Norman Finkelstein: Membaca Ulang Genosida Gaza, Pergeseran Sikap Yahudi Amerika, dan Runtuhnya Legitimasi PBB

Pascal Lottaz dari Neutrality Studies dan Felix Marquard dari The Black Elephant Experience membuka percakapan dengan memperkenalkan tamu mereka sebagai salah satu cendekiawan-aktivis Amerika Serikat yang paling vokal: Dr. Norman Finkelstein. Pascal membingkai pertemuan ini sebagai gagasan Felix, dan ia mengakui Finkelstein sebagai salah satu pakar utama soal Israel, Palestina, dan genosida di Gaza.

Dua Tahun Genosida: Tujuan, Cara, dan Batasan

Pascal membuka dengan pertanyaan tentang posisi situasi setelah dua tahun genosida. Finkelstein menjawab dengan menelusuri kembali keputusan yang menurutnya diambil Israel sejak 8 Oktober. Ia menyebut Israel menetapkan tujuan untuk “menyelesaikan persoalan Gaza” sekali untuk selamanya. Dalam praktiknya, ini berarti meninggalkan pola lama yang ia sebut sebagai “memotong rumput” (mowing the lawn) metafora yang dipakai Israel sendiri untuk menggambarkan operasi militer berkala di Gaza, termasuk Cast Lead pada 2008-2009 dan Protective Edge pada Juli-Agustus 2014, ditambah sekitar sepuluh operasi mematikan lain di bawah radar. Finkelstein menggarisbawahi sisi patologis metafora itu, mengingat separuh populasi yang “dipotong” adalah anak-anak.

Setelah 7 Oktober, kata Finkelstein, Israel tidak lagi sekadar memotong rumput. Israel hendak mencabut setiap helai rumput sampai ke akar, sebuah pembersihan etnis dalam terminologi hukum. Pada minggu-minggu awal, Israel berharap mengusir seluruh populasi Gaza ke Sinai utara, tetapi rencana itu kandas oleh veto negara-negara Arab. Israel kemudian beralih ke genosida, bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai modus operandi untuk menjalankan apa yang ia sebut “solusi akhir” untuk Gaza.

Finkelstein menyatakan bahwa tidak ada lagi perdebatan serius soal sifat genosidal taktik Israel: perintah memblokir makanan, bahan bakar, air, dan listrik; penggunaan kelaparan sebagai metode perang seperti yang disebut organisasi-organisasi HAM; pemutusan akses air. Bila diakumulasi, semua taktik itu menunjukkan niat genosidal — niat menghancurkan sebagian atau seluruh populasi Gaza, sesuai definisi dalam Konvensi Genosida.

Namun, Finkelstein mengingatkan bahwa setiap negara, termasuk yang paling agresif sekalipun, beroperasi dalam batasan sistem internasional. Ia mencontohkan Trump yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan genosidal soal Iran (mengembalikan Iran ke zaman batu, menghancurkan peradabannya), tetapi di menit terakhir mundur. Batasan-batasan itu, kata Finkelstein, sering dilanggar, lemah, dan lebih bersifat retoris ketimbang praktis. Tetapi mereka ada. Pola yang sama terjadi di Gaza: enam bulan pertama adalah fase paling intens, sebelum berbagai kendala mulai menekan, hingga akhirnya Trump (bukan karena alasan kemanusiaan, konsep yang menurut Finkelstein asing bagi hampir semua presiden AS) memberlakukan semacam gencatan senjata.

Mengutip Amnesty International, Finkelstein menyebut genosida tetap berlangsung, hanya kini dalam gerak lambat (slow-motion genocide). Tujuan Netanyahu tidak berubah: ia tetap ingin menyelesaikan persoalan Gaza. Yang berubah adalah ritmenya. Netanyahu yang semula berharap memicu eksodus massal, kini harus puas dengan tetesan pengungsian. Finkelstein juga skeptis terhadap rencana Trump (yang menurutnya hampir pasti tidak pernah dibaca Trump sendiri) tentang dewan perdamaian dan pasukan stabilisasi internasional. Janji peningkatan bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi disebutnya omong kosong. Tidak akan ada rekonstruksi, tidak akan ada bantuan kemanusiaan yang memadai, sampai persoalan Gaza “selesai” yakni Gaza dikosongkan.

