niat manajerial, Aldrich justru menyoroti apakah organisasi memiliki sifat-sifat yang tepat untuk lingkungan seleksi tertentu, terlepas dari apakah para manajer memang menghendaki sifat-sifat itu (Murmann et al., 2003).
Perdebatan internal di bidang ini juga menarik. Ada perdebatan antara neo-Darwinis yang meyakini seleksi alam terhadap populasi organisasi, dan adaptationis yang berpendapat bahwa perubahan dalam struktur dan perilaku organisasi terjadi sebagai respons terhadap lingkungan. Posisi selectionist Hannan dan Freeman, yang menekankan peran seleksi dan batas-batas adaptabilitas perusahaan secara individual, sering disebut sebagai ‘Darwinian’, sementara pandangan tandingan yang menekankan adaptabilitas disebut ‘Lamarckian’ (Aldrich & Martinez, 2014).
Konsep dynamic capabilities yang dikembangkan Teece pun berakar dari tradisi ini. Pandangan tentang perilaku perusahaan yang melekat dalam teori ekonomi evolusioner selaras dengan pandangan tentang perusahaan dalam teori organisasi modern. Banyak penelitian di bidang strategi bisnis menampilkan kapabilitas khas sebagai dasar keunggulan kompetitif dan dynamic capabilities sebagai kunci sukses jangka panjang dalam ekonomi yang berubah cepat (Nelson & Winter, 2002).
Singkatnya, teori evolusi di ranah manajemen tidak digunakan untuk berbicara tentang asal-usul manusia atau makhluk hidup, melainkan sebagai kerangka analogis untuk memahami bagaimana organisasi, industri, dan ekonomi berubah seiring waktu, melalui mekanisme variasi (inovasi, eksperimen), seleksi (kompetisi pasar, lingkungan kelembagaan), dan retensi (rutin, kapabilitas yang melekat).
Missing Link: Mata Rantai yang Hilang dalam Cerita Evolusi Manusia
Salah satu titik yang paling sering diperdebatkan dalam teori evolusi adalah penerapannya pada homo sapiens. Istilah yang sering muncul adalah missing link, mata rantai yang hilang.
Posisi paleoantropologi mainstream sebenarnya menolak gagasan “satu mata rantai yang hilang”. Briana Pobiner, antropolog dari Smithsonian Human Origins Program, menjelaskan: “Bagi saya, gagasan tentang ‘missing link’ menyiratkan rantai linear di mana satu spesies berevolusi menjadi spesies lain, lalu menjadi spesies lain lagi, dan seterusnya. Itu bukan pola yang kita lihat. Sebaliknya, evolusi menghasilkan pola percabangan menyerupai pohon, dengan banyak keturunan dari spesies leluhur yang hidup pada waktu yang sama, dan kadang bahkan berdampingan dengan spesies leluhur itu sendiri” (Black, 2018).
Lebih jauh, paradigma saat ini menggambarkan pohon kehidupan manusia sebagai sesuatu yang bercabang, bukan linear. Pobiner menegaskan: “Saya akan mengatakan bahwa miskonsepsi paling umum adalah gagasan bahwa evolusi manusia berlangsung dalam proses linear. Bahwa satu spesies berevolusi menjadi spesies lain, dan bahwa evolusi bersifat progresif dan kita adalah puncaknya. Evolusi manusia, seperti evolusi organisme lain, sesungguhnya berlangsung dalam pola percabangan. Banyak dari cabang-cabang itu mengarah ke spesies yang punah” (Smithsonian National Museum of Natural History, n.d.).
Pola fosil hominin saat ini meliputi rentang yang panjang. Sahelanthropus tchadensis berusia sekitar 6 atau 7 juta tahun, Ardipithecus ramidus 4,5 juta tahun, Homo rudolfensis 2,5 juta tahun, Australopithecus sediba 1,9 juta tahun, lalu Homo erectus, Homo floresiensis, Homo habilis, Homo heidelbergensis, dan Homo neanderthalensis (Biology Insights, 2026).
