Dalam kuliah publiknya yang berjudul The Value of Everything – Making and Taking in the Global Economy, Prof. Mariana Mazzucato, ekonom dari University College London (UCL), membuka dengan kisah klasik dari Big Bill Haywood, pendiri serikat buruh pertama di Amerika Serikat. Haywood pernah berkata pada tahun 1929, “The barbarous gold barons didn’t find the gold, didn’t mine the gold, didn’t mill it, but somehow all the gold belongs to them.” “Para baron emas yang kejam itu tidak menemukan emas, tidak menambangnya, tidak memurnikannya, tapi entah bagaimana semua emas itu jadi milik mereka. Bagaimana bisa?”
Dari kutipan itu, Mazzucato menyoroti sihir ekonomi modern yang membuat mereka yang tidak menciptakan apapun justru menjadi pemilik kekayaan terbesar. Ia menyebut fenomena ini sebagai the alchemy of value, sihir yang membingungkan masyarakat dalam membedakan antara mereka yang benar-benar make value dan mereka yang hanya take value.
Menurut Mazzucato, persoalan besar kapitalisme modern adalah kaburnya batas antara pencipta nilai (value creator) dan pengambil nilai (value extractor). Ia mencontohkan dua tokoh yang sama-sama gelisah terhadap fenomena ini. Pertama, Ed Miliband, pemimpin Partai Buruh Inggris, pernah menyerukan perlunya membangun “a more productive, less predatory capitalism” — kapitalisme yang menekankan produksi nyata daripada perburuan keuntungan. Kedua, Larry Fink, CEO dari BlackRock, perusahaan investasi terbesar dunia, menulis surat terbuka kepada para CEO global, menegur praktik value extraction yang membuat perusahaan lebih fokus pada harga saham dan share buybacks ketimbang investasi jangka panjang. Melalui dua contoh itu, Mazzucato menunjukkan bahwa baik politisi maupun kapitalis sendiri mulai menyadari ada sesuatu yang salah: ekonomi kita semakin dikuasai oleh para takers, bukan makers.
Untuk menjelaskan akar kebingungan ini, Mazzucato memperkenalkan konsep yang disebutnya production boundary — garis batas yang memisahkan aktivitas produktif dari yang tidak produktif. Pada masa lalu, batas ini diperdebatkan dengan tajam. Bangsawan, pedagang, buruh, dan pemilik modal semua ingin diakui sebagai “produktif.” Tetapi kini, karena teori nilai jarang diajarkan atau diperdebatkan, hampir setiap aktivitas ekonomi bisa diklaim sebagai penciptaan nilai. Ia menyoroti pernyataan Lloyd Blankfein, CEO Goldman Sachs, yang berkata bahwa para pekerjanya adalah “the most productive in the world.” Pernyataan itu, kata Mazzucato, adalah contoh sempurna dari logika melingkar (tautological thinking): seseorang dianggap produktif karena kaya, dan kaya karena dianggap produktif. Ironisnya, sektor finansial seperti Goldman Sachs justru menjadi pemicu krisis 2008 — namun tetap menganggap diri mereka pahlawan produktivitas. Ia juga menyinggung budaya Silicon Valley yang senang mendeklarasikan misi moral seperti “Don’t be evil”, padahal perusahaan-perusahaan teknologi raksasa sering kali lebih banyak mengekstraksi nilai daripada menciptakannya.
Selanjutnya, Mazzucato menelusuri kembali sejarah teori ekonomi untuk menunjukkan bagaimana kita sampai pada situasi ini. Pada abad ke-17, para merkantilis (mercantilists) percaya bahwa nilai diciptakan melalui perdagangan dan neraca ekspor-impor, seperti dalam Navigation Acts Inggris tahun 1651. Kemudian, para fisiokrat (physiocrats) Prancis seperti François Quesnay dan Anne Turgot menyatakan bahwa nilai sejati berasal dari tanah dan kerja pertanian (farm labor). Mereka bahkan membuat Tableau Économique — semacam Excel sheet pertama — untuk melacak aliran nilai pertanian dalam ekonomi. Di abad ke-18 dan ke-19, ekonom klasik (classical economists) seperti Adam Smith, David Ricardo, dan Karl Marx menempatkan kerja manusia di pusat teori nilai. Smith dalam The Wealth of Nations menggunakan contoh pin factory untuk menunjukkan bagaimana division of labor meningkatkan produktivitas, sementara Marx memperkenalkan konsep surplus value — nilai lebih yang diciptakan buruh tetapi diambil oleh pemilik modal.
Namun, sejak munculnya ekonomi neoklasik (neoclassical economics), fokus berpindah dari produksi ke konsumsi. Nilai tidak lagi ditentukan oleh kerja dan teknologi, tetapi oleh preferences dan utility individu. Akibatnya, seperti yang dikatakan Mazzucato, “price now determines value, not the other way around.” Nilai kehilangan makna objektifnya dan berubah menjadi sekadar pantulan harga pasar.
