Pernahkah Anda memfotokopi sebuah dokumen, lalu memfotokopi hasil fotokopinya, lalu memfotokopi hasil yang itu lagi? Tiga atau empat kali saja, tulisannya mulai kabur. Sepuluh kali, hampir tak terbaca. Tidak ada yang merusaknya dengan sengaja. Ia rusak hanya karena disalin dari salinan, terus-menerus, tanpa pernah kembali ke yang asli.
Saya teringat fotokopi itu ketika memikirkan satu kebiasaan yang sedang tumbuh di mana-mana: orang bertanya kepada mesin, menerima jawaban, lalu menempelnya begitu saja. Cepat, rapi, dan tampak benar. Tapi diam-diam ada sesuatu yang ikut hilang di setiap salinan, dan yang hilang itu bukan informasinya.
Sebelum jauh, saya ingin menaruh dulu inti tulisan ini di depan, supaya jelas ke mana arahnya. Yang sebenarnya dipertaruhkan di era kecerdasan buatan bukanlah kecerdasan buatannya. Melainkan apakah kecerdasan asli kita masih dilatih, atau dibiarkan menganggur.
Mari kita runut dari mana pengetahuan itu sebenarnya datang.
Seseorang mengambil dari AI. AI memberi dari apa yang ia pelajari, dan yang ia pelajari adalah tumpukan tulisan manusia di masa lalu: jurnal, buku, artikel, penelitian terdahulu. AI tidak pergi ke perpustakaan. Ia tidak turun ke lapangan. Ia tidak menemukan apa pun yang baru. Ia mengolah ulang yang sudah ada, lalu menyajikannya kembali dengan rapi.
Selama ini terdengar tidak masalah. Toh informasinya benar. Tapi coba bayangkan ke depan sedikit. Bila makin banyak orang menulis dengan cara begitu (mengambil dari AI, menempel, selesai), maka makin banyak tulisan di dunia ini yang isinya adalah daur ulang. Dan tulisan-tulisan daur ulang itu, pada gilirannya, menjadi bahan ajar bagi AI generasi berikutnya.
Salinan dari salinan. Fotokopi dari fotokopi.
Ada satu kata yang pas untuk gejala ini, dipinjam dari dunia kedokteran: regurgitasi, yaitu memuntahkan kembali sesuatu yang sudah ditelan, sebelum sempat dicerna. Bayi melakukannya dengan susu. Dan rupanya, dengan cara yang lebih halus, begitu pula yang kita lakukan dengan pengetahuan: menelannya dari mesin, lalu memuntahkannya kembali ke tulisan, ujian, atau percakapan, tanpa pernah benar-benar dicerna oleh akal. Bedanya, regurgitasi pada bayi adalah tanda tubuh yang sehat sedang belajar. Regurgitasi pengetahuan adalah tanda akal yang berhenti bekerja.
Ilmu tetap beredar. Bahkan terlihat makin banyak, makin cepat, makin mudah diakses. Tapi diam-diam ia berhenti bertambah. Yang baru makin jarang. Yang ada hanya berputar, dari satu kepala ke kepala lain, lewat mesin yang sama, makin lama makin kabur, persis seperti fotokopi tadi.
Inilah yang saya sebut gizi pengetahuan kita menurun. Perutnya kenyang, tubuhnya tidak tumbuh.
Yang hilang bukan informasinya
Di sinilah letak salah pahamnya. Banyak orang mengira persoalan AI adalah soal benar atau salah jawabannya. Mereka sibuk mengecek, “apakah jawaban mesin ini akurat?” Padahal sering kali jawabannya memang akurat. Definisinya benar, namanya benar, tahunnya benar.
Yang hilang bukan kebenaran informasinya. Yang hilang adalah proses bergulat dengan ilmu itu sendiri.
