“Bu, informannya berapa orang?”
Pertanyaan ini hampir pasti muncul di setiap bimbingan skripsi kualitatif. Jawaban standar dari buku metodologi: sampai jenuh, saturate, sampai tidak ada informasi baru. Mahasiswa mengangguk, pulang, lalu kembali seminggu kemudian dengan wajah yang sama bingungnya. Jenuhnya kapan, cirinya bagaimana Bu?
Saya jadi teringat resep masakan warisan ibu-ibu kita. Tulisannya selalu begitu: garam secukupnya, gula secukupnya. Bagi yang sudah puluhan tahun memasak, petunjuk ini cukup. Lidahnya sudah terlatih. Tapi bagaimana dengan yang baru memasak? Saturasi data mirip “garam secukupnya”. Prinsipnya benar, tetapi pemula butuh takaran awal dan cara mencicipi.
Apa kata penelitian tentang “secukupnya”?
Ternyata para metodolog juga gelisah dengan pertanyaan yang sama, lalu mengujinya secara empiris. Guest, Bunce, dan Johnson (2006) membedah 60 wawancara mendalam satu per satu. Hasilnya menarik: 70% dari 114 tema sudah muncul pada enam wawancara pertama, dan 92% pada dua belas wawancara pertama. Wawancara berikutnya lebih sering mengulang daripada menambah.
Enam belas tahun kemudian, Hennink dan Kaiser (2022) mengumpulkan studi-studi sejenis dalam sebuah tinjauan sistematis. Dari 23 artikel yang mereka telaah, studi berbasis data empiris mencapai saturasi pada rentang yang cukup sempit, yaitu 9 sampai 17 wawancara atau 4 sampai 8 diskusi kelompok terarah, terutama bila partisipannya relatif homogen dan tujuan penelitiannya terfokus.
Namun ada catatan penting. Hennink, Kaiser, dan Marconi (2017) membedakan dua jenis kejenuhan: saturasi kode menandai peneliti sudah “mendengar semuanya”, sedangkan saturasi makna diperlukan untuk “memahami semuanya”. Yang pertama biasanya disimpulkan lebih cepat. Rangkuman Wutich, Beresford, dan Bernard (2024) menyebut saturasi tema kira-kira tercapai pada 9 wawancara, sementara saturasi makna sekitar 24 wawancara.
Takaran berbeda untuk masakan berbeda
Soto dan rendang tentu tidak dimasak dengan takaran yang sama. Begitu pula desain penelitian. Braun dan Clarke (2013), dalam buku panduan untuk pemula, membagi berdasarkan skala proyek. Untuk proyek kecil, mereka menyarankan 6 sampai 10 partisipan wawancara individual, atau 2 sampai 4 kelompok diskusi. Skripsi S1 jelas masuk kategori ini.
Creswell, sebagaimana dirangkum Guetterman (2015), memberi patokan per desain: studi kasus tidak lebih dari empat sampai lima kasus, grounded theory 20 sampai 30, naratif satu sampai dua, dan fenomenologi tiga sampai sepuluh.
Kalau dirangkum menjadi takaran awal untuk skripsi, kira-kira begini:
- Analisis tematik dengan informan sejenis: rencanakan 10–12 orang, minimal 8.
- Fenomenologi (menggali pengalaman hidup): 6–10 orang.
- Studi kasus di satu organisasi: 8–15 orang lintas peran, ditambah dokumen sebagai pembanding.
- Informan dari beberapa kelompok (manajer, karyawan, pelanggan): 3–5 orang per kelompok. Kejenuhan dicek per kelompok, bukan dari total.
- Grounded theory: sebaiknya dihindari untuk S1. Bebannya terlalu berat untuk satu semester.
Satu tambahan dari pengalaman membimbing: siapkan dua atau tiga informan cadangan. Informan bisa mendadak sibuk, pindah kerja, atau ternyata jawabannya sependek pesan WhatsApp orang yang sedang marah.
Kapan takaran ditambah, kapan dikurangi?
Angka di atas bukan harga mati. Malterud, Siersma, dan Guassora (2016) menawarkan konsep daya informasi (information power). Logikanya sederhana. Makin spesifik karakteristik partisipan terhadap tujuan studi, makin kecil sampel yang dibutuhkan; makin lemah teori yang mendasari, makin besar sampelnya; makin kaya dialog wawancara, makin kecil sampelnya; dan analisis lintas kasus yang eksploratif membutuhkan sampel lebih besar.
