8 dari 10 Penderita Autoimun adalah Perempuan, Penjelasan Dr.Gabor Mate tentang hubungan antara Penyakit Fisik, Pikiran, dan Sosial

Dalam podcast “When the Body Says No: The Unlikely Link Between Stress, Trauma & Disease” Dr. Gabor Maté membuka percakapan dengan sebuah kalimat yang sederhana, “The body says no when the mind cannot.” Tubuh akan berkata tidak ketika pikiran sudah terlalu lama dipaksa untuk berkata ya.

Dr. Gabor Maté mengatakan kalimat itu bukan dari teori, tetapi dari pengamatan selama puluhan tahun menjadi dokter keluarga dan bekerja di rumah perawatan pasien kanker. Di sana, Dr.Maté melihat pola yang begitu jelas namun jarang dibicarakan. Banyak pasiennya bukan hanya sakit karena faktor medis. Mereka sakit karena terlalu lama hidup menentang diri sendiri.

Ketika Kebaikan Menjadi Beban

Salah satu pasien pertamanya adalah seorang perempuan muda yang menderita kanker payudara. Ia dikenal di lingkungannya sebagai orang paling baik, paling lembut, dan paling menenangkan.
Ketika ia meninggal, keluarganya memujinya dengan kalimat yang sangat khas, “She was the nicest person you could ever meet — she never thought of herself.” Ga pernah mikirin dirinya sendiri.

Kalimat itu yang membuat Maté terpaku. Dr.Maté menyadari bahwa banyak pasiennya yang memiliki pola serupa — mereka tidak bisa marah, tidak bisa menolak, dan selalu menanggung beban orang lain.
Ia menyebutnya sebagai “the disease of being nice.” Mereka tidak pernah berkata tidak — jadi tubuh mereka yang akhirnya melakukannya.

Dalam salah satu ceramahnya, Dr.Maté juga menceritakan tentang Bertie, ayah Ratu Elizabeth II dalam serial The Crown. Sang raja dikenal sangat baik, lembut, dan tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Namun hidupnya berakhir dengan kanker paru-paru di usia muda. Dr Maté menyimpulkan: kasih sayang yang tak mengenal batas, jika tidak diimbangi dengan kasih kepada diri sendiri, berubah menjadi bentuk penolakan diri yang perlahan merusak tubuh.

Tubuh dan Pikiran Tidak Terpisah

Dalam dunia medis, kita sering berbicara seolah tubuh dan pikiran adalah dua hal berbeda, tubuh yang sakit urusan dokter, pikiran yang gelisah urusan terapis. Tapi bagi Dr. Maté, pemisahan itu ilusi. Ia berkata, “Your immune system and your emotional system are not even separate systems. They are one.”

Dr.Maté menjelaskan bahwa kekesalan/amarah/penolakan yang sehat sebenarnya berfungsi seperti sistem kekebalan tubuh. Ia menjaga batas, mengatakan “ini wilayahku, jangan langgar.” Namun ketika seseorang belajar sejak kecil bahwa menolak, marah itu salah, tubuh kehilangan mekanisme pertahanannya. Sistem imun pun kebingungan — dan mulai menyerang diri sendiri. Begitulah cara penyakit autoimun lahir.

Dr. Maté menceritakan kisah Valentina, seorang perempuan muda dengan lupus berat. Wajahnya ditutupi ruam berbentuk kupu-kupu, jari-jarinya memutih karena gangguan sirkulasi. Dokternya berkata penyakit itu tidak bisa disembuhkan; obat hanya untuk mengendalikan gejala seumur hidup. Tapi setelah memahami hubungannya dengan diri sendiri — berhenti menekan emosi, belajar menolak dengan lembut, dan mulai mendengar tubuhnya — Valentina perlahan membaik. Empat tahun kemudian, ia berhenti memakai obat, dan warna kulitnya kembali normal. Bagi Dr. Maté, kesembuhan itu bukan keajaiban medis, tapi hasil dari proses penyadaran emosional. “When she stopped ignoring her own needs, her body stopped attacking her.”

Mengapa Lebih Banyak Perempuan yang Sakit

Dr. Maté menunjukkan fakta mencolok: delapan dari sepuluh penderita penyakit autoimun adalah perempuan. Bukan karena biologi, katanya, tetapi karena budaya patriarki. Perempuan diajarkan sejak kecil untuk mengasuh, memaafkan, menenangkan, dan menanggung.
Mereka menjadi penyerap stres keluarga — suami, anak, orang tua — semuanya ditanggung dalam diam.

Ia memberi contoh pasiennya, seorang ibu yang selalu menenangkan semua orang di rumah: anak-anaknya yang berkelahi, suaminya yang murung, bahkan ibunya yang keras. Ia selalu tampak sabar dan kuat. Tapi tubuhnya akhirnya tidak sanggup menahan lagi — ia terserang kanker rahim. “Her body,” kata Maté, “finally said no to a lifetime of yeses.”

Perempuan seperti ini tidak pernah kehilangan cinta; mereka kehilangan diri sendiri di dalam cinta. Dan itu, menurut Maté, adalah bentuk stres paling berbahaya.

