Catatan dari panel diskusi Institute for New Economic Thinking, “Reversing Dual Economies?”
Bayangkan satu negeri yang menampung dua ekonomi sekaligus. Yang satu nyaman: orang kaya makin kaya, pasar saham terus menanjak, perusahaan-perusahaan besar mencatat laba berlipat. Yang lain meredup: upah stagnan, pekerjaan rapuh, dan mereka yang di bawah justru kian tertinggal. Pertanyaannya sederhana tetapi mengganggu. Bagaimana satu sistem ekonomi yang sama bisa melahirkan dua nasib yang begitu berlawanan?
Pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak sebuah panel diskusi yang digelar Institute for New Economic Thinking (INET). Lima ekonom dipertemukan untuk membedah fenomena yang mereka sebut dual economy (ekonomi ganda). Bukan sekadar mendiagnosis gejalanya, tetapi mencari akar dan, kalau mungkin, jalan keluarnya. Yang menarik, masing-masing pembicara memasuki persoalan dari pintu yang berbeda: ada yang lewat ruang rapat perusahaan, ada yang lewat data makroekonomi, ada yang lewat sejarah peran negara, dan ada pula yang lewat perdebatan lama soal jaminan pendapatan. Benang merahnya satu, dan baru terlihat utuh di ujung diskusi.
Ketika Perusahaan Berhenti Menanam, Mulai Memerah
William Lazonick membuka dengan sebuah pembedaan yang ia anggap sering luput. Menurutnya, yang terjadi di Amerika Serikat bukanlah sekadar ekonomi ganda, melainkan ekonomi yang kejam. Ia menunjuk grafik yang sudah kerap dikutip: dari era pascaperang sampai sekitar 1980, kenaikan pendapatan relatif merata di seluruh lapisan masyarakat. Setelah itu, hampir seluruh tambahan pendapatan mengalir ke kelompok teratas, sementara yang lain nyaris diam di tempat.
Lazonick menelusuri sebab perubahan itu ke jantung perusahaan. Dahulu, katanya, korporasi besar bekerja dengan logika yang ia sebut retain and reinvest, menahan sebagian laba lalu menanamkannya kembali ke tenaga kerja. Karyawan dipertahankan, dilatih, dan dibiarkan menumbuhkan karier di satu perusahaan selama bertahun-tahun. Ketika perusahaan untung, sebagian keuntungan itu dibagi. Begitulah upah bisa bergerak seiring produktivitas.
Sejak akhir 1970-an dan awal 1980-an, logika itu berbalik menjadi apa yang ia namai downsize and distribute: pangkas upah, kurangi tenaga kerja, pindahkan produksi ke luar negeri, lalu bagikan kas perusahaan kepada pemegang saham. Salurannya yang lama adalah dividen. Yang baru, dan menurut Lazonick paling merusak, adalah pembelian kembali saham (stock buyback). Ia mencatat sebuah perubahan aturan di lembaga pengawas pasar modal pada awal 1980-an yang membuka pintu praktik ini, dan sejak itu angkanya meledak. Pada satu dekade terakhir yang ia amati, perusahaan-perusahaan besar menghabiskan triliunan dolar untuk membeli kembali sahamnya sendiri, porsi yang amat besar dari laba bersih mereka.
Bagi Lazonick, persoalannya bukan semata pada besarnya gaji para eksekutif, melainkan pada apa yang membuat mereka terdorong melakukannya. Sebagian besar imbalan para petinggi perusahaan berbentuk saham, sehingga mereka punya insentif untuk mengangkat harga saham lewat buyback, sekalipun itu berarti menguras sumber daya yang semestinya kembali ke pekerja dan inovasi.
Akar ideologisnya, kata Lazonick, ada di ruang kuliah. Teori keuangan yang mengajarkan bahwa perusahaan harus dijalankan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham bertumpu pada asumsi bahwa hanya pemegang saham yang menanggung risiko. Padahal, ia berargumen, pembayar pajak dan pekerja pun ikut menanggung risiko ketika mendanai dan membangun perusahaan. Ia bahkan menyebut teori perusahaan yang diajarkan di hampir semua buku teks ekonomi sebagai sesuatu yang menjadikan perusahaan paling tidak produktif sebagai fondasi ekonomi yang paling efisien — sebuah anggapan yang menurutnya keliru, dan menurutnya pula nyata-nyata membuat orang kehilangan pekerjaan.
