Ustadz Yasir Qadhi: Teori Evolusi dari Sudut Pandang Teologis

Ustadz Yasir Qadhi membuka pembahasan dengan penegasan yang beliau anggap penting untuk diluruskan sejak awal. Ketika beliau bicara soal evolusi, beliau tidak sedang bicara sebagai ilmuwan, bukan sebagai biolog evolusioner. Ustadz bicara sebagai seorang teolog, sebagai orang yang punya pemahaman terhadap Al-Qur’an, Sunnah, dan tradisi keilmuan Islam. Maka, jawaban yang beliau berikan atas pertanyaan tentang evolusi, tidak datang dari paradigma saintifik.

Ustadz Yasir tidak ingin mengulang persoalan Eropa abad pertengahan, ketika gereja merasa lebih tahu daripada para ilmuwan tentang apa yang seharusnya dikatakan oleh sains. Beliau tidak ingin ke arah sana, dan secara pribadi mengaku tidak pernah masuk ke wilayah itu.

Karena itu, saat beliau ditanya soal evolusi, jawabannya bukan apakah evolusi valid atau tidak dari sudut pandang ilmiah, sebab Ustadz tidak terlatih dalam biologi evolusioner. Ustadz Yasir berangkat dari pertanyaan lain: bagi mereka yang beriman kepada Al-Qur’an, bagi Muslim, dapatkah secara teologis kita meyakini evolusi tanpa hal itu menjadi persoalan teologis? Dengan kata lain, apakah teori evolusi sejalan dengan kitab suci kita? Itulah pertanyaan yang sedang beliau jawab. Bukan teori evolusinya itu sendiri, bukan kelebihan dan kekurangannya, bukan kekuatan maupun kelemahannya. Ustadz sedang menjawab pertanyaan yang berbeda, yaitu bagi Muslim yang beriman, dan dalam pertanyaan turunan yang lebih spesifik: adakah potensi benturan antara meyakini teks-teks Islam dan meyakini evolusi. Itulah pertanyaan yang beliau merasa berkapasitas untuk menjawabnya.

Dengan catatan tersebut, Ustadz Yasir kemudian menyatakan posisinya, posisi yang menurut pengakuan beliau telah dipegang selama satu dekade terakhir. Sebagai Muslim, kata Ustadz, seharusnya tidak ada masalah untuk meyakini teori evolusi sejauh berlaku pada hewan, selain homo sapiens.

Beliau segera menambahkan, dirinya tidak sedang menganjurkan bahwa hal itu pasti benar. Secara pribadi, Ustadz merasa belum berkapasitas memiliki posisi saintifik, karena beliau belum cukup mendalami untuk merasa yakin dengan pendapat pribadi. Ustadz Yasir mengaku telah membaca cukup untuk secara umum bersikap simpatik terhadap evolusi pada hewan. Beliau simpatik, tetapi tidak merasa cukup berkualifikasi untuk membuat pernyataan yang pasti bahwa, ya, hewan memang berevolusi dari satu bentuk kehidupan sebelumnya, dan bahwa semua hewan yang kita kenal sekarang berevolusi dari bentuk-bentuk kehidupan terdahulu, dan kita, atau lebih tepatnya hewan, semuanya terhubung dalam satu pohon evolusi. Ustadz mengaku simpatik sebagai manusia yang pernah membaca, yang punya latar pendidikan di bidang teknik, kimia, dan biologi, sehingga beliau bisa membaca dan memahami. Akan tetapi pengetahuan beliau, kata Ustadz Yasir, belum cukup untuk membuat pernyataan yang tegas.

Dari sisi Al-Qur’an dan Sunnah, Ustadz Yasir mengatakan tidak melihat masalah dalam menegaskan evolusi untuk semua spesies selain homo sapiens. Itulah posisi beliau. Tidak seharusnya ada masalah. Jika seseorang menganjurkannya, tidak masalah. Jika seseorang tidak menganjurkannya, juga tidak masalah. Sebab Al-Qur’an, kata Ustadz, tidak memberi tahu kita cara bagaimana hewan diciptakan. Dan jika seseorang memasukkan sedikit bukti dari teori evolusi yang terkait dengan hewan, beliau bahkan bersikap simpatik terhadap hal itu, sebagaimana Allah berfirman bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dari air. Maka, kalaupun seseorang ingin memasukkan sedikit nuansa evolusioner di sini, Ustadz bisa memahami dari mana pemikiran orang itu dibangun.

