Ringkasan Buku Joel Mokyr: The Lever of Riches. Tuas Pengungkit Kemakmuran

Meskipun saat ini dunia Barat — baik Eropa maupun Amerika Serikat — sedang menghadapi beragam tantangan serius yang dapat menggerus kejayaannya, seperti krisis energi, inflasi global, kesenjangan sosial, hingga disrupsi teknologi dan geopolitik, gagasan Joel Mokyr dalam The Lever of Riches yang terbit pada tahun 1990 tetap memberikan pelajaran yang cukup relevan. Pertama kali saya mengenal karyanya adalah tahun 2009 ketika S2, dan buku ini menjadi salah satu bacaan wajib untuk mata kuliah The Modern Society in Transition (Prof. Johan Schot).

Joel Mokyr adalah sejarawan ekonomi dan profesor di Northwestern University yang dikenal luas atas pemikirannya mengenai hubungan antara inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia menerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2025 atas jasanya mengidentifikasi prasyarat terjadinya pertumbuhan berkelanjutan melalui kemajuan teknologi. Mokyr mengingatkan bahwa kemakmuran suatu bangsa tidak pernah ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang dimilikinya, tetapi oleh sejauh mana bangsa itu mampu menumbuhkan dan mengelola kreativitas teknologi.

Joel Mokyr dalam bukunya berusaha menjawab pertanyaan fundamental dalam sejarah ekonomi: mengapa sebagian bangsa menjadi kaya sementara yang lain tetap miskin, dan bagaimana peran teknologi dalam proses tersebut. Mokyr berargumen bahwa kemajuan teknologi adalah mesin utama (atau “tuas pengungkit”) pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Buku ini menelusuri sejarah teknologi dari zaman klasik hingga Revolusi Industri, dengan fokus pada Eropa, untuk memahami akar dari “keajaiban” pertumbuhan ekonomi modern.

Dalam Bagian I pembukaan, Joel Mokyr memperkenalkan sebuah kerangka konseptual untuk memahami sifat inovasi teknologi. Ia membedakan secara tegas antara dua jenis penemuan. Pertama adalah Penemuan/Invensi Makro (Macroinventions), yang merupakan terobosan teknologi radikal dan langka yang menciptakan paradigma sama sekali baru; contohnya adalah penemuan mesin uap, mesin cetak, atau kincir air. Penemuan semacam ini seringkali bersifat tidak terduga, sulit diprediksi, dan tampak muncul secara acak dalam sejarah.

Di sisi lain, terdapat Penemuan/Invensi Mikro (Microinventions), yang merupakan serangkaian perbaikan bertahap, optimasi, dan penyempurnaan yang diterapkan pada suatu invensi makro. Proses ini bersifat kumulatif, lebih dapat diprediksi, dan sering kali secara langsung didorong oleh insentif ekonomi dan kebutuhan praktis untuk meningkatkan efisiensi, keandalan, dan daya guna suatu teknologi. Mokyr berargumen bahwa kombinasi sinergis dari kedua bentuk penemuan inilah—di mana lompatan besar imajinasi radikal diikuti oleh penyempurnaan bertahap secara terus-menerus —yang pada akhirnya menjadi mesin pendorong utama kemajuan teknologi yang berkelanjutan.

Dalam Bagian II bukunya yang membahas warisan klasik dan abad pertengahan, Mokyr membandingkan dua era dengan dinamika teknologi yang bertolak belakang. Dalam Dunia Klasik (Yunani dan Romawi), Mokyr berpendapat bahwa meskipun masyarakat tersebut memiliki kemampuan teknis yang mengesankan, seperti yang tercermin dalam mekanisme Antikythera (alat mekanik kuno untuk astronomi) dan pencapaian arsitekturnya yang luar biasa, mereka pada akhirnya mengalami stagnasi teknologi.

Penyebab utama kemandekan ini adalah ketergantungan ekonomi pada perbudakan, yang menghilangkan insentif untuk mengembangkan teknologi penghemat tenaga kerja (efisiensi), di samping tidak adanya hak paten untuk melindungi inovasi serta pandangan filosofis yang memandang rendah kerja manual (“Greek and Roman elites glorified knowledge but despised its practical application.”). Dalam masyarakat kuno itu, kegiatan fisik dianggap tidak bermartabat dan hanya layak dilakukan oleh budak, sementara kegiatan berpikir, berfilsafat, dan berpolitik dipandang sebagai aktivitas mulia warga bebas. Para filsuf seperti Aristoteles menegaskan bahwa pekerjaan tangan menghalangi seseorang untuk mencapai kebajikan intelektual, sehingga muncul pemisahan tajam antara “tahu” (knowing) dan “melakukan” (doing). Akibat pandangan tersebut, pengetahuan ilmiah di dunia Yunani-Romawi tidak berkembang menjadi inovasi teknologis yang berdampak pada produktivitas ekonomi.