Tucker Carlson, Kanan Baru, dan Cara Membingkai Persoalan

Felix beralih ke topik lain. Ia menyebut pengaruh besar buku Finkelstein, The Holocaust Industry (terbit Juni 2000), pada pemikirannya soal Palestina. Felix kemudian mengaitkan dirinya dengan dunia “kelas Epstein” (ia menyebut dirinya pernah jadi semacam underling di lingkaran itu) dan mencatat bahwa ketika berkas Epstein keluar, Finkelstein adalah salah satu dari sangat sedikit figur yang keluar dengan reputasi utuh.

Pertanyaan Felix bergerak ke pernyataan Finkelstein belakangan ini soal Tucker Carlson dan kanan Amerika. Dari Eropa, kata Felix, banyak orang justru mendambakan munculnya gerakan kanan yang mengarah ke anti-Zionisme. Ia menyinggung undang-undang yang nyaris lolos di Prancis beberapa minggu sebelumnya, yang akan mengkriminalisasi kritik terhadap Israel dengan ancaman penjara hingga lima tahun. Felix bertanya apakah Finkelstein tidak menyambut baik pergeseran di kanan AS itu.

Finkelstein menjawab dengan hati-hati. Banyak hal yang dikatakan Tucker Carlson selama setahun terakhir, ia akui, akurat. Ia tidak pernah menyangkal fakta. Carlson, katanya, bahkan berperan penting membawa pemahaman itu ke khalayak luas. Tetapi masalahnya bukan pada fakta, melainkan pada cara membingkai.

Cara Carlson membingkai isu, kata Finkelstein, tidak punya akar di tradisi kiri. Carlson membingkai Amerika Serikat sebagai negara yang murni dan tidak bersalah, yang ditipu, dirayu, atau diperas oleh orang-orang Yahudi di Israel. Bagi kiri, lanjut Finkelstein, Palestina adalah perjuangan pembebasan nasional, kisah tentang rakyat tertindas, imperialisme, kolonialisme. Ia mengaku tidak suka istilah “kolonialisme pemukim” karena dianggapnya tidak produktif secara intelektual, tetapi ia menempatkan Palestina dalam kerangka perjuangan anti-imperialis, mirip Afrika Selatan.

Sementara itu, kanan, menurut Finkelstein, membingkai Yahudi sebagai dalang internasional, penarik tali dari belakang yang sudah lama menguasai segalanya. Mereka menyalahkan pembunuhan Kennedy, perang Irak 2003, sampai (Finkelstein berseloroh) mungkin nanti pembunuhan Lincoln, kepada Israel. Ia menegaskan bahwa secara historis, “persoalan Yahudi” di tangan kanan tidak pernah berakhir baik. Ia tidak menyangkal ada masalah di kiri (Stalin, plot dokter), tetapi secara umum, Yahudi sebagai isu kiri mendapat tempat yang baik. Selama Perang Dunia II, ada solidaritas kuat antara kiri internasional dan penderitaan Yahudi. Tokoh seperti Paul Robeson dan W.E.B. Du Bois adalah orang kiri yang dekat dengan kaum Yahudi.

Felix mencoba membela Carlson, mengatakan bahwa Carlson berhati-hati dan tidak menyebut “orang Yahudi” secara generik. Finkelstein membalas dengan analogi serial Columbo: Carlson, katanya, punya gaya Columbo, pura-pura sederhana, pura-pura tidak tahu, tetapi tahu persis apa yang dilakukannya, seperti yang ditunjukkan dalam wawancaranya dengan Ted Cruz dan Mike Huckabee. Klaim bahwa ia tidak sedang membicarakan semua Yahudi, kata Finkelstein, mirip Lady Macbeth yang protes terlalu banyak. Carlson tahu pesan apa yang ia sampaikan.

Finkelstein lalu menyebut wawancaranya dengan Candace Owens, yang menyatakan bahwa para penyintas Holocaust sebenarnya adalah Bolshevik Rusia yang membunuh jutaan orang Kristen lalu berpura-pura menjadi penyintas kamp kematian, secara harfiah, kata-kata itu terucap. Bagi Finkelstein, ini menunjukkan dari mana arus pemikiran itu berasal. Ia mengulangi: banyak yang dikatakan Carlson benar, dan ia kadang melangkah lebih jauh. Ia mengaku sebagai orang pertama yang mengatakan bahwa segelintir miliarder Yahudi supremasis menghancurkan kebebasan akademik di Amerika Serikat — dan itu masalah nyata yang harus dinamai.