Akan tetapi, ada juga periode-periode yang masih kabur dalam catatan fosil. Fosil dari periode antara tujuh dan empat juta tahun lalu sangat langka dan sering fragmenter, sehingga sulit untuk secara meyakinkan menetapkan spesies mana yang merupakan leluhur langsung manusia. Periode kedua yang penuh ketidakpastian adalah transisi dari genus Australopithecus ke anggota awal genus Homo; catatan fosil sangat sedikit antara sekitar 3,0 dan 2,3 juta tahun yang lalu (Biology Insights, 2026).
Sejarah pencarian missing link sendiri penuh dinamika. Pada 1891, ahli paleontologi Belanda Eugène Dubois menemukan fosil yang kemudian dikenal sebagai “Manusia Jawa” di Indonesia, yang awalnya ia namai Pithecanthropus erectus (kini direklasifikasi sebagai Homo erectus), dan saat itu disambut media sebagai mata rantai yang hilang (Andrei, 2026). Pada 1924, Raymond Dart menemukan Taung Child di Afrika Selatan, yang ia umumkan dalam jurnal Nature pada awal 1925 sebagai Australopithecus africanus, genus dan spesies baru leluhur manusia; meski awalnya ditolak komunitas ilmiah, penemuan ini akhirnya membantu menggeser geografi asal-usul manusia dari Eropa dan Asia ke Afrika (Black, 2025).
Sejarah pencarian ini juga mencatat dua kasus penting yang akhirnya gugur. Piltdown Man, ditemukan di Inggris pada 1912, sempat menjadi fosil yang mendukung hipotesis bahwa otak manusia berkembang lebih dulu sebelum sifat-sifat khas manusia lainnya seperti berjalan tegak; fosil ini kemudian terungkap sebagai pemalsuan. Sebaliknya, Taung Child menunjukkan hal yang berlawanan: lubang tempat saraf tulang belakang masuk ke tengkorak terletak persis di bawah, menunjukkan makhluk yang berjalan tegak meski volume otaknya masih kecil (Black, 2025).
Fosil yang lebih kontemporer dan ramai dibicarakan adalah Australopithecus sediba. Lee Berger, yang menemukannya, menyebut istilah missing link sebagai “secara biologis tidak masuk akal”. Ia menyatakan bahwa A. sediba adalah kandidat yang baik untuk mewakili evolusi manusia, namun contoh definitif paling awal dari genus Homo berusia 150.000 hingga 200.000 tahun lebih muda dari fosil ini (NBC News, 2011).
Inilah konteks ilmiah dari pernyataan Ustadz Yasir Qadhi tentang missing link. Para ilmuwan sendiri mengakui bahwa transisi spesifik ke genus Homo memang masih menyimpan area gelap, meskipun mereka menganggap hal itu sebagai konsekuensi dari kelangkaan catatan fosil, bukan sebagai pembatalan keseluruhan teori.
Para Ilmuwan yang Menolak Manusia Berasal dari Kera
Sebelum membahas siapa yang menolak, perlu diluruskan satu miskonsepsi penting yang sering muncul. Klaim populer “manusia berasal dari kera” sebenarnya bukan klaim teori evolusi. Dalam literatur biologi pendidikan, “miskonsepsi bahwa manusia berasal dari kera dan bukan dari leluhur bersama” justru disebut sebagai miskonsepsi yang dipromosikan oleh para penentang teori evolusi (Luskin, 2021). Posisi mainstream teori evolusi adalah bahwa manusia dan kera modern memiliki leluhur bersama di masa lalu, bukan bahwa manusia turun dari kera yang ada sekarang.
Dengan catatan itu, siapa saja ilmuwan biologi yang skeptis terhadap mekanisme evolusi Darwinian, termasuk penerapannya pada manusia?
Inisiatif paling terdokumentasi adalah A Scientific Dissent from Darwinism yang diluncurkan Discovery Institute pada 2001. Para penandatangan menyatakan: “Kami skeptis terhadap klaim tentang kemampuan mutasi acak dan seleksi alam untuk menjelaskan kompleksitas kehidupan. Pemeriksaan cermat terhadap bukti-bukti teori Darwinian sebaiknya didorong” (Discovery Institute, n.d.).