Mokyr menegaskan bahwa meskipun ilmuwan seperti Archimedes dan Hero of Alexandria memahami prinsip-prinsip mekanika, mereka tidak tertarik menerapkannya untuk tujuan praktis, karena aktivitas teknis dianggap rendah. Ketika Eropa modern kemudian menghapus batas antara ilmu dan kerja manual melalui semangat eksperimen dan kolaborasi antara ilmuwan dan pengrajin, terjadilah lompatan teknologi besar dalam Revolusi Industri. Jadi budaya yang merendahkan kerja manual telah menjadi salah satu penyebab utama stagnasi teknologi di dunia kuno.

Abad Pertengahan Eropa justru digambarkan Mokyr sebagai periode yang sangat kreatif, di mana Eropa mengalami semacam “revolusi teknologi” kecil. Kemajuan ini ditandai dengan serangkaian penemuan penting seperti kincir air dan kincir angin yang memanfaatkan kekuatan alam, sistem rotasi tiga lahan dalam pertanian yang meningkatkan produktivitas pangan, sanggurdi yang merevolusi taktik berkuda dalam peperangan, serta kemajuan signifikan dalam pembuatan jam yang mengajarkan presisi mekanis.

Mokyr menghubungkan lonjakan kreativitas ini dengan struktur sosial Eropa yang terdesentralisasi pasca keruntuhan Romawi, kondisi kelangkaan tenaga kerja akut pasca Wabah Hitam yang mendorong inovasi, serta munculnya budaya yang mulai menghargai mekanika dan seni terapan, sehingga menciptakan lingkungan yang subur bagi kemajuan teknologi.

Dalam Bagian III Mokyr membahasa China dan Eropa, diantaranya salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah ekonomi, yang dikenal sebagai “The Great Divergence”—mengapa China, yang selama berabad-abad jauh lebih maju secara teknologi daripada Eropa dengan penemuan-penemuan fundamental seperti kertas, mesiu, kompas, dan pencetakan blok (block printing), justru akhirnya tertinggal dan tidak melahirkan Revolusi Industri.

Mokyr menjelaskan paradoks ini dengan melihat struktur politik dan sosial kedua peradaban. Di China, sistem politik yang terpusat dan birokratis menjadi pedang bermata dua. Kemajuan teknologi sangat bergantung pada selera dan dukungan dari kekaisaran. Ketika negara, atas pertimbangan politik atau ekonomi, memutuskan untuk menghentikan eksplorasi lebih lanjut—seperti yang terjadi secara dramatis dengan armada laut Zheng He—maka seluruh peradaban kehilangan momentum inovasinya karena tidak ada pusat inovasi alternatif yang independen dari negara.

Sebaliknya, di Eropa, fragmentasi politik yang sering dilihat sebagai kelemahan justru berubah menjadi keunggulan komparatif yang menentukan. Seorang inovator atau pemikir yang ditolak di satu kerajaan dapat dengan mudah mencari perlindungan dan dukungan di kerajaan atau negara-kota tetangga. Persaingan sengit antar kerajaan, baik dalam bidang militer maupun ekonomi, menciptakan permintaan terus-menerus terhadap teknologi baru. “Anarki” politik Eropa ini, tanpa adanya otoritas tunggal yang dapat mematikan seluruh proses inovasi, menciptakan sebuah ekosistem yang jauh lebih tahan banting dan kompetitif, di mana gagasan-gagasan baru memiliki ruang untuk bertahan, berevolusi, dan akhirnya berkembang.

Dalam Bagian IV tentang Revolusi Industri di Inggris, Mokyr melakukan analisis mendalam mengenai mengapa Inggris menjadi tempat kelahiran Revolusi Industri pada abad ke-18 (padahal pemikir, ilmuwan, filsuf lebih banyak di Jerman, Belanda, Perancis atau Eropa daratan). Analisisnya menekankan bahwa keberhasilan Inggris tidak semata-mata disebabkan oleh penemuan tunggal seperti mesin uap James Watt—yang meskipun revolusioner sebagai sebuah macroinvention—tetapi lebih pada konteks sosial, ekonomi, dan institusional yang unik yang membentuk sebuah lingkungan yang “ramah inovasi”.

Mokyr mengidentifikasi beberapa faktor kunci yang bersinergi: pertama, pengaruh Budaya Pencerahan yang menanamkan keyakinan pada sains dan rasionalitas sebagai alat untuk memajukan masyarakat; kedua, adanya institusi yang mendukung seperti hak properti yang kuat, sistem paten yang melindungi hak cipta inventor, dan pasar modal yang berkembang untuk mendanai usaha-usaha baru; ketiga, insentif ekonomi yang spesifik, dimana upah buruh yang relatif tinggi mendorong para industrialis untuk mengadopsi mesin-mesin penghemat tenaga kerja; dan keempat, ketersediaan sumber daya alam, terutama batu bara yang melimpah, sebagai bahan bakar untuk industri baru tersebut.

