Dalam percakapannya bersama Jay Shetty di podcast On Purpose, Dr. Gabor Maté—dokter, penulis, dan pakar adiksi asal Kanada—membuka dengan menjelaskan makna dari trauma, sebuah istilah yang kini kerap digunakan secara longgar. Ia menegaskan bahwa tidak semua hal yang menyakitkan adalah trauma. “Semua trauma memang menimbulkan stres,” katanya, “tetapi tidak semua stres adalah trauma.” Banyak orang menyebut dirinya “traumatized” hanya karena mengalami kesulitan, padahal trauma sejati bukan sekadar pengalaman sulit, melainkan luka batin mendalam yang meninggalkan jejak pada tubuh, saraf, dan jiwa.
Kata “trauma” sendiri berasal dari bahasa Yunani traumá yang berarti “luka”. Trauma adalah luka psikologis yang meninggalkan bekas—seperti luka fisik yang membentuk jaringan parut. Ia mencontohkan, bila seseorang memiliki luka yang belum sembuh, maka setiap kali luka itu “tersentuh” dalam relasi atau peristiwa baru, orang tersebut akan bereaksi seolah terluka kembali. Inilah sebabnya, ujar Maté, banyak konflik dalam hubungan muncul bukan karena kejadian sekarang, melainkan karena luka lama yang terpicu.
Trauma bukanlah peristiwa eksternal itu sendiri—bukan perang, pelecehan, atau perceraian—melainkan reaksi batin di dalam diri yang timbul sebagai akibat dari peristiwa itu. Karena itu, katanya, ada harapan: “Jika trauma adalah luka batin, maka luka itu bisa disembuhkan kapan saja.” Ia memberi contoh pada dirinya sendiri: trauma bukanlah Perang Dunia II yang terjadi saat ia bayi di Hungaria, melainkan luka psikologis yang ia bawa dari pengalaman perang tersebut. Luka itu masih bisa disembuhkan meski peristiwa sudah lama berlalu.
Ketika Jay Shetty bertanya, “Kalau begitu, bagaimana Anda mendefinisikan healing?”, Dr. Maté menjawab bahwa kata health dan healing dalam bahasa Inggris, serta padanannya dalam bahasa Hungaria, semuanya bermakna “keutuhan”. Jadi, penyembuhan bukan berarti hilangnya penyakit, tetapi kembali utuhnya diri seseorang.
Trauma, jelasnya, memisahkan kita dari diri sejati—kita menjadi terbelah: antara tubuh dan pikiran, antara emosi dan kesadaran. Maka penyembuhan adalah proses “menyatukan kembali bagian-bagian yang tercerai berai”. Ia menambahkan, seseorang bisa saja “sembuh” secara medis tanpa benar-benar “healed” secara batin, dan sebaliknya, seseorang bisa “healed” tanpa harus “cured”. Keutuhan, bukan kesempurnaan fisik, adalah ukuran kesehatan yang sejati.
Jay Shetty mengangkat peribahasa klasik: time heals all wounds.
Dr. Maté menolak: “Waktu tidak menyembuhkan apa pun.” Luka batin yang tidak diproses akan tetap tinggal di bawah permukaan; ia mungkin tertutup sementara, tetapi sewaktu-saat dapat terbuka kembali. Ia mencontohkan pengalaman pribadinya: dalam pernikahannya, ada saat-saat di mana hal kecil memicu reaksi emosional besar karena menyentuh luka lama yang belum sembuh. “Kita pikir luka itu sudah berlalu, tapi ketika disentuh, rasa sakitnya muncul seolah baru kemarin,” ujarnya. Waktu hanya menutup luka, bukan menyembuhkannya. Penyembuhan sejati, kata Maté, terjadi ketika seseorang secara sadar menghadapi rasa sakit itu dengan kasih sayang dan kehadiran, bukan dengan pelarian.