Zionisme, Yudaisme, dan Identitas Yahudi Amerika

Pascal melontarkan pertanyaan tentang kerusakan yang ditimbulkan Zionisme terhadap Yudaisme. Finkelstein mengatakan ia tidak memahami Yudaisme sebagai agama, ia tidak pernah mempelajarinya. Tetapi tentang Zionisme, ia menulis disertasi doktoralnya. Ia menghabiskan bertahun-tahun di lantai tiga cabang riset New York Public Library, sebuah bangunan yang ia gambarkan sebagai megah, meski dulu tanpa AC, ditolong langit-langit yang sangat tinggi.

Definisinya sederhana: seorang Zionis adalah orang yang percaya bahwa tidak ada masa depan bagi Yahudi di dunia non-Yahudi. Sebagian percaya Yahudi akan terasimilasi sampai lenyap, sebagian lagi percaya Yahudi akan dieksterminasi karena suhu antisemitisme yang selalu tinggi. Karena tidak ada masa depan, Yahudi perlu mendirikan negara di tanah air historis mereka, Eretz Yisrael atau Palestina.

Finkelstein mengutip kritikus sosial Irving Howe, yang ia setujui dalam banyak hal: jika seseorang punya cukup uang untuk membeli tiket sekali jalan ke Israel dan tidak pergi, maka ia bukan Zionis. Karena dengan tinggal, ia sudah memutuskan bahwa ada masa depan bagi Yahudi di dunia non-Yahudi. Atas dasar ini, Finkelstein menolak menyebut Yahudi Amerika sebagai Zionis.

Yang dimiliki Yahudi Amerika, menurutnya, adalah rasa kebersamaan dengan Yahudi di Israel, dan rasa kebersamaan itu bersifat supremasi. Ia mengutip yang ia ingat sebagai pernyataan Philip Roth: Yahudi tumbuh dengan satu pikiran yang ditanamkan ke kepala mereka sejak lahir, Yahudi lebih unggul. Finkelstein mengaku tumbuh dengan keyakinan itu, bukan dari orang tuanya, tetapi dari lingkungan Yahudi tua tempat ia tinggal, lingkungan anak-anak cerdas. Buktinya: 0,02% populasi dunia mengklaim 20% Hadiah Nobel; tokoh-tokoh modernitas (Freud, Einstein, Marx) semuanya Yahudi. Sukses sekuler yang spektakuler ini tampak seperti pembuktian superioritas.

Tetapi ini bukan Zionisme, kata Finkelstein. Mereka tidak pernah membaca buku serius tentang Zionisme; paling banter buku-buku coffee table.

Selama Israel tampak sebagai aset bersih (pejuang Yahudi yang membela peradaban Barat, Silicon Valley di Israel, dan seterusnya) Yahudi Amerika merangkulnya. Tetapi tidak lagi. Finkelstein yakin perubahan ini tegas. Dua atau tiga tahun terakhir, setiap Yahudi yang ia temui mengalami pergeseran. Ia menerima email dari kenalan masa pascasarjana yang sedang membaca buku Peter Beinart tentang Yudaisme atau bangsa Yahudi setelah Gaza, dan menyatakan malu karena tidak tahu fakta-fakta yang dipaparkan Beinart. Memang masih ada kelompok yang fanatik pro-Israel (banyak di antaranya tetangga Finkelstein) tetapi sentimen umum kini bergerak antara malu, jijik, dan ngeri terhadap negara yang ia sebut benar-benar lunatik. “Saya pikir ini sudah berakhir,” katanya.

Pascal meminta klarifikasi: apakah ini hanya fenomena lingkungan Finkelstein? Finkelstein menjawab lingkungannya (Coney Island, Brighton Beach) punya konsentrasi Yahudi ultra-konservatif, ortodoks, dan Yahudi Rusia yang sangat rasis, dan lingkungan itu selalu memilih Trump. Trump, katanya, punya dua konstituensi: kelas pekerja kulit putih yang menderita ekonomi, dan kelompok yang sama sekali tidak menderita tetapi rasis tulen. Yahudi di lingkungannya termasuk yang kedua, sekitar 15% dari populasi Yahudi. Tetapi 85% sisanya, klaimnya, kini sangat memusuhi Israel.