Akan tetapi, posisi teknis beliau tetap: Al-Qur’an tidak mendukung dan tidak pula menolak konsep bahwa hewan secara kolektif berevolusi dari bentuk-bentuk kehidupan sebelumnya. Tidak ada masalah dalam konsep tersebut. Maka, secara teologis, hal itu boleh ditegaskan untuk hewan.

Namun, dalam pembacaan yang beliau sebut sebagai pembacaan yang sederhana atas Al-Qur’an dan Sunnah, mengatakan hal yang sama untuk homo sapiens adalah persoalan, karena bertentangan dengan terlalu banyak ayat dan terlalu banyak hadis. Menafsirkan semua itu sebagai kiasan, ujar Ustadz, sungguh memunculkan persoalan dari sisi penafsiran teks (hermeneutika) atau dari sisi cara kita mengetahui sesuatu (epistemologi). Artinya, teks-teks kita sangat jernih. Jumlah kata benda, kata sifat, dan deskripsi yang diberikan terkait penciptaan manusia, penciptaan Adam, fakta bahwa seluruh umat manusia berasal dari Adam, dan hadis-hadis yang bahkan lebih jelas, semuanya menunjukkan kejelasan itu. Al-Qur’an sendiri, kata beliau, cukup gamblang untuk menutup pintu bagi tafsir kiasan tersebut. Ini, tanpa keraguan, adalah persoalan epistemologis dan bertentangan dengan arus utama Islam. Dengan kata lain, Al-Qur’an sangat jernih dalam hal ini.

Ustadz Yasir melanjutkan, mereka yang menganjurkan evolusi di kalangan komunitas Muslim biasanya berargumen bahwa bahasa Al-Qur’an di sini bersifat kiasan, atau ada simbolisme di dalamnya, atau bahwa sesungguhnya tidak ada Adam dan Hawa yang benar-benar ada. Mereka berkata bahwa Tuhan hanya hendak memberikan semacam cerita perumpamaan supaya kita bisa menarik nilai moral darinya. Masalahnya, kata beliau, setiap kali Allah hendak memberikan sebuah perumpamaan, Allah berfirman bahwa Dia akan memberikan sebuah perumpamaan. Dan setiap kali Allah hendak menyampaikan fakta sejarah, Allah menyampaikan fakta sejarah. Keduanya, ujar Ustadz, tidak pernah dicampuradukkan dalam Al-Qur’an. Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkritik mereka yang mengklaim bahwa kisah-kisah masa lalu hanyalah dongeng. Allah mengkritik, dan Allah menafikan iman dari mereka yang mengatakan bahwa kisah-kisah itu hanyalah cerita lama, sekadar dongeng. Karena itu, kata Ustadz Yasir, sangat bermasalah untuk mengklaim bahwa kisah Adam dan Hawa adalah fabel, sebuah kiasan moral untuk menarik gagasan, etika, dan nilai, sehingga tidak ada Adam dan Hawa yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena Al-Qur’an cukup jelas bahwa pembaca Al-Qur’an akan, seharusnya, dan telah mendapat kesan bahwa Adam dan Hawa itu sungguh ada.

Karena alasan tersebut, secara teologis bermasalah untuk menegaskan bahwa umat manusia pada dasarnya terhubung dengan spesies sebelum Adam dan Hawa, dan bahwa tidak ada Adam dan Hawa. Maka Ustadz tidak bisa menegaskan teori evolusi sebagaimana umumnya dipahami sebagai sesuatu yang selaras dengan ajaran Islam.

Sekali lagi, Ustadz Yasir menegaskan, beliau tidak sedang mengatakan apakah teori evolusi itu baik atau tidak secara ilmiah. Itu bukan posisi beliau, bukan poin beliau, bukan ranahnya. Ustadz sedang mengatakan bahwa teori evolusi sebagaimana saat ini, tampak berbenturan dengan keyakinan normatif Islam, dengan teks-teks Al-Qur’an. Itulah yang dimaksud Ustadz Yasir.