Di antara nama yang sering disebut sebagai penandatangan terkemuka, menurut Discovery Institute (n.d.), adalah biolog evolusioner dan penulis buku teks Stanley Salthe; ahli kimia kuantum Henry Schaefer dari University of Georgia; anggota US National Academy of Sciences Philip Skell; Fellow American Association for the Advancement of Science Lyle Jensen; embriolog Russian Academy of Natural Sciences Lev Beloussov; dan ahli genetika Giuseppe Sermonti, Editor Emeritus Rivista di Biologia / Biology Forum dan penemu rekombinasi genetik pada Penicillium dan Streptomyces penghasil antibiotik.
Stanley Salthe sendiri, profesor emeritus Brooklyn College of the City University of New York, dalam pernyataannya menulis: “Teori evolusi Darwinian adalah bidang spesialisasi saya dalam biologi. Saya menulis buku teks tentangnya tiga puluh tahun lalu. Namun, saya kini menjadi pemurtad dari teori Darwinian dan mendeskripsikannya sebagai bagian dari mitos asal-usul modernisme” (Discovery Institute, 2019).
Selain itu, Discovery Institute juga mengutip pernyataan beberapa ilmuwan terkemuka untuk memperkuat skeptisisme. Lynn Margulis, biolog anggota National Academy of Sciences, pernah berkata, “mutasi-mutasi baru tidak menciptakan spesies-spesies baru; mereka menciptakan keturunan yang terganggu”. Demikian pula, mantan presiden French Academy of Sciences, Pierre-Paul Grassé, berpendapat bahwa “mutasi memiliki ‘kapasitas konstruktif’ yang sangat terbatas” karena “betapapun banyaknya, mutasi tidak menghasilkan jenis evolusi apa pun” (Discovery Institute, n.d.b).
Akan tetapi, dalam menyajikan informasi ini, kejujuran intelektual menuntut kita juga menyebut kritik yang ditujukan ke daftar tersebut. Menurut investigasi Kenneth Chang dari The New York Times terhadap daftar 514 penandatangan pada 2006, hanya sekitar seperempat yang merupakan biolog (Chang, 2006). Mayoritas sisanya berasal dari bidang lain seperti teknik, fisika, kimia, ilmu komputer, dan matematika.
Sebagai pembanding, ada cerita menarik dari kubu pendukung evolusi. National Center for Science Education (NCSE), sebuah organisasi pendidikan sains di Amerika Serikat, membuat sindiran balik terhadap daftar Discovery Institute. Mereka menamainya Project Steve.
Aturannya unik: daftar ini hanya menerima tanda tangan dari ilmuwan yang bernama depan “Steve” (atau variannya seperti Stephanie, Esteban, Stefano). Nama Steve dipilih untuk menghormati Stephen Jay Gould, biolog evolusioner ternama. Pesan tersembunyi di balik aturan ini cerdik: di Amerika Serikat, hanya sekitar 1% populasi yang memiliki nama “Steve”. Maka, setiap satu ilmuwan Steve yang menandatangani mewakili sekitar 100 ilmuwan potensial dengan nama lain (NCSE, 2016).
Pada Februari 2009, jumlah penanda tangan Project Steve melewati angka 1.000, termasuk peraih Nobel, anggota US National Academy of Sciences, dan penulis buku teks biologi terkemuka (NCSE, 2009). Artinya, secara matematis sederhana, 1.000 Steve mewakili sekitar 100.000 ilmuwan yang berpotensi mendukung evolusi. Bandingkan dengan daftar Discovery Institute yang baru menyentuh 1.000-an tanda tangan dari seluruh ilmuwan di dunia, tanpa pembatasan nama depan apapun.
Logikanya begini. Discovery Institute mengumpulkan daftar 1.000-an ilmuwan yang skeptis terhadap Darwinisme, dengan kesan bahwa “wah, banyak juga ya ilmuwan yang menolak evolusi”. NCSE (organisasi pendidikan sains di Amerika) menjawab dengan sindiran: kalau kalian bisa kumpulkan 1.000 ilmuwan penolak Darwinisme dari seluruh komunitas sains dunia, kami bisa kumpulkan 1.000 ilmuwan pendukung evolusi yang namanya cuma “Steve” saja. Karena nama Steve hanya dimiliki sekitar 1% populasi Amerika, kalau dikalikan 100, artinya potensinya ada 100.000 ilmuwan pendukung evolusi. Jadi pesannya: “lihat, daftar kalian itu kecil sekali kalau dibandingkan dengan keseluruhan komunitas sains”.