Felix membantah. Di Los Angeles, kata Felix, suaranya berbeda, masih ada konstituensi Yahudi yang sangat pro-Israel secara mendalam. Felix juga mengritik Tucker Carlson yang berbicara tentang genosida seolah Amerika tidak pernah melakukannya, padahal seluruh negara itu didirikan di atasnya. Finkelstein menanggapi: pertanyaan yang harus diajukan adalah mengapa hati Carlson tiba-tiba lunak terhadap penderitaan Palestina, bukan terhadap rakyat lain. Bila itu datang dari kiri, mudah dipahami karena Palestina cocok dalam trayektori perjuangan rakyat tertindas. Tetapi dari kanan, ada sesuatu yang lain bekerja, dan jawaban yang ia yakini bukan jawaban yang menyenangkan untuk diberikan.

Elite Yahudi, The New York Times, dan Iran

Felix mengamati bahwa di Amerika, Yahudi sedang bergerak; di Prancis, komunitas Yahudi yang ia kenal baik tidak bergerak sama sekali. Tetapi, katanya, ia tidak mengenal satu pun miliarder Yahudi Amerika yang anti-Zionis. Finkelstein membenarkan, tetapi mencatat bahwa ia tidak tahu posisi “kelas Soros”, ada banyak Yahudi di sana yang mungkin ia tidak ikuti. Yang terlihat (Bill Ackman, Barry Sternlicht) memang vokal dan brutal cara berkampanyenya, tetapi mungkin ada kelas miliarder Yahudi lain yang justru menarik diri dari cara Israel beroperasi.

Felix lalu masuk ke analisis Finkelstein soal The New York Times yang ia sampaikan kepada Briahna Joy Gray. Felix bertanya apakah Times sebenarnya tidak sedang menjual versi Zionisme yang lebih lembut, Netanyahu yang masalah, bukan Israel. Finkelstein membalas bahwa pernyataannya bukan sekadar tampak: Times benar-benar ingin Israel kalah dalam perang dengan Iran, karena di perang ini Israel dan Amerika Serikat menyatu di pinggul. Lima tahun lalu, hal ini tidak terbayangkan, bahkan selama genosida Gaza pun. Basis pembaca Times adalah kelas miliarder Yahudi Upper East Side. Finkelstein dan Felix sebentar bertukar nostalgia geografis Manhattan: Upper West Side dulu liberal hip (tempat Woody Allen mulai), Upper East Side konservatif kaya (tempat Allen berakhir).

Meski basisnya begitu, Times jelas ingin Trump kalah, karena kemenangan Trump dianggap akan terlalu memberanikan dirinya. Dan mereka tidak peduli bila Israel ikut kalah dalam prosesnya. Felix tetap mendesak: bukankah ini upaya menyelamatkan Israel dengan menyingkirkan Netanyahu, Ben-Gvir, Smotrich, demi menemukan “Zionis baik”? Finkelstein menjawab bahwa pencarian “Zionis baik” memang lama berlangsung, tetapi ada kesadaran yang sedang menetap bahwa hari itu sudah lewat. Israel sebagai “cahaya bangsa-bangsa” dengan tentara paling bermoral, narasi itu telah tutup buku.

Ia memprediksi kembalinya Yahudi Amerika ke situasi sebelum 1967, ketika Israel hanya backwater dan satu-satunya kontak Yahudi Amerika dengan Israel adalah donasi untuk menanam pohon di sana. Sebelum 1967, Israel praktis tidak ada dalam kesadaran Yahudi Amerika.

Ia mengutip Nathan Glazer, sosiolog Yahudi terkemuka era itu di Harvard: dua absen besar dalam kehidupan Yahudi Amerika adalah Israel dan Holocaust. Soal Holocaust, ketika Hannah Arendt menulis Eichmann in Jerusalem pada 1964-65 dengan bibliografi panjang, hanya tiga buku berbahasa Inggris yang tersedia: The Destruction of the European Jews karya Raul Hilberg, satu buku tentang SS, dan satu sejarah antisemitisme. Itu saja. Sekarang ada puluhan ribu. Semua itu fenomena pasca-Juni 1967.