Apa yang Ustadz katakan dalam ceramah sebelumnya, dan diulangi kembali di sini, adalah pengandaian berikut. Bagaimana jika seseorang berkata, ya, semua hewan sebagaimana kita mengenalnya, semua mamalia, berbagai jenis ikan, semuanya, memang berevolusi dari satu sama lain sebagaimana diklaim oleh teori evolusi. Lalu, suatu spesies yang serupa dengan homo sapiens akan muncul seandainya evolusi berjalan terus. Akan tetapi, tepat sebelum spesies itu muncul sebagai kelanjutan alamiah, Allah Subhanahu wa Ta’ala turun tangan, sebuah mukjizat terjadi, dan Allah menurunkan sebuah spesies yang akan sesuai dari sisi DNA dengan bentuk kehidupan sebelumnya, tetapi tidak ada hubungan sebab-akibat antara bentuk kehidupan sebelumnya itu dengan homo sapiens.

Pada momen itu, salah seorang dalam ruangan menyahut bahwa apa yang dikatakan Ustadz Yasir sebenarnya sejalan dengan apa yang diakui oleh para ilmuwan sendiri, secara internal. Orang itu menyatakan bahwa banyak miskonsepsi, bahkan di kalangan komunitas non-Muslim, tentang apa sebenarnya yang diyakini para ahli teori evolusi. Pada akhirnya, ujarnya, itu adalah teori, bukan fakta. Ustadz Yasir menyetujui. Lalu disebutkanlah konsep yang dikenal sebagai missing link, mata rantai yang hilang. Beliau membenarkan. Para ilmuwan sendiri mengakui bahwa ada mata rantai yang hilang antara homo sapiens dan homo sebelumnya.

Maka, apa yang Ustadz katakan, lanjut Ustadz Yasir, adalah bagaimana jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Adam dan istrinya pada satu titik dalam sejarah evolusi, pada titik di mana para biolog evolusioner di kemudian hari, para ilmuwan di kemudian hari, secara logis bisa saja menarik hubungan sebab-akibat. Kita tidak menyalahkan mereka atas kesimpulan tersebut. Akan tetapi, kita memiliki fakta yang tidak mereka miliki, dan kita memiliki teks yang tidak mereka yakini. Teks dan fakta itu, ujar beliau, adalah Al-Qur’an.

Untuk menjelaskan maksudnya, Ustadz Yasir memberikan sebuah perumpamaan. Anggaplah seseorang masuk ke sebuah ruangan dan menemukan sekumpulan domino yang baru saja rebah berjatuhan. Secara logis, masuk akal, ilmiah, dan fisik, ia akan menyimpulkan, bahwa seseorang telah mendorong domino yang pertama dan seluruh domino lain terhubung secara sebab-akibat dengan domino pertama itu. Akan tetapi, apa yang tidak ia ketahui, dan tidak mungkin ia ketahui, adalah bahwa sesungguhnya dalam skenario tertentu ini, adik kecilnya atau sepupu kecilnya telah masuk ke ruangan itu sebelum dia. Hanya sebagai contoh saja, kata beliau. Dan domino paling terakhir itu, entah dengan alasan apa, diangkat oleh si adik, lalu di bawahnya diletakkan domino lain, lalu si adik berlalu. Maka, ketika orang dewasa masuk, ia mengira domino terakhir tersebut terhubung secara sebab-akibat dengan domino sebelumnya. Ia benar dalam meyakini hal itu. Tidak ada yang salah dengan tafsirannya, hanya saja ia tidak berada di sana dan tidak menyaksikan. Maka mungkin, kata Ustadz Yasir, mungkin saja sesuatu yang serupa, dan sekali lagi beliau menegaskan untuk memperjelas, dirinya tidak sedang mengatakan bahwa itu yang terjadi, karena Ustadz bukan biolog evolusioner. Beliau hanya mengatakan, bagaimana jika seseorang berkata demikian, apakah hal tersebut bermasalah secara teologis. Ustadz menanyakan kepada audiens apakah mereka memahami pertanyaan yang spesifik tersebut.

Lalu beliau menjawab pertanyaannya sendiri. Tidak. Itu tidak bermasalah secara teologis. Bahkan, kata Ustadz Yasir, hal itu sepenuhnya selaras dengan apa yang diajarkan Al-Qur’an sendiri. Tidak akan ada masalah dalam menegaskan hal tersebut, dan hal itu justru akan menjelaskan banyak hal. Sebab, kalau seseorang mengenal biologi evolusionernya, memang tampak bagi pengamat luar bahwa ada semacam hubungan sebab-akibat antara bentuk-bentuk kehidupan sebelumnya dengan kita. Tampakan itu mungkin sepenuhnya masuk akal dan logis, karena Allah Subhanahu memang menghendaki ciptaan-Nya menyatu dan padu. Tentu saja, ketika Allah menciptakan, segala sesuatunya harus selaras. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, lihatlah ke sekelilingmu, apakah engkau melihat cacat, apakah engkau melihat retakan, apakah engkau melihat masalah? Maka, secara logis, ketika Allah menciptakan, ketika Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia, tempat kita di alam akan sepadan dengan sempurna, sebab itulah rancangan Allah.

