Nelson dan Winter (1982): Variasi, Seleksi, dan Retensi dalam Dinamika Perusahaan

Pada 1982, dua ekonom Amerika, Richard R. Nelson dan Sidney G. Winter, menerbitkan buku berjudul An Evolutionary Theory of Economic Change lewat Harvard University Press. Buku ini, sebagaimana disebut dalam katalog penerbitnya sendiri, memuat “serangan paling berkelanjutan dan serius terhadap ekonomi neoklasik mainstream dalam lebih dari empat puluh tahun” (Harvard University Press, n.d.).

Pertanyaannya sederhana, namun jawabannya mengubah lanskap pemikiran ekonomi: bagaimana perusahaan dan industri berubah seiring waktu? Nelson dan Winter menjawab dengan meminjam konsep yang tidak biasa untuk ilmu ekonomi, yaitu seleksi alam dari biologi.

Kalau ekonomi ortodoks selama puluhan tahun berasumsi bahwa perusahaan akan memaksimalkan profit dan pasar akan menemukan ekuilibrium, Nelson dan Winter datang dengan klaim yang berani: asumsi-asumsi itu, bagi mereka, tidak efektif untuk menganalisis inovasi teknologi dan dinamika kompetisi antarperusahaan. Sebagai gantinya, mereka membangun teori evolusioner yang rinci tentang perilaku bisnis (Harvard University Press, n.d.).

Tiga Argumen Inti

Argumen Pertama: Perusahaan Tidak Memaksimalkan Profit, Mereka Mencari

Dalam pandangan neoklasik, perusahaan diasumsikan sebagai entitas yang rasional dan mampu menghitung keputusan optimal untuk mencapai keuntungan maksimum. Nelson dan Winter menolak asumsi ini, namun bukan dengan menghapus motif profit. Sebaliknya, mereka mengatakan bahwa perusahaan memang termotivasi oleh profit dan terlibat dalam pencarian (search) untuk meningkatkan profit, tetapi perusahaan tidak memaksimalkan profit (Harvard University Press, n.d.).

Perusahaan, kata mereka, mencari solusi inovatif atau solusi imitatif untuk meningkatkan keuntungan, dengan perusahaan-perusahaan yang sukses tumbuh atas dasar yang kurang sukses. Proses ini fundamentalnya dinamis, karena perusahaan saling berinteraksi dan menciptakan lingkungan kompetitif relatif yang dihadapi masing-masing (Collins, 2013).

Argumen Kedua: Rutin Adalah Gen Perusahaan

Ini adalah kontribusi paling khas Nelson dan Winter. Mereka mengusulkan konsep routine (rutin) sebagai unit analisis dasar dalam ekonomi evolusioner. Dalam kata-kata mereka sendiri (Nelson & Winter, 1982, hlm. 14), sebagaimana dikutip oleh De Paula dan Botelho (2022, hlm. 7): “Istilah umum kami untuk semua pola perilaku perusahaan yang teratur dan dapat diprediksi adalah ‘rutin’. Kami menggunakan istilah ini untuk mencakup karakteristik perusahaan mulai dari rutin teknis yang spesifik untuk memproduksi sesuatu, prosedur perekrutan dan pemecatan, pemesanan inventaris baru, atau peningkatan produksi barang yang permintaannya tinggi, hingga kebijakan investasi, R&D, atau periklanan, dan strategi bisnis tentang diversifikasi produk dan investasi luar negeri. Dalam teori evolusi kami, rutin memainkan peran yang dimainkan gen dalam teori evolusi biologis.”

Konsep rutin ini elegan karena ia menangkap dua hal sekaligus. Pertama, rutin adalah cara perusahaan menyimpan pengetahuan dan pengalaman. Kedua, rutin diwariskan dari waktu ke waktu, dimodifikasi melalui pembelajaran, dan menjadi titik di mana seleksi pasar bekerja.

Argumen Ketiga: Variasi, Seleksi, Retensi

Dari analogi biologis ini, Nelson dan Winter membangun mekanisme tiga langkah yang menjelaskan perubahan ekonomi (Collins, 2013; Hutter, 2011):

Pertama, variasi muncul dari aktivitas pencarian perusahaan. Ketika perusahaan menghadapi tekanan atau peluang, mereka bereksperimen dengan rutin baru, mengimitasi pesaing, atau berinovasi.

Kedua, seleksi terjadi melalui pasar. Perusahaan dengan rutin yang lebih menguntungkan tumbuh dan berkembang, sementara yang kurang menguntungkan menyusut atau keluar. Akan tetapi, dalam pandangan Nelson dan Winter, aturan-aturan yang tidak optimal pun bisa bertahan dalam ekuilibrium karena path dependency (jalur ketergantungan). Lingkungan baru bisa tercipta seiring mikroevolusi berjalan, sehingga seleksi tidak selalu menghasilkan yang “terbaik” secara mutlak (Collins, 2013).

