Pidato Presiden Trump 1 April 2026 menyampaikan tiga pesan utama jangka pendek: tidak akan ada pasukan darat, perang akan berakhir pada akhir April, dan pergantian rezim bukan menjadi tujuan. Namun, sejarah mengajarkan bahwa setiap perang besar (dari Perang Dunia hingga Vietnam) dimulai dengan janji-janji serupa: “Ini tidak akan lama,” “Pasukan kita akan pulang sebelum musim gugur.” Janji-janji itu, bertahun-tahun kemudian, hanya menjadi ironi pahit. Begitu korban jiwa mulai berjatuhan, arah konflik menjadi tidak terprediksi.
Meski presiden tidak menyebut pasukan darat, kenyataannya pasukan Amerika (termasuk sebagian dari Nevada National Guard) sedang dalam perjalanan ke Teluk Persia. Ini bisa berarti niat yang belum diumumkan, atau setidaknya opsi yang sengaja dibiarkan terbuka. Jika pada akhirnya AS memutuskan bahwa diperlukan penaklukan total, penyerahan tanpa syarat, atau pergantian kepemimpinan Iran, maka semua itu hampir mustahil dicapai hanya dengan kekuatan udara.
Pertanyaan-pertanyaan taktis tentang pasukan darat atau durasi perang sebenarnya bukan pertanyaan yang tepat. Yang sedang terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih besar: pergeseran kekuasaan global. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bersifat fundamental:siapa yang menguasai dunia? Di mana pusat-pusat kekuasaan sesungguhnya? Apa arti “kekuatan” bagi sebuah negara? Dari mana kekuatan Amerika Serikat berasal? Dan yang paling dalam: siapa kita sebagai bangsa, apa yang kita perjuangkan, dan apa yang sebenarnya kita pertahankan ketika berperang?
Konflik ini, meskipun tidak melibatkan semua negara secara langsung, adalah perang dunia dalam arti bahwa setiap negara memiliki taruhan di dalamnya. Masa depan setiap bangsa akan ditentukan sebagian oleh apa yang terjadi di Iran.
Untuk menjawab siapa yang mengendalikan dunia, cukup lihat satu titik di peta: Selat Hormuz. Selat ini adalah titik sempit (chokepoint) di ujung timur Teluk Persia: jalur keluar bagi seperlima energi dunia, sekitar 30% pupuk global, dan berbagai komoditas vital lainnya. Panjangnya sekitar 100 mil, lebarnya hanya 25 mil pada titik tersempit. Tanpa selat ini, ekonomi global lumpuh.
Iran bukan kekuatan militer dalam pengertian konvensional. Angkatan laut dan angkatan udaranya telah dihancurkan, program nuklirnya dilumpuhkan. Namun Iran tetap kuat, bukan karena persenjataannya, melainkan karena geografinya. Iran berada di sisi utara Selat Hormuz. Selama Iran ada di sana, ia memiliki kemampuan untuk menghentikan aliran perdagangan global. Inilah yang membuat Iran, suka atau tidak, menjadi negara yang harus diperhitungkan. Kekuatan Iran pada dasarnya bersifat ekonomi, bukan militer, dan pemimpin-pemimpin terdahulu Amerika memahami hal ini meski tampaknya kepemimpinan saat ini belum sepenuhnya mengartikulasikannya.
Amerika Serikat tampaknya memasuki konflik ini dengan keyakinan keliru bahwa Selat Hormuz bisa dibuka dengan kekerasan. Namun logikanya sederhana: menutup selat itu sangat mudah: cukup dengan ranjau laut, perahu peledak, atau drone. Sebaliknya, menjamin keamanan pelayaran di selat itu sangat sulit. Sifatnya asimetris.
Bayangkan skenario terburuk: Iran dihancurkan total, pemerintahannya runtuh. Apakah selat akan terbuka? Justru sebaliknya. Tanpa otoritas yang mengendalikan wilayah tersebut, kelompok bersenjata mana pun bisa menguasai selat, memungut pajak dari pelayaran, atau bertindak sebagai perompak. Tidak ada perusahaan asuransi yang mau menanggung kapal melewati perairan tanpa pemerintah yang menjamin keamanannya.
Bahkan jika 99% penduduk Iran tewas, tidak ada yang bisa menjamin bahwa minyak, gas alam cair, atau pupuk dari Teluk Persia bisa keluar ke Samudera Hindia. Ini bukan posisi anti-perang yang naif, tapi observasi praktis. Tidak ada solusi militer untuk Selat Hormuz.
Jika hendak menggunakan kekerasan sebagai alat, maka skenarionya sangat sempit dan rapuh: Iran harus cukup lemah untuk menerima tuntutan AS, tetapi cukup kuat untuk mempertahankan kontrol atas wilayah dan perairan itu. Operasi yang sangat presisi dan pada akhirnya tetap membutuhkan persetujuan (consent), bukan pemaksaan.