Ketika seseorang membaca langsung tulisan asli seorang pemikir, ia tidak sekadar memungut definisi. Ia ikut berpikir bersama penulisnya. Ia bertanya, “kenapa orang ini bilang begini, sementara yang lain bilang begitu?” Ia bingung, ia mengulang, ia mencoret, ia memilih. Dan justru di kebingungan dan pemilihan itulah akalnya bekerja, lalu tumbuh. Ilmunya bukan cuma pindah ke catatannya; kemampuannya menimbang ikut menebal di kepalanya.
Sementara orang yang menempel hasil mesin? Ilmunya pindah, tapi dirinya tidak ikut tumbuh. Tulisannya benar, tapi ia sendiri tidak bertambah pandai. Ia seperti orang yang menghafal peta tanpa pernah berjalan di jalannya: tahu nama setiap gang, tapi tersesat begitu benar-benar keluar rumah.
Otot yang tidak dipakai mengecil. Begitu pula akal. Dan inilah pokok persoalannya, bukan mesinnya, melainkan otot pikiran yang perlahan kita biarkan layu karena ada yang bersedia mengangkat beban menggantikan kita.
Bagi seorang muslim, kecemasan tentang akal yang menganggur ini sebenarnya bukan hal baru sama sekali. Al-Qur’an, yang turun jauh sebelum ada fotokopi apalagi kecerdasan buatan, justru menjadikan ajakan berpikir sebagai salah satu seruan yang paling sering diulang.
Berkali-kali Allah menutup sebuah ayat dengan pertanyaan yang seakan menggugah orang yang lalai: afalā ta’qilūn (tidakkah kalian menggunakan akal), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian merenungkan), afalā tadzakkarūn (tidakkah kalian mengambil pelajaran). Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia teguran lembut bagi siapa saja yang punya akal tapi membiarkannya tidur.
Salah satu gambaran yang paling menggetarkan ada di Surah Al-Mulk ayat 10. Allah menukil pengakuan para penghuni neraka di hari akhir:
“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’”
Renungkanlah. Yang mereka sesali di sana bukan karena kurang harta, kurang ilmu yang dihafal, atau kurang sibuk. Yang mereka sesali adalah tidak menggunakan akal yang sebenarnya sudah Allah titipkan di kepala mereka. Akal itu ada, tapi dibiarkan menganggur. Dan di akhirat, penyesalan terbesar justru atas anugerah yang tidak dipakai.
Sebaliknya, Al-Qur’an memuji golongan yang akalnya hidup. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190 sampai 191, Allah menyebut mereka ulul albab, orang-orang yang berakal:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”
Perhatikan, ulul albab itu bukan orang yang sekadar menerima informasi lalu menyimpannya. Mereka memikirkan, mereka merenungkan, mereka menatap alam lalu mengolahnya dalam kepala sampai sampai pada kesadaran tentang Penciptanya. Iman mereka bukan hasil tempelan, melainkan buah dari akal yang bekerja.
Maka, kalau direnungkan, ajakan menggunakan akal ini adalah benang merah yang membentang panjang. Wahyu pertama yang turun pun, iqra’ (bacalah), bukanlah perintah untuk sekadar melafalkan, melainkan untuk membaca, memahami, dan memikirkan. Sejak ayat pertama, manusia diundang bukan untuk menampung, tapi untuk mencerna.
Di sinilah letak ironinya. Sebuah anugerah sebesar akal, yang Allah perintahkan berulang kali untuk dipakai, justru paling mudah kita parkir di zaman ketika ada mesin yang siap berpikir menggantikan kita.
Kekhawatiran ini ternyata setua peradaban
Menariknya, kegelisahan tentang akal yang dibiarkan pasif ini juga muncul di tempat dan zaman yang jauh berbeda. Dua ribu empat ratus tahun lalu, di Athena, Sokrates pernah resah pada sebuah teknologi yang menurutnya berbahaya bagi pikiran manusia.
Teknologi apa? Tulisan.