Ketiga, retensi terjadi ketika rutin yang berhasil tertanam dalam organisasi dan diwariskan ke periode berikutnya. Rutin yang gagal hilang bersama perusahaan yang membawanya.

Ada satu catatan menarik dari Jason Collins (2013) tentang label “evolusioner” ini. Ketika Nelson dan Winter menyebut pendekatan mereka evolusioner, itu tidak harus dipahami sebagai “evolusi melalui seleksi alam” dalam pengertian Darwinian yang ketat. Label evolusioner di sini berkaitan dengan fokus pada perubahan dinamis. Bahkan, meskipun mereka mengusulkan bahwa rutin dipandang sebagai gen, mereka tidak berusaha mengaitkan pendekatan mereka secara presisi pada biologi.

Apa yang Membedakannya dari Ekonomi Ortodoks

Empat perbedaan utama bisa diringkas, berdasarkan ringkasan Winter dan Nelson sendiri (1982, sebagaimana dirangkum dalam SSRN, 2009):

Pertama, soal motif. Teori evolusioner memandang perusahaan termotivasi oleh profit, tetapi tindakannya tidak diasumsikan memaksimalkan profit sebagaimana dalam teori ortodoks.

Kedua, soal ekuilibrium. Teori evolusioner menekankan kecenderungan perusahaan paling menguntungkan untuk mengusir perusahaan lain dari bisnis, tetapi tidak terfokus pada keadaan ekuilibrium industri.

Ketiga, soal perilaku. Teori evolusioner terkait dengan teori perilaku: ia memandang perusahaan, pada waktu tertentu, memiliki kapabilitas dan aturan keputusan tertentu, serta terlibat dalam berbagai operasi pencarian yang menentukan perilakunya. Sementara teori ortodoks memandang perilaku perusahaan bergantung pada penggunaan teknik maksimalisasi kalkulus biasa.

Keempat, soal kepastian. Dalam kata-kata Nelson dan Winter sendiri (1982, hlm. 276), sebagaimana dikutip oleh De Paula dan Botelho (2022): “Dalam teori evolusi, perangkat pilihan tidak diberikan dan konsekuensi dari setiap pilihan tidak diketahui.” Bandingkan dengan asumsi ortodoks yang mengandaikan informasi sempurna.

Contoh Penggunaan: Bagaimana Teori Ini Bekerja dalam Praktik

Pertama: Memahami Inovasi Teknologi dan Konsentrasi Industri

Nelson dan Winter tidak hanya mengajukan teori, mereka juga membangun model-model simulasi komputer untuk mengujinya. Caranya, mereka mensimulasikan perilaku sekumpulan perusahaan dalam satu industri selama puluhan periode waktu, lalu melihat pola apa yang muncul.

Salah satu temuan menarik menyangkut konsentrasi industri (kondisi di mana sebagian kecil perusahaan menguasai sebagian besar pasar). Mereka menemukan bahwa industri dengan perubahan teknologi cepat cenderung makin terkonsentrasi dibanding industri dengan kemajuan yang lambat (Winter & Nelson, 1982, sebagaimana dirangkum dalam SSRN, 2009). Kalau diterjemahkan ke konteks sehari-hari, industri seperti teknologi digital, semikonduktor, atau farmasi berbasis bioteknologi, yang teknologinya berubah cepat, biasanya hanya dikuasai segelintir pemain besar. Bandingkan dengan industri yang teknologinya lebih stabil, misalnya pertanian tradisional atau warung makan, di mana pelaku usaha kecil bisa tetap hidup berdampingan.

Pertanyaan logis berikutnya: apakah konsentrasi ini sesuatu yang pasti terjadi? Hasil simulasi mereka menjawab tidak. Pertumbuhan konsentrasi bisa berbeda-beda, tergantung strategi perusahaan. Salah satu temuan menariknya, konsentrasi cenderung lebih kecil ketika perusahaan-perusahaan di industri itu lebih banyak meniru daripada berinovasi murni. Logikanya, kalau semua perusahaan ramai-ramai meniru terobosan dari pemain lain, jarak antara pemimpin dan pengikut tidak terlalu jauh. Akan tetapi kalau hanya satu-dua perusahaan yang sanggup menciptakan terobosan benar-benar baru, sementara yang lain tertinggal, jurang itu makin lebar dan pasar makin terpusat.

