Pandangan Islam tentang Burnout bersama Dr. Franchesca Bocca

Fenomena burnout kini menjadi masalah global: kelelahan yang bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Banyak orang merasa kehilangan semangat, makna, dan arah hidup—terutama di tengah budaya modern yang menuntut untuk selalu sibuk, produktif, dan “berprestasi.” Dalam sesi “Avoiding Burnout the Islamic Way”, Dr. Franchesca Bocca, seorang neuroscientist dan pakar psikologi Islam, menguraikan bagaimana Islam, jauh sebelum psikologi modern lahir, telah memiliki konsep yang kaya untuk memahami, mencegah, dan mengobati burnout.

Secara klinis, burnout adalah kondisi ketika seseorang merasa kehabisan energi, mengalami jarak emosional terhadap pekerjaan atau tanggung jawabnya, dan kehilangan efektivitas dalam berkarya. Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kelelahan di tempat kerja, tetapi kini telah meluas ke semua aspek kehidupan: keluarga, pendidikan, aktivisme, bahkan pelayanan keagamaan.

Dr. Franchesca menekankan bahwa burnout bukan hanya masalah psikologis, melainkan cermin dari pergeseran sosial dan spiritual modernitas. Masyarakat kini hidup di bawah tekanan untuk terus mengoptimalkan diri. Filsuf Byung-Chul Han menyebut manusia modern sebagai “entrepreneur of the self”, terus-menerus meningkatkan performa, menolak kelemahan, dan akhirnya kelelahan secara eksistensial. Charles Taylor dalam A Secular Age menjelaskan bahwa modernitas telah menyingkirkan makna transendental, sehingga manusia kehilangan sumber kedamaian batin. Sementara Mark Fisher dalam Capitalist Realism menulis bahwa di bawah ideologi neoliberal, kegagalan dianggap sebagai kesalahan personal, bukan akibat sistem yang menindas. Akibatnya, banyak orang tidak lagi melawan sistem yang menekan, melainkan menyalahkan diri sendiri dan bekerja makin keras hingga habis.

Dua pendekatan utama psikologi modern untuk menangani burnout adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan mindfulness. CBT membantu seseorang mengenali pola pikir dan perilaku yang merugikan, sementara mindfulness melatih kesadaran penuh terhadap napas dan tubuh. Meski efektif dalam jangka pendek, kedua pendekatan ini sering kali tidak menjawab kebutuhan makna dan dimensi spiritual. “Manusia modern masih haus akan sesuatu yang melampaui dirinya,” ujar Dr. Franchesca, “dan kerangka materialistik semata tidak cukup untuk menyembuhkan kelelahan jiwa.”

Tradisi Islam memahami burnout jauh sebelum istilah itu ada

Islam memiliki warisan panjang dalam memahami hubungan antara tubuh, jiwa, dan spiritualitas. Para ilmuwan Muslim klasik membahas kondisi yang mirip dengan burnout berabad-abad sebelum istilah itu diciptakan pada 1970-an.

Salah satu tokoh awal adalah Abu Zayd al-Balkhi (850–934 M), pelopor psikologi Islam yang menulis Masalih al-Abdan wa al-Anfus (“Kesehatan Tubuh dan Jiwa”). Ia menggambarkan kondisi futur sebagai kelelahan psikologis akibat kesedihan berkepanjangan yang menyebabkan kehilangan vitalitas dan motivasi. Al-Balkhi menegaskan adanya keterkaitan antara tekanan emosional dan kelelahan fisik, suatu konsep yang kini diakui ilmu saraf modern sebagai hubungan psikosomatik.

Tokoh lain, Ibn Sina (Avicenna, 980–1037 M), dalam Al-Qanun fi al-Tibb menulis tentang kelelahan mental yang muncul setelah stres atau kerja intelektual intens. Ia mencatat gejala seperti gangguan tidur, kehilangan selera makan, dan berkurangnya semangat. Ibn Sina menyarankan tiga bentuk terapi utama: istirahat fisik, perubahan gaya hidup, dan kegiatan yang menimbulkan kegembiraan (farah), seperti menikmati alam, mendengarkan syair, dan berkumpul dengan sahabat. Menurutnya, tanpa ketiganya, seseorang akan jatuh pada depresi berat dan “runtuhnya kekuatan batin.”

Sementara itu, Al-Razi (Rhazes, 865–925 M) dalam Al-Hawi mengaitkan stres emosional kronis dengan penyakit fisik seperti gangguan pencernaan dan kelemahan jantung. Ia bahkan menyinggung faktor moral dan sosial: tekanan ekonomi, tanggung jawab keluarga, dan kehilangan orientasi spiritual dapat menjadi penyebab utama kelelahan. Ali ibn al-Abbas al-Majusi (Haly Abbas) menambahkan bahwa kelelahan kognitif akibat kerja administratif dan stres mental panjang bisa mengacaukan keseimbangan tubuh (mizaj) dan melemahkan semangat hidup.

Dr. Franchesca menjelaskan bahwa semua pemikir Islam ini memandang burnout bukan sekadar kumpulan gejala, melainkan tanda kehilangan keseimbangan (mizan). Dalam sistem Islam, kesehatan sejati adalah keselarasan antara tubuh (jism), akal (‘aql), jiwa (nafs), dan hati (qalb).