Dr. Maté berbicara tentang vulnerability atau kerentanan. Ia menjelaskan bahwa kata itu berasal dari bahasa Latin vulnerare—artinya “mampu terluka”. Manusia, katanya, hanya bisa bertumbuh di tempat yang lembut, bukan di tempat yang keras. “Pohon tidak tumbuh di bagian batang yang tebal dan keras, tetapi di bagian yang hijau dan lembut,” ucapnya puitis.
Kerentanan adalah kapasitas untuk terluka, dan itu adalah sumber pertumbuhan emosional. Namun banyak orang menolak kerentanan dengan membangun pertahanan diri—selalu ingin benar, selalu ingin kuat, selalu menutup diri dari rasa sakit. Padahal, kata Dr.Maté, “pertahanan yang dulu melindungimu di masa kecil kini justru menghambat pertumbuhanmu.”
Ia mengaitkan ini dengan pengalaman Jay Shetty sendiri, yang menyadari pola masa kecilnya: ketika Jay kecil menerima kasih sayang, ia sering dibuat merasa bersalah bila tidak bisa membalas dengan kasih yang sama besar. Akibatnya, saat dewasa ia sering “memberi cinta berlebihan” pada pasangannya dan merasa kecewa bila tidak dibalas setimpal. Maté menjelaskan bahwa pola seperti itu adalah bentuk pertahanan diri dari rasa sakit lama—cara anak melindungi dirinya dari perasaan ditolak.
Dr. Maté lalu menyoroti akar trauma yang lebih dalam: bukan hanya karena perlakuan buruk, tetapi karena kebutuhan emosional anak yang tidak terpenuhi.
Ia menyebut empat kebutuhan dasar anak yang sering diabaikan oleh masyarakat modern:
- Kasih sayang tanpa syarat dari banyak pengasuh.
Dalam masyarakat pemburu-peramu, anak diasuh oleh banyak orang dewasa yang penuh kasih, bukan hanya dua orang tua yang kelelahan. - Hak untuk diterima tanpa harus berjuang mendapat cinta.
Anak tidak seharusnya harus “pintar, lucu, atau penurut” untuk dicintai. Bila cinta menjadi bersyarat, anak tumbuh dengan kecemasan dan perfeksionisme. - Kebebasan mengekspresikan emosi.
Anak perlu bebas marah, sedih, ingin tahu, bermain, dan mencintai. Namun orang tua modern sering menekan ekspresi emosi karena tidak nyaman melihat anak menangis atau marah. - Kebutuhan akan permainan bebas di alam.
Bermain kreatif adalah latihan alami bagi perkembangan otak. Kini, anak justru disibukkan dengan gawai dan tuntutan kognitif dini, yang justru menghambat imajinasi dan empati.
Ia mengaitkan kondisi ini dengan fenomena modern: meningkatnya kasus kecemasan, ADHD, depresi, serta tingginya konsumsi obat psikiatrik pada anak-anak di Amerika Utara. Semua itu, katanya, bukan karena “generasi lemah”, tetapi karena lingkungan perkembangan yang tidak sehat secara emosional.
Ketika Jay menanyakan bagaimana anak sebaiknya belajar menghadapi rasa sakit, Maté menjawab bahwa tidak perlu sengaja membuat anak “tangguh” dengan penderitaan, karena kehidupan sendiri akan memberi cukup banyak rasa sakit. Yang penting bukan menghindari rasa sakit, tetapi mendampingi anak ketika rasa sakit datang.
Ia mencontohkan: ketika anak kehilangan hewan peliharaan atau orang tua bercerai, orang dewasa sebaiknya tidak berkata “ayo cepat lupakan” atau “anak lain lebih menderita”, melainkan hadir dan memvalidasi perasaan anak: “Kamu sedih karena kakek tidak ada lagi, ya? Itu menyakitkan, ya?” Dengan cara itu, anak belajar bahwa ia bisa merasakan kesedihan tanpa harus hancur. “Kita memiliki sirkuit saraf untuk berduka,” kata Maté, “dan ia perlu digunakan agar kita tumbuh sehat.”