Temuan ini punya implikasi penting untuk kebijakan publik. Pertanyaan yang sering muncul: apakah konsentrasi industri (yang membawa serta profit monopoli dan kesejahteraan sosial yang berkurang) adalah biaya yang harus ditanggung masyarakat agar bisa menikmati manfaat inovasi teknologi? (SSRN, 2009). Dengan kata lain, apakah kita harus rela “membayar” dengan dominasi segelintir raksasa supaya inovasi terus berjalan, atau ada cara lain agar inovasi tetap bergulir tanpa mengorbankan persaingan sehat?

Kedua: Menjelaskan Pertumbuhan Ekonomi dan Disparitas Antarnegara

Model Nelson dan Winter juga dipakai untuk menjawab pertanyaan klasik dalam ilmu ekonomi: mengapa ada negara yang produktivitasnya tinggi, sementara negara lain produktivitas per pekerjanya jauh tertinggal? Mengapa Jepang, Jerman, dan Korea Selatan bisa menghasilkan output ekonomi yang demikian besar per orang, sementara banyak negara berkembang masih jauh di bawahnya?

Pendekatan ekonomi ortodoks biasanya menjawab dengan satu kerangka: semua negara dianggap berada pada “fungsi produksi” yang sama, hanya berada di titik yang berbeda di sepanjang kurva itu (Hutter, 2011). Analoginya seperti perlombaan lari di lintasan yang sama, sebagian berlari di depan, sebagian masih di belakang, tetapi semuanya berlari di lintasan yang persis sama.

Nelson dan Winter menolak gambaran ini. Mereka menulis: “Dari perspektif evolusioner, pertumbuhan ekonomi di setiap negara, baik yang sudah maju maupun yang kurang berkembang, akan dipandang sebagai proses non-ekuilibrium yang melibatkan campuran perusahaan yang menggunakan teknologi dari era berbeda. Seiring waktu, campuran ini berubah. Di negara-negara yang lebih maju, teknologi baru memasuki campuran ketika penemuan terjadi” (Nelson & Winter, 1982, hlm. 171, sebagaimana dikutip dalam Hutter, 2011).

Di setiap negara, pada saat yang sama, ada perusahaan dengan mesin dan cara kerja dari tahun 1980-an, ada pula yang sudah menggunakan teknologi 2020-an. Industri tekstil di Bandung, misalnya, sebagian masih menggunakan mesin lawas dan rutin lama, sebagian sudah otomatis penuh dengan AI dan sensor. Bahkan dalam satu sektor pun, “campuran” ini ada. Yang membedakan negara maju dan negara berkembang bukan posisi mereka di satu garis lurus yang sama, melainkan komposisi dan dinamika campuran itu. Negara maju lebih cepat mengintegrasikan teknologi baru begitu ditemukan, sementara di negara berkembang, teknologi baru cenderung lebih lama menyebar dan teknologi lama lebih lama bertahan.

Ini cara pandang yang sangat berbeda. Alih-alih melihat negara berkembang sekadar “tertinggal di lintasan yang sama”, model evolusioner melihat setiap negara sebagai ekosistem unik berisi perusahaan-perusahaan dengan rutin dan teknologi dari era yang berbeda, hidup berdampingan. Konsekuensinya untuk kebijakan, mengejar ketertinggalan bukan sekadar soal “berlari lebih cepat di lintasan yang sama”, melainkan soal bagaimana mempercepat penyerapan teknologi baru dan membantu perusahaan-perusahaan domestik mengubah rutin mereka.

Ketiga: Inspirasi untuk Sistem Inovasi Nasional dan Regional

Karya Nelson dan Winter menjadi inspirasi langsung bagi pendekatan innovation systems yang berkembang pesat sejak akhir 1980-an. Penelitian tentang sistem inovasi lokal mencakup serangkaian studi terkini dari berbagai bidang ilmu di luar ekonomi, seperti geografi dan sosiologi, dan banyak yang langsung terinspirasi pendekatan sistem inovasi dari teori evolusioner (De Paula & Botelho, 2022).

Salah satu contoh empiris menarik dari konteks negara berkembang yang dibahas Mazzoleni dan Nelson (2007), sebagaimana dirujuk oleh De Paula dan Botelho (2022), adalah pengembangan produksi kedelai di cerrado Brasil (mirip savana), yang melibatkan berbagai institusi penelitian dan pengembangan teknologi pertanian. Studi kasus seperti ini menunjukkan bagaimana sistem institusi (universitas, lembaga riset, kebijakan publik) dan rutin perusahaan saling berevolusi untuk menghasilkan kapabilitas baru.

