Membaca Peta AI untuk Peneliti

,

Coba hitung berapa infografis “AI untuk peneliti” yang melintas di linimasa bulan ini. Bentuknya nyaris seragam: logo berjajar, nama aplikasi, dan satu janji yang sama, riset jadi lebih cepat.

Salah satunya beredar beberapa waktu lalu. Judulnya sederhana, AI Tools for Researchers, dengan dua kolom: 2025 dan 2026. Sebuah panah melengkung di antaranya, seolah alat di kolom kiri sudah waktunya pensiun dan diganti alat di kolom kanan.

Panah kecil itu mengundang pertanyaan yang lebih besar. Apakah alat yang lebih baru otomatis lebih baik? Dengan dua puluh pilihan di depan mata, alat mana yang benar-benar dibutuhkan seorang peneliti, dan mana yang sekadar menarik untuk dicoba?

Membaca Panah dengan Hati-hati

Infografis yang disusun Faheem Ullah ini memetakan sepuluh tahap kerja riset, mulai dari kajian literatur hingga pemetaan sitasi. Setiap tahap dipasangkan dengan dua alat: satu di kolom 2025, satu di kolom 2026. Totalnya dua puluh aplikasi.

Sebagai peta awal, infografis ini berguna. Ia mengingatkan bahwa AI kini hadir di hampir setiap mata rantai riset, bukan hanya saat menulis. Namun ada tiga hal yang patut dicermati sebelum menjadikannya panduan belanja.

Pertama, panah itu bukan berarti penggantian. EndNote sudah dipakai peneliti sejak puluhan tahun lalu dan masih menjadi standar di sejumlah kampus. Elicit dan Scite pun tetap aktif dikembangkan. Kolom 2026 lebih tepat dibaca sebagai “pendatang baru yang layak dilirik”, bukan “pengganti resmi”.

Kedua, pasangan di setiap baris tidak selalu sebanding. Rectoly, misalnya, ditempatkan sejajar dengan EndNote pada tahap manajemen referensi. Padahal Rectoly sendiri memosisikan diri sebagai aplikasi untuk membaca dan memberi anotasi pada makalah, sementara urusan menyimpan koleksi tetap diserahkan kepada pengelola referensi seperti Zotero. Membandingkan keduanya mirip membandingkan lemari buku dengan kacamata baca.

Ketiga, beberapa kategori saling tumpang tindih. “Literature Review” dan “Literature Review & Evidence Synthesis” muncul sebagai dua baris terpisah, padahal dalam praktik keduanya kerap dikerjakan dengan alat yang sama. Sebaliknya, satu baris khusus disediakan untuk riset ilmu hayati, bidang yang tidak relevan bagi sebagian besar peneliti bisnis dan sosial.

Dua Puluh Alat dalam Satu Tabel

Berikut isi infografis dalam bentuk tabel, lengkap dengan tautan ke situs resmi setiap aplikasi. Tautan diperiksa per 26 Oktober 2026; fitur dan harga bisa berubah sewaktu-waktu.

Tahap risetKolom 2025Kolom 2026
Kajian literaturPaperguideAnswerThis
Penulisan makalah risetBioRenderGatsbi
Pemetaan pengetahuan risetHeptabasePonder
Penelusuran sumber akademikSciteSourcely
Penulisan akademikJenni AIYomu AI
Kajian literatur dan sintesis buktiElicitResearchCollab
Riset ilmu hayatiEureka (Patsnap)Noah AI
Umpan balik tulisan akademikResearchPalThesify
Manajemen referensiEndNoteRectoly
Pemetaan sitasiLitmapsResearchRabbit

Satu catatan kecil: BioRender di baris penulisan makalah sebenarnya lebih dikenal sebagai alat pembuat ilustrasi ilmiah, bukan penulis naskah. Ia membantu menulis dalam arti menyajikan gambar yang rapi di dalam makalah.

Alih-alih menghafal dua puluh nama, lebih mudah memilahnya berdasarkan pekerjaan yang dibantu. Ternyata hanya ada empat.

1. Menemukan dan memetakan literatur

Di tahap inilah manfaat alat AI terasa nyata. Elicit, Paperguide, AnswerThis, dan ResearchCollab membantu mencari makalah, meringkasnya, lalu menyusun temuan ke dalam tabel perbandingan. Scite punya keunggulan yang khas: ia menunjukkan apakah sebuah makalah dikutip untuk didukung, dibantah, atau sekadar disebut.

Litmaps dan ResearchRabbit bekerja dengan cara lain. Keduanya menggambar jaringan sitasi, sehingga kita bisa melihat makalah mana yang menjadi simpul dan wilayah mana yang masih renggang. Bagi yang sedang mencari celah penelitian, peta semacam ini ibarat ember air bagi tukang tambal ban.

Sourcely perlu disikapi lebih hati-hati. Ia bekerja terbalik: kita menempelkan klaim atau paragraf, lalu ia mencarikan sumber yang cocok. Praktis memang, tetapi cara ini rawan menjebak kita mencari pembenaran, bukan pengetahuan.

