Bagaimana Menghentikan Perilaku Self-Sabotaging (Merusak Diri)

Dalam percakapan yang mendalam ini, Dr. Gabor Maté menjelaskan bahwa hampir semua perilaku merusak diri atau self-sabotaging habits berakar pada masa kecil, bukan sebagai kesalahan pribadi, melainkan sebagai mekanisme bertahan hidup. Ia mengutip kalimat yang sering disampaikan dalam karyanya: “Anything that is ‘wrong’ with you began as a survival mechanism in childhood.” Menurutnya, kebiasaan yang kita anggap buruk—seperti kecanduan, kerja berlebihan, atau ketergantungan pada pengakuan orang lain—awalnya muncul untuk membantu kita bertahan dari rasa sakit emosional.

Dr. Maté menegaskan bahwa adiksi/kecanduannya itu sendiri bukan masalahnya, melainkan ‘solusi sementara’ bagi rasa sakit yang tidak terselesaikan. Misalnya, seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain (people pleaser) melakukannya karena pada masa kecil ia hanya diterima ketika membuat orang lain senang. Kebiasaan itu mungkin membuatnya diterima, tetapi juga menjauhkan dirinya dari kesejatian diri yang sebenarnya.

Dr. Maté kemudian menjelaskan banyak gangguan psikologis dan fisik bermula dari penekanan emosi sejak kecil. Ia menyoroti makna literal dari kata depression, yaitu “menekan ke bawah”. Banyak anak belajar menekan emosi marah, sedih, atau kecewa agar tetap diterima oleh orang tuanya. Namun, penekanan emosi ini kemudian menjadi dasar munculnya penyakit di usia dewasa—mulai dari depresi hingga penyakit autoimun. Dalam bukunya When the Body Says No, ia menemukan bahwa orang-orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain dan menekan amarahnya justru memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker. Ia menjelaskan bahwa menekan emosi juga berarti menekan sistem imun, karena tubuh dan emosi merupakan satu kesatuan.

Ketika membahas penyakit serius seperti kanker, Dr. Maté menyebut bahwa kanker sering kali menjadi “a wake up call”—sebuah kesempatan bagi seseorang untuk menyadari bahwa selama ini ia telah mengabaikan dirinya sendiri. Ia merujuk pada penelitian Dr. Jeffrey Rediger dari Harvard tentang pasien-pasien yang mengalami kesembuhan spontan (spontaneous remission). Mereka sembuh bukan karena pengobatan ajaib, tetapi karena mengubah hubungan dengan diri sendiri: mereka mulai hidup dengan lebih otentik dan tidak lagi menekan kebutuhan emosional mereka. Dalam pandangan Maté, kanker memang mengancam kehidupan fisik, tetapi bagi sebagian orang, ia justru memunculkan kelahiran kembali atas jati diri yang sejati.

Lebih jauh, ia menceritakan pengalaman pribadinya yang penuh trauma sejak lahir. Ia tumbuh di Budapest saat Nazi menginvasi Hungaria. Ibunya yang ketakutan harus menyerahkannya kepada orang asing agar ia selamat. Sejak bayi, ia hidup dalam ketakutan dan kehilangan rasa aman. Puluhan tahun kemudian, saat mengikuti ritual penyembuhan di Amazon, para tabib yang tak mengenalnya mengatakan, “Ketika kamu kecil, kamu mengalami ketakutan besar, dan kamu belum pulih dari itu.” Ia menyadari bahwa rasa takut itu masih hidup dalam dirinya—terwujud dalam sifat perfeksionis, kecanduan kerja, dan kesulitan untuk sepenuhnya hadir secara emosional bagi anak-anaknya.

Namun, Dr. Maté menolak pandangan bahwa semua ini salah orang tua. Ia menekankan bahwa tidak ada orang tua yang secara sengaja merusak anaknya. Trauma adalah warisan yang diturunkan tanpa disadari, bukan karena niat buruk, tetapi karena kurangnya kesadaran. Ia mengingatkan, “Trauma bukan kesalahan kita, tapi menjadi tanggung jawab kita untuk menyembuhkannya.” Orang tua yang dulu merasa tidak diinginkan akan cenderung bekerja keras untuk membuktikan diri agar diakui, lalu anak-anak mereka tumbuh dengan perasaan yang sama: merasa diabaikan karena orang tuanya selalu sibuk. Begitulah siklus trauma berulang lintas generasi.