Finkelstein menambahkan pengamatan yang menurutnya tidak banyak diangkat: untuk pertama kalinya sejak genosida Gaza, Holocaust tidak berhasil dipanggil. Pada minggu-minggu awal pasca-7 Oktober, peristiwa itu dibingkai sebagai “pembantaian Yahudi terbesar sejak Holocaust Nazi”. Bingkai itu jatuh datar. Setelah dua minggu, Holocaust hilang dari narasi. Tidak disebut lagi. Generasi muda, kata Finkelstein, tidak punya rasa historis dan tidak punya rasa ingin tahu historis, kalau bukan dua minggu lalu, tidak tertarik. Holocaust 80 tahun lalu tidak relevan bagi mereka. Di kampus, agen-agen Israel seperti Hillel pun tidak pernah memanggil Holocaust selama protes. Era industri Holocaust, kata Finkelstein, sudah lewat masa pakainya, sekarang harus mendaftar pailit.

Pascal menanggapi bahwa meski ada perubahan, dua setengah tahun genosida ini tetap dijalankan dalam keterlibatan penuh Eropa dan jaringan Barat, ia menyebutnya sistem. Times sendiri adalah corong propaganda selama setahun pertama, dengan staf Patrick Kingsley dan banyak lainnya, separuhnya orang Israel, banyak yang sebelumnya menulis untuk Times of Israel dan Jerusalem Post. Tetapi ketika datang Iran, kata Finkelstein, Times harus memilih: mendukung Israel berarti mendukung Trump.

Felix tidak yakin. Ia menafsirkan langkah Times sebagai upaya menyelamatkan Israel dengan menyingkirkan Netanyahu. Finkelstein berbeda pendapat: pertimbangan utama mereka adalah menyingkirkan Trump. Kalau harganya Israel kalah, mereka akan menerima harga itu. Ini, katanya, justru menjungkirbalikkan klaim bahwa Yahudi Amerika hanya peduli pada Israel. Mereka adalah elite Yahudi yang mengakar di Amerika, bukan Zionis, karena mereka percaya ada masa depan untuk Yahudi di sini. Bahkan, Amerika luar biasa baik untuk Yahudi.

Felix bertanya apakah mereka anti-Zionis. Tidak, kata Finkelstein — mereka semua supremasis Yahudi. Ia menyebut Chuck Schumer, satu sekolah dengannya (tiga tahun di atasnya), yang ia kenal sebagai pemikir kelas satu. Tetapi pada masa itu, generasi mereka tidak tertarik pada Israel; Israel saat itu sangat miskin, sederhana, egaliter, semacam komunisme primitif dalam istilah Marx. Yahudi Amerika saat itu siap menaklukkan dunia Amerika sendiri, dan mereka berhasil. Tidak ada loyalitas khusus pada Israel. Finkelstein percaya situasi akan kembali ke sana.

Konspirasi, Bukti, dan Perdebatan Kennedy

Felix kembali pada satu titik. Ia menerima bahwa Finkelstein bersifat strukturalis dan tidak berminat pada teori konspirasi. Tetapi konspirasi terjadi, Adam Smith sendiri di awal Wealth of Nations menulis bahwa para kapitalis terus-menerus berkumpul dan berkonspirasi. Felix bercerita tentang Davos yang ia datangi karena diajak seorang mogul PR New York yang ternyata adalah orang yang mengorganisir kesaksian putri duta besar Kuwait, kesaksian yang berperan memutuskan AS masuk ke Perang Teluk pertama. Felix juga mengingatkan bahwa karya Finkelstein sendiri penuh contoh hal-hal yang kelihatan begini ternyata begitu, dan bahwa di awal 60-an tidak ada yang berbicara tentang Nakba, tentang dosa asal Israel.

Finkelstein mengakui itu tidak mengejutkan. Tetapi ia menolak lompatan ke klaim bahwa Israel mungkin terlibat dalam pembunuhan Kennedy. Felix menyebut buku Peter Dale Scott. Finkelstein membantah keras: tidak ada bukti, nol. Orang tidak bisa melompat dari fakta bahwa James Jesus Angleton, hantu CIA, dimakamkan di Israel, ke kesimpulan bahwa Kennedy dibunuh Israel. Ada 10.000 titik yang harus dihubungkan. Ia menyebut bahwa antara 1.000 dan 2.000 buku ditulis tentang pembunuhan Kennedy; jika diperluas hingga yang menyentuh isu itu, jumlahnya 40.000. Berapa yang menyebut Israel di indeks? Nol. Ia membaca Whitewash karya Harold Weisberg, Rush to Judgment karya Mark Lane, dan beberapa lainnya. Israel tidak muncul.