Dalam pandangan Islam, burnout adalah akibat dari hidup yang tidak seimbang. Seseorang yang terobsesi dengan kesuksesan duniawi atau beribadah berlebihan tanpa jeda sama-sama keluar dari jalan tengah (wasath). Islam menegaskan bahwa manusia memiliki batas: “Allah tidak membebani jiwa melampaui kemampuannya” (QS. Al-Baqarah 2:286). Mengabaikan batas itu berarti menentang fitrah.

Keseimbangan (mizan) bukan sekadar konsep spiritual, tetapi prinsip psikologis. Ia mengajarkan ritme: kerja diimbangi istirahat, ibadah disertai rekreasi, keseriusan ditemani kegembiraan. Bahkan dalam hadis, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa tubuh, mata, dan keluarga memiliki hak atas diri kita. Islam tidak memuliakan kelelahan, tetapi mengajarkan kesadaran diri terhadap batas kemampuan.

Dr. Franchesca menekankan bahwa dalam konsep Islam preventif, pencegahan itu lebih utama daripada pengobatan. Islam memiliki sistem keseimbangan hidup yang disebut wasatiyyah, yaitu hidup proporsional dan tidak berlebihan. Ia menyarankan beberapa praktik yang diambil dari warisan Islam:

  • Menjaga ritme hidup dengan memberikan ruang bagi ibadah, kerja, keluarga, dan waktu pribadi.
  • Menerima fluktuasi alami energi—ada masa produktif dan masa lemah, sebagaimana fitrah manusia.
  • Menghadirkan variasi aktivitas yang sehat: menikmati alam, membaca puisi, berbincang dengan teman.
  • Mengistirahatkan tubuh secara teratur, termasuk qailulah (tidur siang), yang dalam banyak hadis disebut menyehatkan.
  • Menata niat (niyyah) agar setiap aktivitas diniatkan karena Allah, bukan untuk mencari pengakuan atau menutupi rasa bersalah.

Jika seseorang sudah mengalami burnout, Islam menawarkan cara-cara penyembuhan yang bersifat spiritual sekaligus praktis: mengambil jarak sementara dari pekerjaan, memperbanyak doa dan zikir, memperkuat dukungan sosial, dan menemukan hikmah baru di balik pengalaman hidup yang menekan (meaning-making). Dalam hadis disebutkan pula terapi yang menarik: memanah (riyadah al-rumyah), yang bukan hanya olahraga fisik, tetapi juga latihan fokus dan kehadiran diri. Nabi ﷺ bersabda, “Ambillah busurmu ketika kesedihan menimpamu, karena memanah dapat mengusir kegelisahan dan kesedihan.”

Dr. Franchesca menyoroti fenomena yang kerap tak dibicarakan: burnout di kalangan imam, guru agama, dan relawan sosial. Banyak yang merasa harus selalu siap menolong, hingga lupa mengisi kembali tenaga mereka sendiri. Kondisi ini disebut compassion fatigue, kelelahan karena empati yang berlebihan. Ia mengingatkan agar para pemimpin dan aktivis berani mengatakan “cukup,” menetapkan batas sehat, dan tidak beramal dari rasa bersalah. Dalam Islam, amal yang tulus bukanlah paksaan diri, melainkan kesadaran untuk memberi sesuai kemampuan. (Red – tentunya diperlukan lebih banyak tangan agar beban sosial/beban dakwah lebih bisa dibagi apabila semakin banyak yang mau memanggul beban).

Mengenali tanda-tanda awal

Tanda-tanda burnout mudah diabaikan karena sering dianggap “biasa.” Kelelahan berkepanjangan, kehilangan minat, gangguan tidur, rasa sinis, dan keletihan hati adalah sinyal bahwa jiwa butuh istirahat. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Hati pun bisa lelah sebagaimana tubuh. Maka hiburlah ia dengan hikmah.” Kalimat ini sejalan dengan prinsip psikologi modern tentang perlunya mental refresh.

Para ulama klasik juga menulis bahwa emosi ekstrem—seperti kesedihan mendalam atau kecemasan berlebih—bisa melemahkan tubuh dan mematikan semangat. Al-Balkhi menegaskan pentingnya tawaṣut (moderasi) dalam semua aspek jiwa. Orang yang memahami bahwa hidup memang penuh ujian akan lebih tahan terhadap stres, karena ekspektasinya realistis.

Dr. Franchesca menutup dengan refleksi bahwa obsesi produktivitas—bahkan dalam aktivitas spiritual—dapat merusak keseimbangan batin. Banyak orang menghitung ibadah seperti menghitung target kerja: berapa kali khatam, berapa rakaat, berapa jam belajar. Padahal, kualitas lebih utama daripada kuantitas. Dalam Islam, yang dinilai bukan seberapa banyak seseorang berbuat, melainkan seberapa ikhlas dan seimbang ia menjalaninya.

Burnout, kata Dr. Franchesca, adalah panggilan lembut untuk berhenti, menata ulang, dan kembali ke keseimbangan (mizan). Islam tidak menuntut manusia menjadi sempurna, hanya untuk hidup dengan sadar (self-awareness) menjaga ritme antara dunia dan akhirat, kerja dan istirahat, produktivitas dan makna. Menjaga diri bukan egois, tetapi bagian dari amanah, agar bisa terus menjadi pribadi yang bermanfaat, sehat, dan damai.