2. Menulis dan menerima umpan balik

Kelompok ini membentang dari yang membantu berpikir hingga yang mengambil alih pikiran. Di satu ujung ada Thesify, yang secara terbuka menyatakan tidak akan menuliskan naskah untuk penggunanya. Ia memberi umpan balik tentang struktur, kejelasan argumen, dan kekuatan bukti. ResearchPal menggabungkan penyunting teks, obrolan dengan PDF, dan pengelolaan sitasi.

Jenni AI dan Yomu AI berada di tengah: membantu melanjutkan kalimat dan merapikan paragraf, tetapi penulis masih memegang kemudi. Yomu, omong-omong, dikembangkan tim yang sama dengan Sourcely.

Di ujung lain ada Gatsbi, yang mampu menghasilkan draf makalah lengkap dengan tabel, grafik, dan daftar pustaka dalam hitungan menit. Kecepatan ini justru memicu kegelisahan di kalangan akademisi, karena batas antara alat bantu dan pabrik makalah menjadi tipis. BioRender tidak termasuk dalam spektrum ini; ia alat untuk membuat ilustrasi ilmiah.

3. Mengelola pengetahuan

EndNote menyimpan dan memformat referensi, pekerjaan yang membosankan tetapi tak tergantikan. Rectoly melengkapinya dari sisi membaca, termasuk menerjemahkan makalah dengan model yang berjalan di perangkat sendiri. Heptabase dan Ponder menawarkan kanvas visual untuk menghubungkan catatan, konsep, dan sumber. Keduanya cocok bagi peneliti yang berpikir dengan peta, bukan dengan daftar.

4. Riset bidang khusus

Eureka dari Patsnap dan Noah AI dirancang untuk ilmu hayati, farmasi, dan riset biomedis, termasuk penelusuran paten dan data uji klinis. Bagi peneliti bisnis atau sosial, keduanya cukup diketahui saja.

Empat Pertanyaan Sebelum Berlangganan

Setiap alat di atas menjanjikan waktu yang lebih hemat. Janji itu bisa ditepati, asalkan empat pertanyaan berikut dijawab lebih dulu.

Apakah sitasinya nyata? Model bahasa dikenal pandai merangkai referensi yang terdengar meyakinkan tetapi tidak pernah ada. Alat yang menelusuri basis data makalah sungguhan memang lebih aman, tetapi tidak kebal salah kutip. Aturannya sederhana: setiap sumber yang masuk daftar pustaka harus pernah dibuka dan dibaca, minimal bagian yang dikutip.

Apakah penggunaannya diizinkan? Sebagian besar penerbit jurnal kini menolak AI sebagai penulis dan meminta penggunaannya diungkapkan dalam naskah. Kampus pun mulai menyusun pedoman serupa untuk skripsi dan tesis. Baca kebijakan jurnal sasaran dan pedoman institusi sebelum menyerahkan naskah.

Ke mana data kita pergi? Mengunggah naskah yang belum terbit, data responden, atau draf proposal hibah ke layanan pihak ketiga berarti menyerahkan sebagian kendali atas data tersebut. Periksa kebijakan privasinya, terutama untuk data yang dilindungi perjanjian kerahasiaan dengan responden.

Apakah sepadan dengan biayanya? Mayoritas alat ini memakai skema freemium: gratis untuk mencoba, berbayar untuk fitur penting. Langganan bulanan yang tampak kecil bisa menumpuk bila diambil sekaligus. Sebelum membayar, cek dulu apa yang sudah disediakan perpustakaan kampus, dan pertimbangkan alternatif gratis seperti Zotero untuk manajemen referensi.

Kendaraan dan Pengemudinya

Kembali ke panah melengkung di infografis tadi. Ia menyiratkan bahwa riset bergerak maju seiring alat yang makin baru. Kenyataannya, yang bergerak maju adalah pertanyaan peneliti. Alat hanya mempercepat langkah menuju jawaban, atau mempercepat langkah menuju jalan buntu, tergantung siapa yang memegang kemudi.

Seorang peneliti tidak perlu dua puluh aplikasi. Ia cukup tahu di tahap mana pekerjaannya tersendat, lalu memilih satu alat yang tepat untuk tahap itu. Kalau kesulitannya ada di menemukan literatur, mulailah dari peta sitasi. Kalau kesulitannya ada di merangkai argumen, carilah alat yang memberi umpan balik, bukan yang menuliskan jawaban.

Pada akhirnya, alat bisa berganti setiap tahun. Kolom 2027 barangkali sudah disiapkan seseorang di luar sana. Yang tetap sama hanyalah satu kepala di depan layar, kepala yang harus membaca, menimbang, dan memutuskan sendiri apa yang layak dipercaya.


Sumber

  • Ullah, F. (2026). AI tools for researchers: 2025 → 2026 [Infografis].
  • Situs resmi setiap aplikasi sebagaimana ditautkan dalam tabel, diakses 26 Oktober 2026.