Felix menyebut bahwa Finkelstein membaca buku-buku itu di tahun 60-an, lalu kehilangan minat, sementara buku Scott terbit awal 90-an dengan informasi baru tentang perbedaan tajam antara AS dan Israel. Finkelstein menjawab: tentu saja ada perbedaan tajam, kadang sangat panas. Tetapi ia mengulang analogi yang ia pakai saat makan malam dengan dua orang yang tertarik teori itu. Ia bertanya: apakah kau bertengkar dengan istrimu? Ya. Apakah pertengkaran itu kadang sangat panas? Ya. Apakah kadang kau ingin mencekiknya? Ragu-ragu, ya. Sekarang: apakah kau pernah menyewa pembunuh bayaran untuk istrimu? Ada banyak titik yang harus dihubungkan antara konflik kepentingan AS-Israel soal program nuklir dan klaim pembunuhan. Ia menyebut tempat itu sebagai tempat lunatik.

Legitimasi PBB, Iran, dan Standar Ganda

Felix mengubah arah dan bertanya tentang penilaian Finkelstein atas peran Francesca Albanese dan PBB dalam mendokumentasikan apa yang terjadi. Apakah masih ada kehidupan di PBB pasca-genosida?

Finkelstein menjawab tidak. Ia menetapkan tanggal: 17 November 2025. Pada tanggal itu, Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 2803, yang intinya (menurut Finkelstein) adalah memberikan akta kepemilikan Gaza kepada Donald J. Trump. Ia menyebut tidak ada hal serupa sejak Konferensi Berlin tentang Afrika 1884-1885 yang memberikan Kongo kepada Raja Leopold. Pada hari itu, ia menulis bahwa PBB telah berubah menjadi mayat busuk.

Bukti tambahan, kata Finkelstein, datang dengan pelanggaran Piagam PBB yang paling brazen, paling flagran, paling mengerikan dalam sejarahnya, bahkan, secara substantif, melampaui pola sebelum ada Piagam. Karena setidaknya, dalam sejarah, negara-negara yang melancarkan perang agresi merasa perlu mengarang dalih: serangan balasan bersenjata. Ia mengutip de Gaulle pada 1967: “Siapa pun yang menembak lebih dulu bertanggung jawab.” Pasal 51 Piagam PBB hanya memberi hak bela diri jika ada serangan bersenjata.

Hitler pada September 1939 mengarang insiden perbatasan Polandia. Perang Spanyol-Amerika menggunakan serangan terhadap kapal Maine sebagai dalih (mungkin direkayasa). Eskalasi besar di Vietnam dipicu Insiden Teluk Tonkin, yang ternyata tidak terjadi. Tetapi Israel dan AS menyerang Iran tanpa dalih apa pun. Tidak ada klaim serangan bersenjata. Nol. Mereka melakukannya dua kali, Juni tahun lalu dan sekali lagi.

Finkelstein menyimak debat Dewan Keamanan di YouTube. Kecuali Rusia dan Tiongkok, semuanya menyalahkan Iran. Perwakilan Rusia mengatakan mendengarkan Prancis dan Jerman seperti berada di Alice in Wonderland melalui cermin alam semesta paralel di mana Iran adalah agresor.

Pada titik ini, ia menjelaskan, PBB adalah organisasi yang bercabang. Ada badan politik, badan hukum, dan banyak fungsi kemanusiaan serta penjaga perdamaian. Birokrasi raksasa. Bagian seperti UNRWA tetap penting, mereka menjalankan fungsi vital, menjaga orang tetap hidup, dan ia tidak mau meremehkan itu. Tetapi sebagai badan politik, PBB telah kehilangan seluruh legitimasinya. Hampir komikal: bagaimana dalam situasi seperti ini Iran bisa dituduh sebagai agresor?

Pola yang sama berlaku untuk debat soal Venezuela. Kecuali Rusia, Tiongkok, dan pada titik tertentu Kuba, nama Trump tidak pernah disebut. Yang mereka lakukan hanyalah menyerang Maduro atas pemilu yang dianggap palsu. Bahkan negara seperti Cile, yang menentang kudeta AS di Venezuela, tidak pernah mengatakan satu kata pun melawan AS. Pascal menambahkan bahwa Eropa hanya bangun untuk Greenland, Finkelstein menyetujui sepenuhnya.