Sokrates curiga, kalau manusia bisa menyimpan pemikiran di atas lembaran, mereka akan berhenti mengingat dan berhenti benar-benar memahami. Cukup dicatat, lalu lupa. Ilmu jadi sesuatu yang disimpan di luar kepala, bukan dihidupi di dalam kepala.
Tentu saja, dalam hal tulisan, Sokrates terlalu cemas. Tulisan justru jadi tiang utama peradaban kita. Tapi ia tidak sepenuhnya keliru. Ia menangkap satu hal yang abadi: setiap alat yang memindahkan kerja berpikir keluar dari kepala kita, selalu menggoda kita untuk berhenti melatih kepala itu sendiri.
Kalkulator pernah menimbulkan ketakutan serupa, begitu pula mesin pencari. AI hanyalah keresahan lama yang datang lagi dengan wajah baru. Pertanyaannya pun sama persis dengan dua ribu tahun lalu: apakah alat ini kita pakai sebagai tongkat yang melumpuhkan kaki, atau sebagai pijakan yang meninggikan jangkauan?
Mengumpulkan jejak, dan memberi makna
Sampai di sini, mungkin terdengar seolah saya mengajak menjauhi AI. Tidak. Justru sebaliknya.
AI itu netral. Ia bisa memiskinkan, bisa juga memperkaya, tergantung di tahap mana kita menyerahkan kerja kepadanya.
Orang yang meminta mesin merangkum sebuah persoalan lalu berhenti di situ, ia memarkir akalnya. Tapi orang yang memakai rangkuman itu untuk cepat sampai ke perbatasan, lalu bertanya, “yang belum terjawab apa? mana yang janggal? di titik mana penjelasan ini gagal menjelaskan yang saya temui sendiri?”, ia justru menyalakan akalnya. Mesin memendekkan perjalanannya menuju tepi pengetahuan. Yang menentukan adalah: ia berhenti di tepi, atau melangkah keluar dari tepi.
Lalu di mana sebenarnya batas yang tak bisa diseberangi mesin? Di sini saya harus berhati-hati, karena godaan untuk melebih-lebihkan itu besar.
Orang mudah berkata, “AI tak bisa turun ke lapangan.” Padahal hari ini ia bisa, sebagian. Kamera dengan pengenalan citra bisa mencatat siapa datang pukul berapa, mengenakan apa, berdiri di mana, berapa lama. Untuk hal yang terhitung dan terlihat dari luar, mesin bahkan lebih telaten; ia tidak mengantuk di jam ketiga pengamatan. Maka batasnya bukan di situ.
Orang juga mudah berkata, “AI tak bisa tahu isi hati orang.” Itu benar, tapi manusia pun tidak. Saya tak pernah benar-benar tahu apa yang Anda rasakan saat membaca ini; saya hanya menduga dari kata dan raut. Isi hati orang lain selamanya tertutup, bagi mesin maupun bagi kita. Jadi batasnya bukan di situ juga.
Batasnya ada di satu kata: makna.
Sebuah kamera bisa merekam seorang atasan datang terlambat. Tapi bahwa keterlambatan kecil itu adalah pelanggaran terhadap aturan yang ia sendiri tegakkan, bahwa ia perlahan menggerus wibawanya di mata bawahan, bahwa ia diam-diam dicatat sebagai ketidakadilan, semua itu tidak ada di dalam rekaman. Makna tidak terletak pada gerak yang tertangkap lensa. Ia terletak pada jalinan: aturan tak tertulis, sejarah hubungan, rasa keadilan, harapan yang dikhianati. Mesin melihat keterlambatan; manusia melihat keterlambatan yang berarti sesuatu.