Yang juga penting dicatat, ada ilmuwan yang skeptis terhadap aspek tertentu dari neo-Darwinisme tanpa harus menerima desain cerdas atau penciptaan. Edisi Nature pernah memuat pertanyaan “Apakah teori evolusi perlu dipikirkan ulang?”. Yang menjawab “Ya, dan mendesak” adalah Kevin Laland (profesor biologi perilaku dan evolusioner di University of St. Andrews), Tobias Uller, Marc Feldman, Kim Sterelny, Gerd B. Müller, Armin Moczek, Eva Jablonka, dan John Odling-Smee. Mereka menggagas Extended Evolutionary Synthesis (EES), sebuah sintesis evolusioner baru yang menolak beberapa prinsip inti neo-Darwinisme, seperti pandangan bahwa seleksi alam adalah kekuatan dominan yang membimbing evolusi atau bahwa ada “pohon kehidupan” tunggal (Klinghoffer, 2014; Laland et al., 2014).
Artinya, peta para “penentang evolusi” itu sendiri tidak homogen. Sebagian benar-benar menolak Darwinisme dari sudut pandang teologis. Sebagian lain skeptis terhadap mekanisme spesifik (mutasi acak + seleksi alam) tetapi tetap menerima fakta evolusi. Sebagian lagi, seperti kelompok EES, justru ingin memperluas kerangka evolusi, bukan menolaknya.
Argumen evolusi adalah bangunan ilmiah yang besar dan masih bergerak. Ia punya argumen utama yang relatif stabil, yaitu variasi, perjuangan untuk hidup (survival of the fittest), seleksi, dan pewarisan. Ia punya cabang aplikasi yang merentang jauh ke luar biologi, masuk ke ekonomi dan manajemen sebagai kerangka untuk memahami perubahan organisasi. Ia juga punya area-area gelap, terutama dalam soal transisi spesifik menuju Homo sapiens, yang oleh para ilmuwan sendiri diakui sebagai catatan fosil yang langka.
Dan, sebagaimana setiap teori besar dalam sains, ia punya para penentang. Sebagian penentang itu adalah ilmuwan dengan kredensial biologi yang nyata. Sebagian lainnya adalah ilmuwan dari bidang yang berbeda yang ikut menyuarakan skeptisisme. Yang pasti, mayoritas komunitas biologi tetap menerima evolusi sebagai kerangka penjelas terbaik untuk keragaman makhluk hidup, dengan perdebatan internal mengenai mekanisme spesifiknya.
Bagi pembaca Muslim, pembedaan yang dilakukan Ustadz Yasir Qadhi antara evolusi hewan dan evolusi homo sapiens menjadi pintu yang produktif untuk masuk ke dialog ini, tanpa harus memilih antara dua ekstrem: menolak sains secara total, atau menerima setiap klaim sains tanpa membaca catatan kakinya.
Daftar Referensi
Aldrich, H. E. (1979). Organizations and environments. Prentice-Hall.
Aldrich, H. E., & Martinez, M. A. (2014). Evolutionary theory. Dalam J. McGee & T. Sammut-Bonnici (Ed.), Wiley encyclopedia of management: Vol. 12. Strategic management. Wiley-Blackwell.
Andrei, T. (2026, 6 April). The fossil hailed as “missing link” between apes and humans. History. https://www.history.com/articles/java-man-homo-erectus-evolution
Biology Insights. (2026, 7 Januari). What is the missing link in human evolution? https://biologyinsights.com/what-is-the-missing-link-in-human-evolution/
Biology LibreTexts. (2024, 23 November). 18.1B: Charles Darwin and natural selection. https://bio.libretexts.org/Bookshelves/Introductory_and_General_Biology/General_Biology_(Boundless)/18%3A_Evolution_and_the_Origin_of_Species/18.01%3A_Understanding_Evolution/18.1B%3A_Charles_Darwin_and_Natural_Selection
Black, R. (2018, 6 Maret). What’s a “missing link”? Smithsonian Magazine. https://www.smithsonianmag.com/science-nature/whats-missing-link-180968327/
Black, R. (2025, 12 September). Why the “missing link” fossil was almost missed. National Geographic. https://www.nationalgeographic.com/history/article/taung-child-human-ancestor
Chang, K. (2006, 21 Februari). Few biologists but many evangelicals sign anti-evolution petition. The New York Times. https://www.nytimes.com/2006/02/21/science/sciencespecial2/21peti.html
Darwin, C. (1859). On the origin of species by means of natural selection, or the preservation of favoured races in the struggle for life. John Murray.