Trauma, menurut Maté, bukan hanya peristiwa besar seperti perang atau kekerasan fisik. Anak-anak juga bisa terluka hanya karena tidak didengarkan, tidak dipeluk, atau tidak dirayakan sebagai diri mereka yang autentik. Bahkan, ketika anak sedang marah lalu dihukum dengan time out, ia belajar bahwa kemarahannya tidak diterima, dan bahwa cinta bisa dicabut sewaktu-waktu. Inilah bentuk-bentuk trauma kecil yang sangat umum di masyarakat modern—luka akibat kehilangan hubungan yang tulus dan aman.

Dr. Maté kemudian menyoroti bahwa sistem sosial modern turut berperan besar dalam menciptakan trauma dan kebiasaan merusak diri. Ia menyebut bahwa budaya modern saat ini bekerja dengan elegan tapi sesungguhnya ironis, sebab sistem sosial modern menciptakan berbagai stres dan sekaligus menjual solusi untuk meredakan stres, dobel profit. Industri makanan cepat saji, misalnya, dengan sadar meracik kombinasi gula, garam, dan lemak agar orang kecanduan. Industri farmasi menjual obat-obatan seperti OxyContin dengan klaim palsu bahwa obat itu aman, meski mereka tahu risikonya. Bahkan perusahaan energi dan rokok pun memanipulasi sains demi keuntungan. “Sistem seperti ini bekerja dengan elegan,” kata Dr. Mate, “ia menciptakan stres dan kemudian mencari untung dari stres yang diciptakannya sendiri.”

Salah satu bagian paling menyentuh dalam percakapan ini adalah ketika Dr. Maté bercerita tentang pertengkaran dengan istrinya. Suatu kali, ia marah besar hanya karena sang istri terlambat menjemput di bandara, lalu memilih diam selama berjam-jam. Ia kemudian sadar bahwa kemarahannya bukan karena keterlambatan itu, tetapi karena pola lama: rasa takut ditinggalkan yang berasal dari masa bayi. Ia berkata, “Ketika aku berada dalam keadaan emosional yang intens, hampir pasti itu bukan tentang masa kini, melainkan tentang masa lalu.” Untuk menghadapi momen-momen seperti ini, ia menganjurkan metode RAIN dari Tara Brach: Recognize (sadari emosi yang muncul), Allow (izinkan emosi itu ada), Investigate (selidiki asalnya), dan Nurture (peluk bagian diri yang terluka).

Ia juga menegaskan bahwa kepribadian bukanlah diri sejati seseorang. Banyak orang menganggap sifatnya yang “baik”, “penurut”, atau “penolong” sebagai karakter bawaan, padahal semua itu hanyalah strategi bertahan hidup dari masa kecil. Anak yang dulu hanya dicintai ketika bersikap manis akan tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. “Kepribadianmu hanyalah mekanisme koping, bukan dirimu yang sejati,” ujarnya. Maka, pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri adalah: Jika aku bukan kepribadianku, siapa aku sebenarnya? (pentingnya Self Awareness -red.)

Dr. Maté memperluas pandangannya ke tingkat sosial masyarakat. Dalam bukunya The Myth of Normal: Illness and Health in an Insane Culture, ia menyebut bahwa apa yang kita anggap “normal” di dunia modern sebenarnya abnormal bagi kebutuhan manusia yang sebenarnya. Ia mengutip data bahwa 70 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi obat setiap hari. Ini bukan tanda kesehatan, melainkan bukti bahwa masyarakat kita menciptakan stres yang sistemik. Ia berkata, “Kita bukanlah makhluk yang rusak hidup di dunia yang sehat. Kita adalah makhluk sehat yang hidup di dunia yang rusak.”

Dr. Gabor Maté menyimpulkan bahwa penyembuhan yang sebenarnya (true healing) bukan tentang menghapus masa lalu, tetapi menyadarinya dengan penuh kasih. Pemulihan (recovery) berarti “menemukan kembali sesuatu yang hilang”—yaitu diri kita yang sejati. Terakhir Dr. Mate berpesan “The task is not yours to finish, but neither are you free not to take part in it.” Kamu mungkin tidak bisa menyelesaikan tugas memperbaiki dunia, tapi kamu juga tidak bebas untuk tidak berpartisipasi. Artinya, mari berusaha memperbaiki keadaan, sekecil apapun upayanya.