Dari sini muncul pelajaran yang lebih dalam tentang hakikat kekuasaan. Kekuasaan bukanlah kemampuan untuk menghancurkan, menghancurkan itu mudah, membunuh itu sederhana. Kekuasaan sejati adalah kemampuan untuk memulihkan ketertiban. Seperti dalam keluarga: anak-anak bisa berkelahi, tetapi yang berkuasa adalah orang tua yang menghentikan perkelahian dan mengembalikan ketenangan.
Prinsip yang sama berlaku bagi negara-negara. Bangsa yang memulihkan ketertiban adalah bangsa yang memimpin. Dalam konteks global, negara yang membuka kembali Selat Hormuz (yang memulihkan aliran perdagangan dunia) secara definisi adalah negara yang menguasai dunia.
Selama beberapa dekade sejak Perang Dunia II, dunia mengasumsikan bahwa negara itu adalah Amerika Serikat. Setiap kali Iran mengancam menutup selat, dunia memandang ke Washington. Asumsi itu bertahan hingga 28 Februari (hari perang ini dimulai) ketika dunia menyadari bahwa Amerika Serikat tidak mampu memulihkan ketertiban.
Ini menjadi guncangan luar biasa bagi enam negara Teluk (GCC) sebagai sekutu terdekat AS di kawasan yang selama bertahun-tahun hidup di bawah jaminan keamanan Amerika. Dalam hitungan jam setelah perang dimulai, Iran menyerang mereka. Uni Emirat Arab menerima lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone menghantam infrastruktur energi, hotel di pusat kota Dubai, dan bandara-bandara tersibuk di dunia. Qatar, Arab Saudi, mengalami hal serupa. Dan Amerika Serikat tidak bisa (atau tidak mau) menghentikannya.
Negara-negara Teluk ini, yang sebagian sebagai imbalan atas jaminan keamanan AS, telah menginvestasikan triliunan dolar ke Amerika melalui dana kekayaan kedaulatan (sovereign wealth funds) mereka. Kini, dengan kebutuhan membangun kembali negara mereka sendiri, investasi itu kemungkinan akan melambat atau bahkan ditarik kembali. Ini bukan hanya kerugian bagi mereka, tetapi juga kerugian besar bagi Amerika Serikat, dan lebih dari itu ini adalah perombakan total atas ekspektasi dan struktur kekuasaan global.
Dua pernyataan presiden US semalam memiliki bobot geopolitik yang luar biasa. Pertama, dengan mengatakan bahwa selat akan terbuka kembali karena Iran sendiri membutuhkan pendapatan dari penjualan minyak, Trump secara implisit mengakui bahwa suatu bentuk rezim Iran (yang bukan pilihan AS) akan tetap berkuasa ketika perang berakhir.
Kedua, dan yang paling krusial, Trump menyerukan agar negara-negara yang bergantung pada minyak dari Selat Hormuz mengurus sendiri jalur pelayaran itu. “Kami akan membantu, tetapi mereka harus memimpin,” kata presiden. Ia bahkan menyarankan: “Beli minyak dari Amerika Serikat. Kami punya banyak.” Bagi negara-negara yang tidak mau ikut serta dalam “pemenggalan” Iran, pesannya tegas: tunjukkan keberanian, pergi ke selat itu, dan buka sendiri.
Ini adalah pengakuan terbuka bahwa Amerika Serikat tidak akan (atau tidak bisa) menjadi kekuatan yang membuka Selat Hormuz. Presiden AS baru saja mengatakan kepada dunia: lakukan sendiri.
Meski retorikanya diarahkan ke Eropa, secara praktis Eropa tidak memiliki kapasitas militer untuk membuka selat. Negara-negara Eropa (Prancis, Inggris, Jerman) tidak memiliki angkatan bersenjata yang signifikan, sebagian karena negara-negara mereka telah dilindungi (dan sebagian diduduki) oleh militer AS sejak 1945.
Yang sesungguhnya menjadi lawan bicara Trump adalah Tiongkok. Tiongkok adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki kekuatan (bukan semata kekuatan militer, melainkan kekuatan ekonomi) untuk membuka selat. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar bagi setiap negara Teluk dan bagi Iran. Tiongkok secara teori bisa membangkrutkan Iran jika mau, tetapi Tiongkok juga sangat bergantung pada energi dari Teluk. Asia menggunakan sekitar setengah dari listrik dunia (sebagian besar untuk manufaktur) namun hanya memproduksi sekitar 2% gas alam dunia.