De Paula, T. H. A., & Botelho, M. R. A. (2022). Evolutionary economics matters: An overview of the extraordinary contributions of Nelson & Winter. Economia Ensaios, 37(Edisi Khusus), 4–24. https://seer.ufu.br/index.php/revistaeconomiaensaios/article/view/66689
Discovery Institute. (n.d.). A scientific dissent from Darwinism. Diakses 18 Mei 2026, dari https://dissentfromdarwin.org/
Discovery Institute. (n.d.b). Frequently asked questions (FAQ): Intelligent design. Diakses 18 Mei 2026, dari https://intelligentdesign.org/faq/
Discovery Institute. (2019, 12 Februari). Dr. Stanley Salthe, Professor Emeritus, Brooklyn College of the City University of New York. https://dissentfromdarwin.org/2019/02/12/dr-stanley-salthe-professor-emeritus-brooklyn-college-of-the-city-university-of-new-york/
Klinghoffer, D. (2014, 9 Oktober). Nature admits scientists suppress criticisms of neo-Darwinism to avoid lending support to intelligent design. Evolution News & Science Today. https://scienceandculture.com/2014/10/nature_admits_s/
Laland, K., Uller, T., Feldman, M., Sterelny, K., Müller, G. B., Moczek, A., Jablonka, E., & Odling-Smee, J. (2014). Does evolutionary theory need a rethink? Nature, 514(7521), 161–164. https://doi.org/10.1038/514161a
Luskin, C. (2021, Februari). Misconceptions about misconceptions: Examining a citation of my work. Evolution News. https://evolutionnews.org/2021/02/misconceptions-about-misconceptions-examining-a-citation-of-my-work/
Murmann, J. P., Aldrich, H. E., Levinthal, D., & Winter, S. G. (2003). Evolutionary thought in management and organization theory at the beginning of the new millennium. Journal of Management Inquiry, 12(1), 22–40. https://doi.org/10.1177/1056492602250516
National Center for Science Education. (2009, 12 Februari). Project Steve: n > 1000. https://ncse.ngo/project-steve-n-1000
National Center for Science Education. (2016). Project Steve. https://ncse.ngo/project-steve
NBC News. (2011, 8 September). Pre-human fossils viewed as “game-changer” for evolution. https://www.nbcnews.com/id/wbna44438221
Nelson, R. R., & Winter, S. G. (1982). An evolutionary theory of economic change. Belknap Press of Harvard University Press.
Nelson, R. R., & Winter, S. G. (2002). Evolutionary theorizing in economics. Journal of Economic Perspectives, 16(2), 23–46.
Open University. (n.d.). Evolution through natural selection: 10.4 Summary. OpenLearn. Diakses 18 Mei 2026, dari https://www.open.edu/openlearn/nature-environment/natural-history/evolution-through-natural-selection/content-section-4.1
Smithsonian National Museum of Natural History. (n.d.). Human origins: What does it mean to be human? Diakses 18 Mei 2026, dari https://naturalhistory.si.edu/education/school-programs/grades-6-12/human-origins-what-does-it-mean-be-human
Teece, D. J. (2022). Evolutionary economics, routines, and dynamic capabilities. Haas School of Business, University of California, Berkeley. https://haas.berkeley.edu/wp-content/uploads/Evolutionary-capabilities-final.pdf
University of California Museum of Paleontology. (n.d.). Natural selection: Charles Darwin & Alfred Russel Wallace. Diakses 18 Mei 2026, dari https://evolution.berkeley.edu/the-history-of-evolutionary-thought/1800s/natural-selection-charles-darwin-alfred-russel-wallace/