Gaza’s Gravediggers: Membongkar Klaim 7 Oktober

Pascal menutup percakapan dengan ruang untuk hal yang belum disinggung. Felix mengingatkan tentang buku Finkelstein yang akan terbit Juni, Gaza’s Gravediggers. Finkelstein menggambarkan buku itu sebagai pemeriksaan tokoh-tokoh dalam sistem internasional yang ia yakini disuap atau efektif menjadi agen Israel. Di antaranya: Hakim Julia Sebutinde, Wakil Presiden Mahkamah Internasional; mantan Presiden ICJ Joan Donoghue; Pramila Patten, utusan khusus Sekjen PBB untuk kekerasan seksual terkait konflik. Patten, kata Finkelstein, adalah orang yang memvalidasi klaim propaganda Israel bahwa Hamas menggunakan pemerkosaan sebagai senjata pada 7 Oktober.

Tidak ada bukti, kata Finkelstein. Klaim itu palsu. Ia membaca catatannya dengan teliti. Tidak ada bukti material, forensik, atau digital tentang kekerasan seksual yang dilakukan Hamas pada hari itu. Ia membatasi klaimnya: barring revelation 30 tahun kemudian dari cucu Peter Dale Scott, tidak ada bukti pemerkosaan terjadi. Buktinya cukup meyakinkan: setidaknya 5.000 foto dari 7 Oktober terdokumentasi. Sekitar 50 jam rekaman digital, body cam, dash cam, kamera lalu lintas, iPhone. Tidak ada satu pun gambar kekerasan seksual. Bagaimana mungkin, jika itu digunakan sebagai senjata?

Ia menggambarkan pola yang terjadi: PBB (sebagian), Human Rights Watch, Amnesty International begitu ingin ikut narasi bahwa Hamas adalah makhluk buas hingga merentangkan definisi kekerasan seksual sampai melewati batas masuk akal. Komisi Investigasi PBB menyebut: ketika anggota Hamas melarikan diri dari Gaza dengan motor skuter, sandera perempuan duduk di antara dua anggota Hamas, dan ini disebut kekerasan seksual. Istilah yang dipakai: “coerced intimacy”. Finkelstein menyebut ini cara melayani narasi, mungkin untuk meredakan Israel dengan melempar tulang, karena laporan-laporan itu sebagian besar kritis terhadap Israel.

Israel, katanya, menjadikan isu kekerasan seksual sebagai litmus test. Anda harus setuju ada kekerasan seksual; jika tidak, anti-Israel, antisemit, antiperempuan. The New York Times berperan penting lewat artikel “Screams Without Words” pada Desember 2023, tepat ketika opini global berbalik melawan Israel. Waktunya, kata Finkelstein, luar biasa.

Ia menegaskan bahwa pertanyaannya bukan opini, tetapi bukti. Pendukung klaim mengakui tidak ada bukti forensik, mereka beralasan jumlah korban (1.200 dalam sehari) memaksa pemrosesan jenazah cepat untuk pemakaman ritual, sehingga ahli forensik tidak cukup. Itu, kata Finkelstein, penjelasan yang masuk akal walau tidak meyakinkan sepenuhnya. Tetapi ada masalah lain: tidak adanya bukti digital. Pemerkosaan disebut terjadi terutama di festival musik, sebagian besar dengan korban muda. Dikatakan pemerkosaan kelompok dilakukan secara terbuka di publik untuk menghancurkan moral Israel. Ada 14 saksi yang mengaku menyaksikan dari persembunyian. Tidak ada yang mengeluarkan iPhone. Generasi yang merekam segalanya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Ia mengingatkan insiden ICE di Minnesota, kaum muda tetap maju merekam dengan iPhone meski ICE membunuh orang. Tidak satu foto, tidak satu rekaman, dari festival 7 Oktober. Bagaimana mungkin?

Penutup

Pascal menutup dengan menyatakan dirinya senang buku itu akan terbit Juni atau Juli (Gaza’s Gravediggers) yang juga akan mendokumentasikan tokoh-tokoh yang mencoba mencuci semua ini. Mereka berjanji mengundang Finkelstein lagi untuk membicarakan buku itu lebih dalam. Felix Marquard dan Pascal Lottaz mengucapkan terima kasih. Finkelstein menyatakan harapan untuk berjalan lagi di pantai Coney Island bersama Pascal, kemarin 38 derajat Fahrenheit, masih musim dingin di New York.