Ada satu hal yang sering luput. Wawancara yang dangkal tidak bisa ditebus dengan menambah jumlah informan. Dua puluh wawancara berdurasi sepuluh menit tidak sama dengan sepuluh wawancara berdurasi satu jam. Kalau masakannya hambar karena bumbunya salah, menambah porsi tidak menolong.
Membuktikan kejenuhan
Di sinilah kelemahan skripsi kualitatif kita umumnya berada. Kalimat “data sudah jenuh” ditulis begitu saja, tanpa bukti. Padahal ada cara yang cukup sederhana.
Francis dan rekan (2010) mengusulkan aturan 10+3: mulai dengan 10 wawancara, lalu berhenti setelah tiga wawancara berturut-turut tidak memunculkan tema baru. Guest, Namey, dan Chen (2020) menawarkan versi yang lebih terukur, dengan tiga elemen: jumlah dasar (base size), jumlah lanjutan (run length), dan ambang informasi baru. Untuk skripsi, setelan praktisnya bisa begini: enam wawancara pertama sebagai dasar, lalu periksa setiap dua atau tiga wawancara berikutnya. Jika kode baru yang muncul tidak lebih dari lima persen, pengumpulan data boleh dihentikan.
Alatnya pun tidak rumit: sebuah tabel saturasi. Kolomnya informan pertama sampai terakhir, barisnya kode atau tema. Tandai kapan setiap kode pertama kali muncul, lalu hitung berapa kode baru di tiap wawancara. Tabel ini yang mengubah klaim menjadi bukti. Penguji tidak perlu lagi percaya begitu saja; ia bisa memeriksa sendiri.
Satu catatan untuk yang kritis
Tidak semua metodolog sepakat dengan saturasi. Braun dan Clarke (2021) justru mempertanyakan apakah saturasi cocok untuk analisis tematik refleksif. Dalam pendekatan itu, makna dibangun bersama oleh peneliti, bukan ditambang dari data wawancara sampai habis. Bagi mahasiswa yang memakai pendekatan refleksif, alasan berbasis daya informasi lebih tepat dipakai. Lain halnya bila skripsi bertujuan memetakan, misalnya jenis hambatan UMKM dalam memakai QRIS, dengan kategori yang disusun dari teori. Jenis hambatan yang relevan biasanya terbatas, sehingga wajar bila setelah sekian informan tidak ada lagi hambatan baru. Untuk riset seperti ini, menetapkan target jumlah informan di proposal lalu membuktikan kejenuhan dengan tabel saturasi tetap konsisten dan bisa dipertahankan di depan penguji.
Jadi Berapa Informannya
Jawabannya tetap “sampai jenuh”. Bedanya, sekarang mahasiswa tahu harus mulai dari takaran berapa, kapan menambah, dan bagaimana mencicipinya.
Resep “garam secukupnya” tidak salah. Ia hanya ditulis untuk mereka yang lidahnya sudah terlatih. Tugas kita sebagai pembimbing adalah menuliskan takaran awal bagi yang baru belajar memasak, sambil melatih “lidah” mereka.
Referensi
Braun, V., & Clarke, V. (2013). Successful qualitative research: A practical guide for beginners. SAGE.
Braun, V., & Clarke, V. (2021). To saturate or not to saturate? Qualitative Research in Sport, Exercise and Health, 13(2), 201–216.
Francis, J. J., dkk. (2010). What is an adequate sample size? Psychology & Health, 25(10), 1229–1245.
Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How many interviews are enough? Field Methods, 18(1), 59–82.
Guest, G., Namey, E., & Chen, M. (2020). A simple method to assess and report thematic saturation in qualitative research. PLOS ONE, 15(5), e0232076.
Guetterman, T. C. (2015). Descriptions of sampling practices within five approaches to qualitative research. FQS, 16(2), Art. 25.
Hennink, M. M., Kaiser, B. N., & Marconi, V. C. (2017). Code saturation versus meaning saturation. Qualitative Health Research, 27(4), 591–608.
Hennink, M., & Kaiser, B. N. (2022). Sample sizes for saturation in qualitative research. Social Science & Medicine, 292, 114523.
Malterud, K., Siersma, V. D., & Guassora, A. D. (2016). Sample size in qualitative interview studies: Guided by information power. Qualitative Health Research, 26(13), 1753–1760.
Wutich, A., Beresford, M., & Bernard, H. R. (2024). Sample sizes for 10 types of qualitative data analysis. International Journal of Qualitative Methods, 23.