Jay berbagi kisah pribadinya: setelah keluar dari kehidupan sebagai biksu, ia merasa kehilangan jati diri karena identitas lamanya hilang. Maté menanggapi bahwa tidak ada identifikasi yang benar-benar sehat bila membuat seseorang kehilangan kebebasan batin. Ia mencontohkan, “Jika aku mengidentifikasi diriku sebagai dokter, maka aku membatasi diriku sebatas profesi itu.”
Identifikasi membuat kita menciut, bukan bertumbuh. Sama halnya dengan nasionalisme ekstrem—ketika seseorang mengidentifikasi diri sepenuhnya dengan bangsa, klub, atau peran tertentu, ia kehilangan pandangan independen dan mudah menderita bila identitas itu terguncang. Ia memberi contoh humoris dari masa kecilnya di Hungaria: ketika tim sepak bola nasional Hungaria kalah dari Jerman pada Piala Dunia 1954, seluruh bangsa tenggelam dalam kesedihan kolektif. “Padahal itu hanya permainan,” ujarnya, “tetapi karena kami terlalu mengidentifikasi, kekalahan itu terasa seperti tragedi pribadi.”
Ia menyimpulkan, manusia boleh menjadi bagian dari sesuatu, tetapi tidak boleh menjadi sama dengan sesuatu. “Begitu kita melekat pada identitas,” katanya, “kita berhenti menjadi diri yang sejati.”
Maté menjelaskan bahwa pikiran manusia (ego) pada dasarnya terbentuk sebagai struktur pertahanan terhadap rasa sakit masa kecil. Bila orang tua tidak tahu cara “memeluk batin” anaknya, anak akan menciptakan pikirannya sendiri untuk merasa aman. Pikiran ini kemudian berkembang menjadi “benteng ego” yang menolak perubahan dan kerentanan.
Ia mengutip ucapan Keith Richards, gitaris The Rolling Stones, tentang penggunaan heroin: “The contortions you go through just not to be yourself for a few hours.”
Baginya, kalimat itu mengandung kebenaran universal: orang menjadi kecanduan karena menjadi dirinya sendiri terasa terlalu menyakitkan. Maka mereka mencari pelarian: obat, kerja berlebihan, atau pengakuan eksternal. Pikiran yang awalnya dibuat untuk melindungi diri dari rasa sakit, pada akhirnya justru memenjarakan diri dalam kecanduan dan ketakutan.
Jay kemudian bertanya mengapa dua anak dalam keluarga yang sama bisa bereaksi berbeda terhadap orang tua yang kecanduan. Maté menjawab, “Tidak ada dua anak yang memiliki masa kecil yang sama.” Selain urutan lahir, tingkat sensitivitas bawaan juga berbeda. Anak yang sensitif memiliki kemampuan merasakan lebih dalam (sensitive berasal dari kata Latin sentire, ‘merasa’). Dalam lingkungan penuh kasih, sensitivitas menjadi anugerah—mereka tumbuh menjadi empatik, kreatif, dan intuitif. Tetapi dalam lingkungan penuh stres, sensitivitas itu berubah menjadi kutukan: mereka merasakan sakit lebih dalam, sehingga cenderung mencari pelarian.
Karena itu, kata Maté, anak yang “tidak menjadi pecandu” bukan berarti bebas dari luka; bisa saja ia melarikan diri ke arah lain—menjadi “sukses berlebihan” atau “perfeksionis ekstrem”. Kedua jalur adalah bentuk coping mechanism yang berbeda terhadap luka batin yang sama.
Maté lalu membahas loneliness, yang menurutnya berbeda dari being alone. “Kesepian adalah persepsi emosional, bukan fakta,” katanya. Seseorang bisa dikelilingi banyak orang dan tetap merasa sepi, atau bisa sendirian namun damai. Ia menilai bahwa masyarakat modern menciptakan kesepian sistemik melalui individualisme, kompetisi, dan nilai-nilai kapitalistik yang mengabaikan koneksi antarmanusia.