Karena itu, kata Ustadz Yasir, para ilmuwan tidak harus disalahkan atas penafsiran mereka. Dan kita, sebagai Muslim, harus memahami bahwa kita memiliki fakta dan keyakinan yang tidak mereka miliki. Faktanya, ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang menurut beliau sangat kuat, sangat kuat. Allah berfirman, mereka tidak hadir untuk menyaksikan bagaimana Aku menciptakan langit dan bumi, dan mereka tidak hadir untuk menyaksikan bagaimana diri mereka sendiri diciptakan. Ustadz menyebut ayat ini sebagai ayat yang amat dalam. Mengapa Allah mengatakannya? “Kalian tidak hadir di sana. Kalian tidak menyaksikan.” Mengapa Allah perlu mengatakan hal ini? Seolah-olah Allah hendak mengatakan bahwa ada sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuanmu, dan kamu tidak akan pernah mengetahuinya, karena kamu tidak ada di sana.

Lalu Ustadz Yasir menyebut ayat lain. Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Beliau kemudian mengajukan pertanyaan kepada audiens. Bayangkan secara hipotetis. Bayangkan Isa, tentu saja, dilahirkan tanpa ayah. Tanpa ayah secara biologis sebagaimana kita mengenal biologi, apakah hal itu mungkin? Secara biologis, tidak. Tetapi, kata Ustadz, ini adalah mukjizat dari Allah, dan Allah mampu melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Maka kita menegaskan kebenaran itu.

Ustadz Yasir meneruskan pengandaiannya. Sekarang bayangkan, hanya bayangkan, pertanyaan yang agak ganjil, seandainya Isa berdiri di depan kita lalu kita mengambil sampel darahnya, sampel DNA-nya, apakah menurut audiens darah dan DNA-nya akan normal? Beliau mengaku tidak tahu pasti, tetapi menduga, ya, mungkin akan normal. Mengapa tidak? Bukankah Isa adalah manusia normal dalam pengertian itu? Ustadz menegaskan, ini hanyalah dugaan. Sekali lagi, kita tidak tahu pasti. Akan tetapi, kata beliau, agaknya Isa akan memiliki darah normal dan DNA normal. Padahal, secara biologis dan ilmiah, hal itu bukan sesuatu yang bisa kita pahami. Yang jelas, di hadapan kita ada daging dan darah yang berperilaku sebagai manusia dan memang manusia. Jika ia manusia, maka ia adalah manusia normal. Ia punya darah, punya pembuluh, punya DNA. Akan tetapi, bagaimana ia bisa memiliki DNA padahal 50% DNA-nya seharusnya tidak ada di sana? Maka, jika seseorang mengambil DNA-nya dan membawanya ke laboratorium, orang itu bisa merekonstruksi siapa ibu dan ayahnya. Dan, kata Ustadz Yasir, mereka akan benar dalam rekonstruksinya. Artinya, itulah keterbatasan pengetahuan sains. Sains mereka terbatas, akan tetapi Allah tidak terbatas oleh sains kita yang terbatas. Dan Allah berfirman demikian, sehingga Allah sedang memberikan sebuah perumpamaan. Sebagaimana Isa adalah luar biasa, tidak biasa, demikian pula Adam adalah luar biasa, tidak biasa.

Maka, kata Ustadz Yasir, hal itu mungkin saja. Apakah hal itu memang terjadi atau tidak, beliau tidak tahu, dan tidak berada dalam posisi untuk menganjurkannya. Karena itu, Ustadz menyampaikan permohonannya kepada Muslim yang menekuni biologi evolusioner agar membantu kita di titik ini. Itulah, ujar beliau, pekerjaan mereka sebagai biolog, membantu kita secara biologis dan ilmiah. Itu bukan pekerjaan Ustadz.

Beliau menutup dengan menegaskan, dirinya tidak pernah sekalipun mengklaim bahwa Ustadz berkualifikasi untuk memposisikan secara ilmiah apa yang kuat tentang evolusi dan apa yang lemah. Itu bukan ranah beliau. Beliau sedang menjawab sesuai ranahnya secara teologis: apa yang mungkin dan apa yang bermasalah.