Dan inilah bedanya cara manusia dan mesin memberi makna. Mesin menyimpulkan dengan mencocokkan pola: susunan data ini, pada yang kupelajari, biasa diberi label begini, maka kukeluarkan label itu. Ia mencocokkan permukaan dengan permukaan. Manusia menafsir dengan cara yang lain jenisnya: ia meminjam pengalamannya sendiri sebagai alat ukur. Seseorang memahami kekecewaan orang lain karena ia sendiri tahu rasanya dikecewakan. Ia membaca manusia dengan perangkat yang sejenis dengan yang dibacanya, satu hati menafsir hati yang lain, dua-duanya punya kedalaman yang sama. Mesin menebak tanpa pernah tahu rasanya menjadi seseorang yang punya sesuatu untuk ditebak.
Lebih dari itu, pencarian pengetahuan yang sungguh-sungguh tidak berhenti pada menebak. Ia bertanya, dan menunggu dijawab. Orang yang ingin paham tidak duduk memandangi orang lain lalu menyimpulkan sendiri. Ia bertanya, dan orang itu menjawab dengan kalimatnya sendiri. Yang menjadi pengetahuan bukan tebakan si penanya soal isi hati, melainkan kesaksian orang itu tentang hatinya sendiri, satu-satunya pihak yang memang punya kuncinya. Lalu kesaksian itu ditimbang: cocok tidak dengan ucapan orang lain, dengan yang terlihat, dengan jejak yang ada.
Sebuah kamera tidak pernah bisa ditanyai balik. Orang yang diamati bisa berkata, “bukan, maksud saya bukan begitu,” dan seluruh tafsir berubah. Mesin tidak punya pintu untuk koreksi semacam itu. Ia memindai dari luar lalu berhenti. Manusia masuk ke percakapan dua arah, tempat yang ditafsir hadir sebagai sesama subjek yang menjelaskan dirinya, bukan sebagai objek yang dipindai.
Di situlah letak gizi yang sesungguhnya. Bukan pada pengumpulan jejak, itu lama-lama bisa diserahkan ke mesin. Melainkan pada pemberian makna: pekerjaan menafsir, bertanya, menimbang, dan memutuskan apa arti dari yang terkumpul. Selama itu masih dikerjakan kepala kita sendiri, aliran ilmu yang benar-benar baru tetap masuk ke peradaban. Sebab data yang menggunung tanpa dimaknai hanyalah regurgitasi dalam bentuk lain, tumpukan rekaman yang dimuntahkan kembali tanpa pernah dicerna.
Maka, dua hal yang jangan kita serahkan
Kalau boleh saya ringkas seluruh keresahan ini menjadi satu nasihat sederhana, bagi siapa pun yang masih mau belajar:
Boleh memakai AI untuk apa saja, kecuali dua hal. Jangan serahkan pemberian makna; biar mesin yang mengumpulkan jejak kalau perlu, tetaplah Anda yang menafsirkannya, bertanya kepada orangnya, menimbang, dan memutuskan apa artinya. Dan jangan serahkan penilaian; tetaplah Anda yang memilih, menolak, membantah, menimbang mana yang masuk akal dan mana yang tidak.
Kedua hal itu punya satu kesamaan: keduanya menuntut akal yang bekerja. Begitu kita serahkan, kita tidak sedang menghemat tenaga berpikir, kita sedang menyewakan pikiran kita kepada mesin, dan lupa cara memakainya sendiri.
Selama dua hal itu masih di tangan kita, AI tetaplah alat olah, bukan sumber. Ia memperkaya. Tapi begitu kita menyerahkan keduanya, kita berhenti menambah ilmu dan hanya menggemakannya. Dan gema, sebagaimana kita tahu, selalu lebih lemah dari suara aslinya. Makin jauh, makin sayup, sampai akhirnya hilang.
Maka pertanyaan yang tersisa sebenarnya tidak pernah tentang mesin. Ia tentang kita: apakah akal ini masih kita pakai, atau kita biarkan menganggur sampai lupa caranya bekerja. Seperti dulu pilihan itu ada di tangan orang Athena, bukan di tangan lembaran tulisan yang mereka takuti, hari ini pun pilihan itu ada di tangan kita, bukan di tangan mesin.