Bukan Mesin yang Salah, tetapi Upah yang Tertekan
Servaas Storm mengambil sudut yang berbeda: dari ruang rapat perusahaan, ia naik ke tataran makroekonomi. Ekonomi Amerika, menurutnya, mengidap dua penyakit yang selama ini dianggap terpisah. Yang pertama, melambatnya pertumbuhan potensial yang sering disebut secular stagnation. Yang kedua, menyusutnya kelas menengah. Tesis Storm: dua penyakit ini punya satu akar yang sama.
Penjelasan arus utama, kata Storm, menuding sisi pasokan. Produktivitas melambat, maka upah pun melambat. Storm membalik urutan itu. Justru perlambatan pertumbuhan upah riil-lah yang menyeret turun pertumbuhan produktivitas. Ia mengutip pengamatan lama tentang “pekerja yang tertekan rasa tidak aman akan pekerjaannya” untuk menggambarkan bagaimana upah yang ditahan akhirnya menggerus produktivitas itu sendiri.
Tetapi melihat angka rata-rata, kata Storm, menyesatkan. Ekonomi harus dibedah menurut strukturnya. Ada sektor inti (manufaktur, keuangan, informasi) yang produktivitasnya tetap melaju kencang. Ada pula sektor pinggiran berupah rendah: makanan cepat saji, kebersihan, layanan kesehatan, pendidikan, perawatan lansia. Pekerjaan-pekerjaan ini bernilai sosial besar, tetapi dibayar murah dan secara hakikat berproduktivitas rendah.
Dari sinilah dinamika ekonomi ganda itu bekerja. Ketika teknologi baru (otomasi, kecerdasan buatan) mengangkat produktivitas di sektor inti, sektor itu justru melepas pekerja. Tanpa jaring pengaman yang memadai, para pekerja yang tersingkir berdesakan ke sektor pinggiran. Akibatnya upah di sana tertekan lebih jauh. Dan karena bagian terbesar ekonomi kini berupah rendah, permintaan agregat ikut turun. Mengikuti gagasan klasik bahwa pembagian kerja dibatasi oleh luasnya pasar, Storm berargumen bahwa permintaan yang lesu pada akhirnya turut menghambat pertumbuhan produktivitas di sektor inti itu sendiri.
Storm menutup dengan sejumlah usul: kebijakan untuk menjaga upah di sektor yang bernilai sosial tinggi namun dibayar rendah, gagasan tentang batas bawah sekaligus batas atas pendapatan, pembangunan kembali daya tawar pekerja yang ia sebut runtuh setelah 1980-an, hingga penafsiran ulang gagasan Keynes tentang sosialisasi investasi. Ia menyebut dirinya seorang “pragmatis yang punya visi”, dan mengingatkan bahwa banyak hal yang hari ini tampak mustahil pada akhirnya memang harus diperjuangkan.
Negara Bukan Sekadar Penambal: Dari Mana Nilai Sebenarnya Datang
Mariana Mazzucato meneruskan justru dari titik yang ditinggalkan Storm: gagasan Keynes tentang sosialisasi investasi. Jika kedua pembicara sebelumnya menuntut teori tentang perusahaan, Mazzucato menuntut teori tentang negara bukan hanya sebagai penanam modal darurat saat krisis, melainkan sepanjang siklus. Tanpa itu, katanya, yang kita peroleh adalah inovasi yang lebih sedikit, finansialisasi yang lebih besar, dan ketimpangan yang lebih dalam.
Inti argumennya menyentuh pertanyaan paling mendasar: dari mana nilai dan kekayaan sebenarnya berasal? Pandangan yang lazim menempatkan bisnis sebagai pencipta nilai, sementara negara dianggap hanya membagi ulang atau, paling banter, memuluskan dan menanggung risiko. Mazzucato membantah gambaran itu. Teknologi-teknologi serba guna yang menjadi penggerak pertumbuhan, katanya, lahir dari perubahan yang diarahkan secara sengaja oleh kebijakan publik.
Ia memakai telepon pintar sebagai contoh. Internet, GPS, asisten suara, layar sentuh, teknologi-teknologi di balik produk yang kita genggam itu didanai oleh program-program publik yang ambisius dan terarah. Lembaga-lembaga riset negara, katanya, sering bekerja tanpa terlebih dulu memikirkan komersialisasi; mereka mengejar misi besar, dan justru dari sanalah limpahan manfaat itu mengalir. Risiko hari ini, menurut Mazzucato, adalah ketika lembaga-lembaga semacam itu ditekan untuk mendahulukan komersialisasi.
