Podcast yang menarik antara Steven Bartlett (entrepreneur dan investor dari UK) serta Ray Dalio, Ray Dalio adalah seorang investor legendaris, miliarder, sekaligus pendiri Bridgewater Associates, hedge fund terbesar di dunia yang mengelola aset lebih dari $160 miliar.
Ray Dalio mengatakan bahwa “pain + reflection = progress” (rasa sakit + refleksi = kemajuan). Prinsip sederhana itu membuat ia berhasil membangun Bridgewater menjadi hedge fund terbesar di dunia, mengelola sekitar US$150 miliar. Ia memahami bahwa sejarah selalu berulang, sehingga mempelajari pola masa lalu penting untuk memprediksi masa depan. Menurut Dalio, saat ini kondisi United Kingdom (UK) dan United States (US) tidak sedang baik. Ia menjelaskan bahwa dunia bergerak dalam “big cycles” (siklus besar) yang berlangsung sekitar 80 tahun, dan siklus itu selalu dipengaruhi oleh 5 big forces (5 kekuatan besar):
money & debt → utang meningkat, kesenjangan kaya–miskin melebar,
internal conflict → perpecahan politik, hilangnya kepercayaan pada sistem,
geopolitical conflict → persaingan negara besar seperti US vs China,
acts of nature → pandemi, bencana alam,
human inventiveness/technology → “technology war” menentukan pemenang tatanan dunia baru.
Menurut Dalio, UK menghadapi masalah high debt, ekonomi lemah, capital market kurang kuat, dan kultur yang kurang mendorong entrepreneurship. Sementara US pun menghadapi high internal polarization, debt crisis, dan ketegangan geopolitik. Karena alasan itu, Dalio mengatakan sangat mungkin bahwa dalam 50–100 tahun ke depan, US tidak lagi menjadi negara dominan di dunia—sesuatu yang ia sebut sebagai changing world order.
Untuk individu—khususnya usia 18–50 tahun yang ingin memperbaiki hidup—Dalio menyarankan untuk memahami “life cycle” masing-masing: kenali nature kita (bawaan + lingkungan), minat, dan kekuatan diri. Pilih career path yang sesuai nature tersebut, tapi tetap memikirkan financial planning. Dalio menekankan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, money tidak banyak meningkatkan happiness. Sumber kebahagiaan terbesar adalah meaningful work (pekerjaan bermakna) dan meaningful relationships (hubungan bermakna).
Dalio juga menceritakan big failure pada tahun 1982, ketika prediksinya benar tetapi keputusan investasinya salah. Ia bangkrut dan harus meminjam US$4.000 dari ayahnya. Dari situ ia belajar humility (kerendahan hati) dan radical open-mindedness: minta orang-orang pintar stress-test pemikirannya. Ia juga menerapkan strategi diversification untuk mengelola risiko.
Ia menekankan pentingnya reflection: berhenti sejenak, berpikir jernih tentang apa yang bisa dipelajari dari kegagalan, lalu menuliskan prinsip sebagai panduan di masa depan. Dalio juga sangat terbantu oleh Transcendental Meditation yang membuat pikirannya lebih tenang dan tidak dikuasai emosi saat mengambil keputusan penting.
Dalam organisasi, Dalio percaya pada leverage through people: keberhasilan datang dari talented people yang memiliki good character. Ia membangun budaya radical truth & transparency, yaitu semua orang boleh bicara jujur, bahkan kepada bos, agar best idea wins (ide terbaik yang menang), bukan ide yang paling berkuasa. Ia mengingatkan bahwa ketika organisasi tumbuh di atas 75–100 orang, hubungan personal melemah—karena itu perlu sub-teams seperti “desa” dalam sebuah kota agar tetap solid.
Soal teknologi, Dalio menilai Artificial Intelligence (AI) dan robotika adalah great opportunity sekaligus big risk. Teknologi akan meningkatkan produktivitas, tetapi juga bisa memperbesar inequality: hanya sebagian kecil yang menang besar, sementara banyak yang tertinggal. Karena itu, menurutnya masyarakat harus memikirkan redistribution policy yang adil namun tetap menjaga produktivitas manusia. Ia menekankan bahwa human nature (ego, keserakahan, haus kuasa) akan menentukan apakah kita menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama atau justru konflik.
Pada akhirnya, Dalio menyarankan semua orang untuk selalu be open-minded, learn from failures, dan membangun principles yang bisa menjadi kompas hidup. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, ia percaya bahwa fondasi paling kuat untuk sukses dan bahagia adalah self-awareness, pekerjaan yang bermakna, hubungan yang sehat, mental yang siap berubah, dan keberanian untuk terus refleksi setiap kali kita jatuh.