Trauma Masa Kecil dan Gen yang Tertidur

Trauma, bagi Dr. Maté, bukan hanya peristiwa buruk. Kadang, trauma adalah ketiadaan sesuatu yang kita butuhkan — belaian, penerimaan, rasa aman. Ia menceritakan seorang pasien pria yang sejak kecil hidup dengan ayah pemarah. Setiap kali ayahnya pulang mabuk, ibunya menyuruhnya diam agar tidak memancing amarah. Anak itu belajar bertahan dengan cara menekan suara dan perasaannya. Puluhan tahun kemudian, ketika ia didiagnosis multiple sclerosis, Maté melihat kembali pola yang sama: tubuhnya kini “membisu” dengan cara biologis.

“Multiple Scheloris is the disease of people who cannot say no,” kata Dr. Maté. Dan ia menjelaskan bahwa gen hanyalah potensi, bukan nasib. Trauma masa kecillah yang “menyalakan” gen-gen tertentu — termasuk gen stres dan peradangan.

Cara Menuju Healing

Ketika ditanya tentang cara sembuh, Dr. Maté menolak jawaban sederhana. Ia tidak menawarkan obat ajaib, tetapi cara hidup baru.
Penyembuhan, katanya, dimulai dari keberanian untuk mendengarkan tubuh dan mempercayai pesannya. Untuk pertama kalinya, seseorang harus berani berhenti menyenangkan semua orang dan mulai memelihara dirinya sendiri.

Ia mengajarkan beberapa langkah sederhana tapi dalam:

  • belajar mengenali perasaan tanpa menghakimi;
  • berbicara dengan jujur tentang kebutuhan pribadi;
  • memeluk diri yang dulu terluka dengan kasih;
  • dan menemukan makna baru dalam hubungan, bukan melalui pengorbanan, tapi melalui kehadiran.

Kadang, katanya, orang baru benar-benar berubah ketika tubuh memaksanya berhenti. Penyakit bisa menjadi “pintu kebenaran” — bukan hukuman, tetapi panggilan untuk kembali hidup secara autentik (kembali pada fitrah, red).

Healing Antar Generasi

Dr. Maté tidak berbicara teori semata. Ia sendiri pernah jatuh ke dalam luka yang sama. Sebagai anak Yahudi yang lahir di Budapest pada masa Nazi, ia menghabiskan tahun pertamanya dipisahkan dari ibunya yang harus bersembunyi untuk bertahan hidup. Ketika ia menangis sebagai bayi, tidak ada yang datang. Ia belajar sangat dini bahwa tangisan tidak membawa pertolongan. Dari situlah ia mengerti: trauma tidak dimulai dengan niat jahat, tetapi dengan kehilangan kehangatan manusia.

Ia kemudian menceritakan bagaimana ia pernah menampar anaknya karena stres, dan menyadari bahwa kemarahan itu adalah gema dari luka masa kecilnya sendiri. Pengakuan itu menjadi titik balik. Ia berkata, “We all hurt our children without meaning to. But every generation can heal a little more.”

Penyembuhan, dalam pandangannya, bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, tetapi tentang menjadi orang tua yang sadar.

Ketika Tubuh Tak Perlu Lagi Berteriak

Di akhir pembicaraan, Dr. Maté mengajak kita untuk berhenti memandang penyakit sebagai musuh. Ia berkata, “Disease is not an entity you have; it is a process that manifests your life.” Penyakit bukan benda yang datang dari luar, tapi proses yang mencerminkan bagaimana kita hidup, berpikir, dan mencintai.

Ketika tubuh berkata tidak, sebenarnya ia sedang menyampaikan kebenaran yang tidak lagi bisa ditahan. Kebenaran bahwa kita sudah terlalu lama menolak sinyal dari diri sendiri demi diterima orang lain. Kebenaran bahwa cinta sejati tidak berarti menyerah pada semua hal, tetapi belajar menjaga diri tanpa rasa bersalah.

“Healing,” ujarnya, “is not about perfection. It’s about connection — to yourself, to others, and to life.” Dan ketika hubungan itu pulih — antara tubuh dan jiwa, antara masa lalu dan masa kini — tubuh tak perlu lagi berteriak. Karena akhirnya, suara kita sendiri sudah kembali terdengar.

Menutup wawancara, Dr. Maté mengutip kisah Pinocchio. Selama trauma masih mengendalikan kita, katanya, kita hanyalah boneka kayu yang ditarik oleh benang tak terlihat dari masa lalu. Proses penyembuhan adalah perjalanan menjadi “anak manusia” — makhluk sadar yang mampu memilih, mencintai, dan menolak dengan jujur.

Dr. Maté menutup dengan pesan mendalam: “Kita tidak bisa menyembuhkan luka yang tidak kita sadari. Tapi begitu kita berani melihatnya, kita mulai bebas. Tubuh berbicara untuk jiwa yang lama dibungkam. Ketika kita belajar mendengarkan, barulah kita benar-benar hidup.”