Namun dari perspektif Tiongkok, mengapa terburu-buru? Semakin lama selat tertutup, semakin lemah sekutu-sekutu AS di Asia (Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Filipina) yang semuanya bergantung pada energi Timur Tengah. Harga energi di AS akan melonjak, harga pangan ikut naik, keresahan politik memburuk. Ini semua melemahkan Amerika dan mengirim pesan jelas kepada negara-negara Asia: Amerika mungkin tidak akan datang menyelamatkan kalian jika terjadi konflik dengan Tiongkok.
Mengapa mengadakan invasi militer ke Taiwan (dengan segala kekacauan yang menyertainya) jika Anda bisa mengirim pesan halus bahwa reunifikasi tidak terelakkan, dan lebih baik dilakukan secara damai seperti di Hong Kong? Negara yang kalian harapkan melindungi kalian bahkan tidak bisa melindungi Qatar atau pusat kota Dubai. Apakah ia benar-benar mampu memproyeksikan kekuatan di Laut China Selatan?
Apakah ini buruk bagi Amerika? Dalam jangka pendek, jelas ada unsur penghinaan. Akan ada momen seperti jatuhnya Saigon 1975 atau mundurnya pasukan dari Kabul yang menyakitkan dan mematahkan semangat. Akan menjadi jelas bahwa AS tidak mampu melakukan hal yang dilakukan kekuatan besar: menjaga arus perdagangan tetap berjalan.
Namun ini bukan akhir dari Amerika Serikat. Ini adalah akhir dari momen unipolar, keyakinan bahwa AS mengendalikan segalanya dan semua pihak akan tunduk. Momen itu sebenarnya sudah berakhir setidaknya 15 tahun lalu, tetapi baru sekarang tidak ada lagi yang bisa menyangkalnya.
Yang dipahami Trump dengan baik (setidaknya dalam hal ini) adalah bahwa kekuasaan pada akhirnya berakar pada kemakmuran, dan kemakmuran berakar pada sumber daya: pangan, air, dan energi. Tiga hal yang dibutuhkan untuk kehidupan, pertumbuhan, dan peradaban.
Asia, meski kekuatan ekonomi besar, sangat miskin energi. Jepang dan Tiongkok bergantung sepenuhnya pada negara lain. Sejarah mengajarkan konsekuensinya, Jepang Imperial menjadi imperial justru karena kekurangan sumber daya, yang mendorongnya menginvasi tetangga-tetangganya.
Sementara itu, Belahan Barat (Amerika Utara, Amerika Selatan, Karibia) memiliki cadangan energi masif, sumber air tawar berlimpah, dan lahan pertanian terbaik di dunia. Amerika Serikat khususnya memiliki kelimpahan gas alam yang luar biasa. Jika dunia terbagi dua (Tiongkok mengendalikan timur, AS mengendalikan barat) itu mungkin bukan skenario terburuk bagi Amerika. Namun ini membutuhkan cara berpikir yang sama sekali berbeda dari Pentagon, Departemen Luar Negeri, dan akademisi yang selama ini memberi masukan tentang apa yang seharusnya dilakukan “imperium.”
Dalam kerangka ini, apa yang terjadi di Brasil (dengan cadangan air tawar, lahan pertanian, dan energinya yang masif —) menjadi jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di Arab Saudi. Brasil adalah negara Kristen, berbahasa rumpun Roman, berada tepat di selatan AS, hampir sebesar daratan kontinental AS. Mengapa tidak mencurahkan lebih banyak energi untuk membawa Brasil ke dalam lingkaran pengaruh, menstabilkannya, dan mengintegrasikan ekonominya?
Hal yang sama berlaku untuk Kanada dan Meksiko. Kanada memiliki jauh lebih banyak minyak dan air tawar daripada AS, cadangan minyak terbesar keempat di dunia. Kanada adalah mitra dagang terbesar AS, namun juga negara yang paling diabaikan. Meksiko, di sisi lain, membawa tantangan serius: migrasi massal, perang narkoba, dan pengaruh kartel yang semakin merasuk ke dalam AS. Membenahi hubungan dengan kedua negara tetangga ini, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan pengaruh positif dan integrasi menjadi imperatif strategis dalam era pasca-imperium.
Salah satu “keuntungan” dari krisis ini adalah sifatnya yang mengungkap. Di bawah tekanan, orang-orang mengakui apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Perang ini (yang diinginkan oleh banyak komentator, anggota Kongres, dan pemerintah Israel) tidak berjalan sesuai janji. Warga Amerika telah tewas, atas dorongan kepentingan asing, tanpa manfaat material bagi negara mereka. Ini bukan teori konspirasi; ini fakta yang kini terbuka lebar. Gagasan-gagasan seperti neokonservatisme, pelestarian imperium, dan pengambilan keputusan yang dipengaruhi negara kecil dari jauh kini naik ke permukaan dan bisa didiskusikan secara terbuka.