Mazzucato menunjuk bank-bank pembangunan publik yang tidak sekadar menambal kegagalan pasar, tetapi mengarahkan pembiayaan ke sektor berisiko tinggi yang ditinggalkan modal swasta. Ia juga menyoroti ketimpangan perlakuan: ketika sebuah perusahaan energi surya gagal dan menanggung kerugian publik, negara diminta menarik diri; tetapi ketika negara “memilih” perusahaan yang kemudian sukses, jasa itu nyaris tak diakui. Seandainya negara bersikap sebagai penanam modal terdepan (menyusun portofolio yang ikut menikmati sebagian keuntungan, bukan hanya menanggung kerugian) keuntungan dari yang berhasil bisa membiayai kerugian yang tak terelakkan dan mendanai putaran investasi berikutnya.
Dari sini Mazzucato menarik kesimpulannya: persoalannya bukan sekadar memajaki kekayaan, melainkan menyusun ulang teori tentang dari mana kekayaan itu berasal. Penciptaan nilai, katanya, bersifat kolektif. Selama proses kolektif itu tidak diakui, yang akan terus berlangsung adalah pengambilan nilai yang menyamar sebagai penciptaan nilai dan ujungnya tetap sama: ketimpangan yang melebar, finansialisasi yang menguat, inovasi yang menyusut.
Jaminan Pendapatan: Obat Mujarab atau Pisau Bermata Dua?
Mario Seccareccia mengarahkan diskusi ke sebuah usulan kebijakan yang kerap ditawarkan sebagai obat segala penyakit: jaminan pendapatan. Ia mulai dari sejarah. Pola pertumbuhan yang mengaitkan upah dengan produktivitas, katanya, bukanlah aturan baku. Selama hampir seluruh sejarah industri, yang lazim justru pemisahan antara keduanya, upah cenderung mendekam di sekitar tingkat subsisten. Hanya ada satu periode pengecualian: kira-kira tiga dekade emas setelah Perang Dunia Kedua, ketika upah dan produktivitas sempat bergerak seiring.
Yang membuat periode itu istimewa, kata Seccareccia, bukan keajaiban pasar, melainkan kerangka kelembagaan: kebijakan menuju kesempatan kerja penuh, cadangan tenaga kerja yang menipis, dan sistem pendukung sosial yang dibangun sejak masa antarperang. Begitu kerangka itu surut (digantikan globalisasi dan finansialisasi) pemisahan upah dan produktivitas pun kembali.
Lalu, mampukah jaminan pendapatan mengembalikan keadaan? Seccareccia membedakan dua bentuk. Yang pertama, pendapatan dasar universal yang diberikan sebagai tambahan penuh. Yang kedua, model pajak pendapatan negatif ala Milton Friedman, dengan tingkat pemotongan tertentu terhadap pendapatan kerja. Ia mengingatkan bahwa Friedman dan sejumlah ekonom pasar bebas justru mendukung gagasan jaminan pendapatan, bukan untuk menambah jumlah penerima bantuan, melainkan untuk mengeluarkan orang dari bantuan dan mendorong mereka menerima pekerjaan apa pun.
Di situlah letak pisau bermata duanya. Menurut Seccareccia, jika tidak dirancang hati-hati, jaminan pendapatan justru bisa melemahkan daya tawar pekerja. Adanya pendapatan penyangga membuat pekerja lebih mudah menerima pemotongan upah pasar. Efek ini bergantung pada besarnya jaminan: bila terlalu kecil sehingga orang tak bisa hidup dengannya, tekanan ke bawah pada upah justru menguat. Karena itu, katanya, jaminan pendapatan baru akan membantu bila disertai batas-batas lain seperti upah minimum dan kebijakan menuju kesempatan kerja penuh. Tanpa itu, alih-alih menyembuhkan, ia berisiko memperdalam dualisme yang hendak diobati.