Keempat: Fondasi untuk Konsep Dynamic Capabilities

Mungkin warisan yang paling berdampak luas di bidang strategi bisnis adalah bagaimana kerangka Nelson dan Winter menjadi fondasi konsep dynamic capabilities yang dikembangkan David Teece. Pandangan tentang perilaku perusahaan yang melekat dalam teori ekonomi evolusioner sangat selaras dengan pandangan tentang perusahaan dalam teori organisasi modern. Penekanan pada akumulasi kapabilitas spesifik perusahaan menarik bagi sejarawan bisnis sebagai cara yang berguna untuk membingkai analisis historis terperinci tentang proses kompetitif. Banyak penelitian di bidang strategi bisnis menampilkan kapabilitas khas sebagai dasar keunggulan kompetitif dan dynamic capabilities sebagai kunci sukses jangka panjang dalam ekonomi yang berubah cepat (Nelson & Winter, 2002).

Kelima: Memahami Inovasi dalam Praktik Medis

Salah satu aplikasi lanjutan yang menarik adalah dalam dunia inovasi medis. Sebuah buku yang dipimpin Nelson dkk menghadirkan kumpulan studi kasus empiris yang menampilkan spektrum luas inovasi medis, menelisik mengapa praktik medis berkembang tidak merata antar dan dalam berbagai area penyakit, dan bagaimana hal ini berhubungan dengan kondisi inovasi di setiap area praktik (De Paula & Botelho, 2022). Walaupun tidak ada jalur tunggal menuju inovasi medis yang sukses, ciri-ciri yang berulang dan khas dapat diamati di seluruh area praktik klinis yang berbeda. Inilah inti pendekatan evolusioner: alih-alih mencari “resep optimal”, mereka mendokumentasikan pola variasi-seleksi-retensi dalam konteks-konteks yang berbeda.

Warisan dan Relevansi

Mengapa karya 1982 ini masih dibahas dan dikutip hari ini? Jawabannya, karena fokus mereka pada perubahan dinamis dan pembelajaran organisasi terasa lebih mendekati realitas perusahaan modern. Perusahaan di abad 21, dari Apple ke Toyota, dari Gojek ke perusahaan kedelai di cerrado Brasil, terlihat lebih sebagai entitas yang terus mencari, mengadaptasi rutin, gagal di sebagian pasar dan sukses di yang lain, daripada sebagai kalkulator yang memaksimalkan profit.

Dalam paper terbaru mereka di Journal of Economic Perspectives, Nelson dan Winter (2002) mengulang argumen pokoknya: perilaku mikro perusahaan diatur oleh keterampilan dan rutin yang dibentuk oleh pembelajaran dan seleksi. Mereka kemudian menerapkan kerangka ini ke area aplikasi utama, termasuk analisis proses kompetitif di industri yang dinamis secara teknologi dan evolusi institusi serta teknologi (Nelson & Winter, 2002).

Bagi pengajar, peneliti, dan praktisi di bidang manajemen, ekonomi digital, dan dynamic capabilities, karya Nelson dan Winter (1982) bukan sekadar bahan rujukan, tetapi fondasi yang masih hidup. Ia mengingatkan kita bahwa perubahan ekonomi adalah proses biologis dalam arti tertentu: bertahap, kontingen, dan tidak ada jalan optimal yang ditentukan sebelumnya.


Daftar Referensi

Collins, J. (2013, 12 November). Nelson and Winter’s An Evolutionary Theory of Economic Change. Jason Collins blog. https://www.jasoncollins.blog/posts/nelson-and-winters-an-evolutionary-theory-of-economic-change

De Paula, T. H. A., & Botelho, M. R. A. (2022). Evolutionary economics matters: An overview of the extraordinary contributions of Nelson & Winter. Economia Ensaios, 37(Edisi Khusus), 4–24. https://doi.org/10.14393/REE-v37nesp.ago.a2022-66689

Harvard University Press. (n.d.). An evolutionary theory of economic change. Diakses 18 Mei 2026, dari https://www.hup.harvard.edu/books/9780674272286

Hutter, R. (2011). Evolution beyond biology: Examining the evolutionary economics of Nelson and Winter. Academia.edu. https://www.academia.edu/14441247/Evolution_Beyond_Biology_Examining_the_Evolutionary_Economics_of_Nelson_and_Winter

Mazzoleni, R., & Nelson, R. R. (2007). Public research institutions and economic catch-up. Research Policy, 36(10), 1512–1528.

Nelson, R. R., & Winter, S. G. (1982). An evolutionary theory of economic change. Belknap Press of Harvard University Press.

Nelson, R. R., & Winter, S. G. (2002). Evolutionary theorizing in economics. Journal of Economic Perspectives, 16(2), 23–46. https://doi.org/10.1257/0895330027247

Winter, S. G., & Nelson, R. R. (1982). An evolutionary theory of economic change [SSRN abstract, 2009]. SSRN. https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1496211