Ia mencontohkan hilangnya peran elders (tetua bijak). Kini kita hanya mengenal “the elderly” (orang tua renta), bukan “the elders” yang dihormati karena kebijaksanaan dan pengalaman hidup. Akibatnya, generasi muda kehilangan pandangan holistik tentang kehidupan, karena hanya bergaul dengan teman sebaya. Ia menyebut buku yang pernah ia bantu tulis, Hold On to Your Kids, yang berargumen bahwa anak-anak lebih banyak belajar dari teman sebaya daripada orang dewasa, padahal secara evolusioner manusia tumbuh dalam komunitas lintas usia. Ini, katanya, adalah “bencana perkembangan” modern.
Jay menyinggung contoh luar biasa dari Rwanda—bagaimana masyarakatnya bisa berdamai hanya dua dekade setelah genosida yang membunuh lebih dari sejuta orang. Maté mengangguk kagum dan menjelaskan bahwa penyembuhan kolektif hanya mungkin terjadi bila penderitaan diakui sepenuhnya. Tanpa pengakuan, luka kolektif tetap berdarah.
Ia menyinggung Kanada sebagai contoh: banyak penduduk asli (Indigenous People) masih menderita akibat warisan kolonialisme dan sekolah asrama wajib yang merenggut anak-anak dari keluarga mereka. Ia mengkritik permintaan maaf formal dari Gereja Katolik yang menurutnya “setengah hati”—karena menyalahkan “beberapa orang Kristen” alih-alih mengakui tanggung jawab institusional. “Kita tidak bisa sembuh tanpa pengakuan penuh atas penderitaan,” tegasnya.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa menunggu permintaan maaf dari dunia. Ia mencontohkan pengalaman penyintas Holocaust, Edith Eger, yang pergi ke kediaman Hitler di Pegunungan Alpen untuk “memaafkan” sang diktator—bukan untuk membenarkan kejahatannya, tetapi untuk melepaskan diri dari penjara batin kebencian. “Pengampunan bukan berarti ‘itu tidak apa-apa,’” kata Maté, “tetapi keputusan untuk tidak lagi memenjarakan diri dalam kebencian.”
Ketika membahas spiritualitas, Maté menekankan bahwa istilah itu terlalu sering disalahartikan dan dikomersialisasi. Baginya, spiritualitas sejati adalah rasa keterhubungan mendalam dengan sesuatu yang lebih besar dari ego—dengan alam, kehidupan, dan misteri eksistensi. Ia bercerita tentang upacara dengan masyarakat adat yang sangat terhubung dengan bumi: mereka merasa satu dengan rumput, gunung, dan bison di padang. “Kata ‘koneksi’ bahkan tidak cukup,” katanya, “mereka hidup dalam kesatuan dengan alam.”
Ia juga menyebut konsep medicine wheel dalam tradisi pribumi yang menyeimbangkan empat aspek diri: fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Keseimbangan keempatnya, katanya, adalah kondisi manusia yang utuh.
Di penghujung wawancara, Jay Shetty menanyakan lima pertanyaan cepat. Ketika ditanya, “Nasihat terbaik yang pernah Anda terima tentang penyembuhan?” Dr. Maté menjawab singkat: “Authenticity.” Ia menceritakan bahwa saat muda, seorang bibinya—penyintas Auschwitz—pernah menasihatinya dengan kutipan dari Hamlet: “To thine own self be true.”
Otentik, keaslian, kata Maté, adalah dasar dari semua penyembuhan: menjadi diri sendiri tanpa kepura-puraan, tanpa pertahanan, dan tanpa topeng.
Ia menutup dengan refleksi bahwa tujuan hidupnya kini adalah membantu manusia bebas dari batasan budaya dan masa lalu, agar bisa hidup sebagai manusia utuh—terhubung, sadar, dan penuh kasih. Dalam dunia yang sibuk, berisik, dan sering kali terasing, pesan Maté sederhana tapi revolusioner:
“Healing is not about fixing the past. It’s about coming home to yourself.”