Bukan Dua, Melainkan Tiga Kelas
Lance Taylor diberi peran menanggapi, dan ia memulai dengan koreksi: negara-negara kaya, katanya, bukan hanya punya ekonomi ganda, tetapi ekonomi tiga lapis. Menggabungkan data distribusi pendapatan dengan neraca nasional dan data sistem keuangan, ia memetakan tiga kelas. Lapisan satu persen teratas pada dasarnya kapitalis, pendapatan mereka bersumber dari keuntungan modal, bunga, dividen, dan pendapatan usaha, dengan bagian yang disebut “upah” pun sebagiannya sebenarnya bonus dan imbalan modal. Kelas menengah, kira-kira persentil ke-60 hingga ke-99, sebagian besar hidup dari upah. Sementara enam puluh persen terbawah memperoleh pendapatan dari upah, transfer, dan sedikit sumber lain.
Taylor menambahkan temuan yang menggugah: di banyak negara maju, enam puluh persen terbawah memiliki tabungan negatif, mereka praktis tak mampu menumpuk kekayaan. Distribusi kekayaan pun timpang, dengan bagian terbesar terkumpul di puncak.
Menanggapi para pembicara sebelumnya, Taylor menimbang model Storm dan menilainya menarik justru karena menggambarkan ekonomi yang benar-benar kejam: bila pekerja terdorong ke sektor stagnan, produktivitas di sana ikut turun. Terhadap Lazonick, ia membenarkan sorotan soal lonjakan imbalan berbasis saham, sambil menekankan bahwa pendapatan satu persen teratas sebenarnya bertumpu pada modal secara luas. Terhadap Mazzucato, ia mengangkat satu pertanyaan terbuka: gagasan tentang perusahaan inovatif maupun penciptaan nilai kolektif memang kokoh secara mikroekonomi, tetapi mampukah ia menggantikan ideologi nilai pemegang saham sebagai cara pandang yang menggerakkan banyak orang?
Soal jaminan pendapatan, Taylor menambahkan kalkulasi makro. Memberi setiap penduduk usia kerja sejumlah uang per tahun, hitungnya, bisa menyamai besarnya seluruh program transfer yang sudah ada, dan jumlah itu pun belum tentu memadai untuk hidup layak dalam konteks Amerika. Proyeksinya menunjukkan bahwa kebijakan yang hanya menyentuh pasar tenaga kerja paling-paling menurunkan ketimpangan sekitar separuh dari kenaikannya selama empat dekade terakhir; menambahkan semacam dana kesejahteraan bisa menekan ketimpangan kekayaan lebih jauh. Pesannya: membalik empat puluh tahun ketimpangan bukan perkara mudah, dan tampaknya akan memakan waktu lama.
Penarikan Benang Merah
Dari lima pintu masuk yang berbeda, satu pola muncul. Lazonick menunjukkan perusahaan yang berhenti menanam dan mulai memerah. Storm memperlihatkan upah tertekan yang menyeret turun produktivitas dan permintaan. Mazzucato mengingatkan bahwa negara telah lama menjadi pencipta nilai yang jasanya tak diakui. Seccareccia memperingatkan bahwa obat yang ditawarkan bisa berbalik menjadi racun bila kerangka kelembagaannya keliru. Taylor memetakan tiga kelas yang jaraknya kian menganga.
Konsentrasi pendapatan di puncak dan hilangnya pekerjaan kelas menengah, demikian kesimpulan yang mengikat seluruh diskusi, bukanlah dua gejala yang terpisah, melainkan satu peristiwa yang sama dilihat dari sisi yang berbeda. Ekonomi ganda bukan kecelakaan teknologi, dan bukan pula takdir pasar. Ia produk dari pilihan-pilihan: tentang bagaimana perusahaan dijalankan, bagaimana upah diperlakukan, dan bagaimana peran negara dipahami.
Ketika seorang penanya dari hadirin meminta secercah harapan di tengah lingkaran setan antara kekayaan, kekuasaan, dan kebijakan, jawaban para panelis bertemu pada satu titik. Selama cara pandang lama tentang asal-usul nilai belum digugat, dan selama tak ada kekuatan penyeimbang yang dibangun kembali bagi mereka yang di bawah, dualisme itu tak akan berhenti dengan sendirinya. Perubahan, kata mereka, menuntut pemikiran baru, kosakata baru, dan keberanian untuk menamai ulang apa yang selama ini dianggap sudah selesai.
Disarikan dari panel diskusi Institute for New Economic Thinking, “Reversing Dual Economies?”, menampilkan William Lazonick, Servaas Storm, Mariana Mazzucato, Mario Seccareccia, dan Lance Taylor.