Mokyr menegaskan bahwa Revolusi Industri pada hakikatnya adalah hasil dari akumulasi ratusan invensi mikro—penyempurnaan, modifikasi, dan perbaikan bertahap—yang terus-menerus menyempurnakan terobosan makro awal, sebuah proses yang hanya mungkin terjadi dalam ekosistem yang secara komprehensif mendorong dan menghargai inovasi teknologi.

Dalam Bagian V tentang Teknologi dan Kemunduran, Mokyr meneliti mengapa beberapa peradaban yang unggul pada masa itu justru gagal mengadopsi dan memanfaatkan teknologi baru, sehingga akhirnya relatif mengalami kemunduran. Analisis ini difokuskan pada dua studi kasus utama: Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Kekaisaran Ottoman.

Mokyr berargumen bahwa Bizantium, meskipun mewarisi pengetahuan dan prestasi teknik yang canggih dari Romawi, justru menjadi korban dari warisannya sendiri. Kekaisaran ini terlalu terpaku pada struktur klasik dan tradisi, menunjukkan resistensi yang dalam terhadap perubahan, dan pada akhirnya tidak mampu menanggapi secara efektif dinamisme serta inovasi teknologi dari pesaing-pesaingnya.

Sementara itu, Kekaisaran Ottoman dianalisis oleh Mokyr sebagai sebuah kasus di mana struktur politik dan sosial yang sangat kuat justru menghambat inovasi. Mokyr berargumen bahwa negara Ottoman yang sangat terpusat dan birokratis memandang stabilitas politik dan sosial sebagai prioritas tertinggi. Dalam sistem seperti ini, inovasi teknologi—terutama yang dapat mengganggu keseimbangan ekonomi dan sosial—sering dilihat sebagai ancaman potensial. Negara memiliki kepentingan langsung untuk melindungi basis pajaknya yang ada dan industri tradisional yang telah mapan. Oleh karena itu, otoritas pusat cenderung bersikap curiga dan secara pasif menghambat perubahan teknologis yang dapat mengacaukan tatanan yang sudah ada.

Mokyr tidak berargumen bahwa Ottoman secara aktif menekan semua inovasi, melainkan bahwa lingkungan institusionalnya—yang ditandai dengan sentralisasi kekuasaan, kurangnya persaingan internal, dan prioritas pada stabilitas—tidak memberikan ruang atau insentif bagi kreativitas teknologis untuk berkembang secara organik seperti di Eropa. Dari sini, Mokyr menyimpulkan bahwa kemandekan teknologi Ottoman terutama disebabkan oleh faktor institusional dan politik, bukan oleh kurangnya kapasitas teknis atau kecerdasan.

Dalam Bagian VI mengenai pemahaman tentang pertumbuhan teknologi, Mokyr menyimpulkan bahwa kreativitas teknologi suatu masyarakat ditentukan oleh interaksi tiga kategori faktor yaitu:

  • Faktor Permintaan seperti tekanan populasi, kelangkaan sumber daya, dan permintaan pasar, yang akan menciptakan insentif ekonomi untuk berinovasi.
  • Faktor Penawaran berupa ketersediaan pengetahuan ilmiah dan keterampilan teknis, yang dapat menyediakan alat-alat intelektual dan praktis yang diperlukan.
  • Faktor Sosial dan Institusional merupakan faktor yang paling menentukan, karena faktor inilah yang memungkinkan atau justru menghalangi dua faktor lainnya untuk berperan. Faktor ini terdiri dari tiga elemen kunci:
    • pertama, elemen intelektual, yang mencakup Unity of Knowledge (keyakinan bahwa sains dan teknologi saling terkait) dan The Baconian Program (gagasan bahwa tujuan sains adalah untuk memajukan kondisi manusia melalui penemuan teknis);
    • kedua, elemen sosial, yang meliputi sikap elite (apakah para penguasa dan cendekiawan mendukung atau memandang rendah mekanika dan perdagangan) serta kualitas institusi (seperti hak properti yang kuat, sistem paten, persaingan politik, dan kebebasan untuk bereksperimen);
    • dan ketiga, Kemandirian Teknologi (Technological Autonomy), yaitu sejauh mana para praktisi teknologi (insinyur, pengrajin) dapat berkarya tanpa campur tangan atau penindasan dari kelompok sosial lain seperti birokrat atau pemimpin agama.

Menurut Mokyr, kombinasi yang sukses dari ketiga faktor inilah—terutama terciptanya lingkungan institusional yang mendukung otonomi dan menghargai inovasi—yang menjadi kunci kemajuan teknologi jangka panjang.