Kekeliruan ini tampak jelas dalam cara kita menghitung GDP (Gross Domestic Product). Sebelum 1970, hanya fees atau biaya jasa nyata yang masuk dalam GDP — misalnya, biaya bank untuk mengurus hipotek. Tetapi setelah revisi akuntansi nasional, selisih bunga (net interest payments) juga dihitung sebagai “financial intermediation services,” sehingga laba finansial yang bersifat spekulatif pun dianggap produktif. “Instead of asking whether something creates value,” kata Mazzucato, “we just ask what its price is.” Akibatnya, sektor keuangan terlihat seolah pencipta nilai besar, padahal sering kali hanya melakukan rent-seeking — memperoleh keuntungan tanpa menciptakan barang atau jasa baru.
Ia kemudian memberikan contoh nyata dari dunia bisnis modern. Pertama, share buybacks — perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri untuk menaikkan harga saham dan bonus eksekutif, bukan untuk berinvestasi pada riset atau pekerja. Di Amerika Serikat, banyak korporasi besar menghabiskan lebih dari 100% laba bersihnya untuk buybacks dan dividends. Kedua, value-based pricing di industri farmasi, di mana harga obat ditentukan oleh seberapa besar pasien menghargainya, bukan oleh biaya riset (R&D cost). “Imagine your child is dying,” ujar Mazzucato, “the value of that drug could be infinite.” Ia juga mengutip laporan Goldman Sachs yang secara sinis menyatakan, “Curing patients is a bad business model,” karena perusahaan tidak mendapat keuntungan dari pasien yang sembuh. Ketiga, ia menyoroti Apple, yang di masa Steve Jobs berinvestasi besar dalam desain dan inovasi, tetapi di bawah Tim Cook lebih banyak menggunakan dana kasnya untuk financial engineering melalui share buybacks. Semua ini, kata Mazzucato, menunjukkan bahwa ekonomi modern lebih memberi penghargaan pada pengambil nilai dibanding pencipta nilai.
Selanjutnya Mazzucato membahas peran negara (the state) yang sering diremehkan. Ia menolak pandangan bahwa pemerintah hanya sekadar pengatur atau redistributor. Negara, menurutnya, adalah co-creator of value bersama sektor swasta dan masyarakat. Ia memberi contoh nyata: tanpa investasi publik, tidak akan ada Internet, GPS, atau touchscreen — semua teknologi yang kini menopang perusahaan seperti Facebook, Uber, dan Apple. “What would Facebook do without the Internet? What would Uber do without GPS?” tanyanya retoris. Namun, sistem akuntansi nasional justru menghitung kontribusi pemerintah hanya dari biayanya (cost), bukan dari nilainya (value). Maka, para pegawai negeri sering kali merasa tak berguna. “I walk in as an economist and walk out as a life coach,” ujarnya dengan humor, menggambarkan betapa rendahnya kepercayaan diri sektor publik akibat narasi ekonomi yang menyingkirkan mereka dari kategori “pencipta nilai.”
Dalam konteks digital economy, Mazzucato menjelaskan bahwa data is the new capital, tetapi data itu berasal dari masyarakat. Sayangnya, regulasi publik selalu datang terlambat — setelah nilai diambil oleh korporasi teknologi raksasa. Karena itu, ia mengusulkan model public data repositories, yaitu lembaga publik yang mengelola data kolektif sehingga perusahaan harus membayar dengan syarat tertentu untuk mengaksesnya. Ia juga mengkritik ide Universal Basic Income (UBI) yang sering diusung oleh Silicon Valley. “UBI assumes value is created in Silicon Valley, and government’s role is just to hand out money to those left behind by robots,” katanya. Menurutnya, warga seharusnya tidak diberi uang sekadar karena “ketinggalan,” tetapi harus diakui sebagai pencipta nilai bersama (co-creators of value) yang berhak atas public dividend dari hasil inovasi kolektif.
Menjelang akhir, Mazzucato mengutip Plato: “Storytelling enables rulers to rule.” Ia menegaskan bahwa siapa yang menguasai cerita tentang nilai, menguasai arah ekonomi. Selama kita percaya bahwa hanya bisnis yang menciptakan nilai dan pemerintah hanya mendistribusikan, maka kita akan terus salah memahami asal-usul kekayaan. Karena itu, menurut Mazzucato, tantangan terbesar bukan hanya memperbaiki kebijakan ekonomi, tetapi mengubah narasinya — dari price determines value kembali ke value determines price.
Mazzucato menawarkan paradigma mission-oriented capitalism — kapitalisme yang berorientasi pada tujuan sosial (public purpose). Ia mengingatkan bahwa proyek moon landing pada 1960-an melibatkan kolaborasi besar antara negara, universitas, dan sektor swasta dengan satu misi bersama. “Why can’t we have the same boldness today for our biggest challenges?” ujarnya. Ia mengajak masyarakat global menjadikan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai misi abad ke-21, seperti membersihkan lautan (SDG 14), menciptakan pekerjaan layak (SDG 8), dan energi bersih (SDG 7). Pemerintah, kata Mazzucato, harus berhenti “picking winners” dan mulai “crowding in the willing” — mengundang semua pihak yang mau berkontribusi untuk tujuan bersama.
Ia menutup dengan kalimat yang menjadi pesan moral seluruh kuliahnya: “As long as we think value is created only in business and government just redistributes it, we’ll keep misunderstanding the origins of wealth.” Mazzucato menegaskan bahwa membangun ekonomi yang adil dan berkelanjutan bukan semata soal pajak atau redistribusi, melainkan soal mengubah narasi dasar ekonomi. Kita harus berpindah dari taking ke making, dari profit ke purpose, dan dari price ke value.